TribunJabar/

Onsen ala Jepang di Ujung Kabupaten Bandung yang Tersembunyi

TERSEMBUNYI di balik hamparan perkebunan teh dan hutan pakis, sebuah lembah kawah mengalirkan air panas layaknya sungai.

Onsen ala Jepang di Ujung Kabupaten Bandung yang Tersembunyi
tribunjabar/syarif abdusalam
Para pengunjung menikmati pancuran di Kawah Rengganis di Desa Patengan, Kecamatan Rancabali 

TRIBUNJABAR.CO.ID - TERSEMBUNYI di balik hamparan perkebunan teh dan hutan pakis, sebuah lembah kawah mengalirkan air panas layaknya sungai. Di ujung Kabupaten Bandung, tepatnya di Desa Patengan, Kecamatan Rancabali ini, aliran air panas tersebut ditata menjadi pancuran, sungai air panas, dan kolam alami laiknya onsen ala Jepang.

Kawah Rengganis atau yang biasa disebut Kawah Cibuni oleh masyarakat sekitarnya ini berlokasi tidak jauh dari Situ Patenggang. Mobil atau bus biasa diparkir di pinggiran jalan penghubung Bandung dengan Cianjur, sedangkan sepeda motor bisa masuk sampai ke lokasi kawah.

Dari jalan utama, sambil berjalan kaki kurang dari satu kilometer menuju kawah, pengunjung akan melewati hutan pakis dan pemandangan kebun teh. Jalan menuju kawah ini terlalu sempit sehingga hanya bisa dilalui sepeda motor atau dengan berjalan kaki.

Sesampainya di gerbang masuk kawah, sebuah lembah memanjang dengan bebatuan berwarna putih, cokelat, dan kekuningan, terlihat dari atas tebing. Untuk sampai di lembah itu, pengunjung harus berjalan menuruni tangga jalan setapak.

Semakin dekat dengan lembah, bau belerang yang tidak terlalu pekat mulai tercium. Asap uap air tampak keluar membumbung ke langit dari celah-celah bebatuan dan kolam-kolam air panas berdindingkan bebatuan. Di kolam dan sungai-sungai tersebut, para pengunjung berendam.

Ada juga sejumlah pancuran yang dipakai pengunjung untuk merefleksi bagian punggung. Jalan-jalan setapak dan jembatan bambu ditata apik sehingga bagus untuk dijadikan spot berfoto atau selfie.

Di salah satu kolam, pengunjung menggunakan lumpur berwarna abu-abu di dasar kolam sebagai masker wajah atau lulur tubuh. Mereka menggunakannya sambil berendam air panas. Sedangkan pengunjung lainnya hanya merendam kaki.

Pengunjung asal Kota Bandung, Windy Winanti (26), mengatakan awalnya hanya mengunjungi Kawah Rengganis untuk berfoto. Namun di tempat ini, Windy bisa ikut berendam, walau hanya merendam kakinya.

"Kalau ke kawah ini seharusnya siap-siap bawa baju ganti supaya bisa berendam. Pemandangannya bagus banget, bisa dinikmati sambil berendam air panas," kata Windy yang berkunjung bersama empat temannya tersebut di Kawah Rengganis, Kamis (5/1).

Menurut Windy, objek wisata ini tinggal ditata sedikit lagi, tinggal merapikan bagian kolam dan pipa. Dengan demikian, seluruh bagian kawah ini menjadi spot-spot yang bagus untuk berfoto.

Pengunjung lainnya asal Jakarta, Rialto (29), mengatakan sekalian ke Kawah Rengganis setelah mengunjungi Glamping Lakeside Rancabali. Objek wisata ini diketahuinya dari media sosial.

"Baru pertama kali ke kawah ini, tahunya dari teman yang tinggal di Belanda. Kawah ini cukup populer di luar negeri. Sekalian mengunjungi Ciwidey. Tiketnya juga termasuk murah Rp 12 ribu per orang," katanya.

Koordinator Agro Unit Rancabali, Awat Sutisna, mengatakan dalam sebulan, Kawah Rengganis dikunjungi sampai 4.000 pengunjung. Jumlah pengunjung melonjak setiap akhir pekan dan libur.

"Jumlah pengunjung masih terbatas karena area parkirnya belum ada. Kendaraan masih diparkir di pinggir jalan raya. Dibukanya sejak 2009 dan semakin ramai," katanya.(sam)

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help