Kampung Kuta, Tradisi Leluhur yang Tak Tergerus Zaman

KAMPUNG Kuta terletak sekitar 47 km dari Kota Ciamis. Jalannya cukup sempit berbelok-belok tajam, banyak turunan dan tanjakan

Kampung Kuta, Tradisi Leluhur yang Tak Tergerus Zaman
tribunjabar/andri m dhani
Suasana pedesaan di Kampung adat Kuta 

TRIBUNJABAR.CO.ID - KAMPUNG Kuta terletak sekitar 47 km dari Kota Ciamis. Jalannya cukup sempit berbelok-belok tajam, banyak turunan dan tanjakan yang kiri kanannya adalah jurang tebing. Tentunya laju kendaraan dipacu dengan kecepatan terbatas dan ekstra hati-hati.

Kampung Kuta merupakan salah satu dari segelintir dusun adat yang masih bertahan di kemajuan zaman di tatar Jawa Barat. Seperti halnya Kampung Naga di Tasikmalaya, Kampung Dukuh di Garut, Cireundeu Bandung, berikut Kampung Ciptarasa di Sukabumi.

Secara administrasi pemerintahan Kampung Kuta merupakan salah satu dusun dari Desa Karangpaningal Kecamatan Tambaksari , dihuni 120 KK (320 jiwa) yang menyebar di 2 RW 4 RT.

Lazimnya dusun adat, kehidupan sehari-harinya warga mengacu pada aturan adat tradisi yang diwarisi secara turun temurun dari karuhun, nenek moyang mereka. Demikian pula di Kampung Adat Kuta. Pola hidup sederhana tak hanya tercermin dari bangunan rumah yang mereka diami, tetapi juga dari kehidupan sehari-hari dari pola berpakaian, termasuk jarang menggunakan perhiasan. Jauh dari sikap bermewah-mewah.

Rumah yang dihuni warga Kampung Kuta adalah rumah panggung beratap rumbia atau ijuk. Dindingnya bilik atau triplek dan tidak boleh ada bagian temboknya, karena itu dilarang. Tak ada atap seng, atau genteng dan atap asbes juga dilarang karena pamali.

Rumah berdiri di atas batu sebagai pondasi yang ditegakan berdiri diatas tanah ketinggian sekitar 35 cm.
Seluruh bangunan yang ada di Kampung Kuta berpola rumah panggung, termasuk satu-satunya masjid yang ada di kampung adat tersebut. Dan boleh jadi, masjid di kampung kuta ini merupakan satu-satunya masjid Jamie (masjid tempat salat jumat) yang masih berdinding bilik dan bergaya rumah panggung, berlantai papan dan belah bamboo (palupuh) bukannya lantai keramik.

Bentuk rumah persegi empat. Seluruh bangunan di Kampung Kuta, tak hanya rumah hunian tetapi juga rumah adat, bale sawala, saung lisung, leuit juga persegi empat.

Luas Kampung Kuta yang berada di ketinggian 500 mdpl tersebut menurut Karman, totalnya 97,4 hektare. Seluas 40 hektare merupakan hutan adat , lebihnya merupakan pemukiman, tegalan (kebun), kolam dan sawah serta lapangan bola.

Hutan adat seluas 40 hektare tersebut berada di ujung kampung di sisi Sungai Cijolang, yang telah berabad-abad , sejak ratusan tahun lalu terjaga kelestariannya. Ditumbuhi pohon-pohon berusia ratusan tahun. Warga setempat menyebut hutan adat tersebut dengan nama Leuweung Gede. Tak sembarang waktu dan tak sembarang orang bisa hutan larangan ini.

Hanya pada hari Senin dan Jumat saja, peziarah atau pengunjung bisa memasuki hutan keramat tersebut. Itupun banyak pantang larangnya dan harus dipandu Kuncen Kampung Kuta yang kini dijabat oleh Aki Maryono.

Menuju hutan Leuweung Gede, kawasan hutan lestari yang dijaga kelompok adat secara turun temurun, sejak ratusan tahun lalu.

Hutan Leuweung Gede ini tak hanya sering menjadi tujuan wisata spiritual (ziarah), sekarang mulai menjadi tujuan petualangan atau wisata berbasis lingkungan (ekoturism) dan tujuan penelitian ilmiah.

Meski sudah semakin dikenal sebagai daerah tujuan wisata, tetapi sampai saat ini tidak ada kendaran umum yang trayeknya sampai ke Kampung Kuta, kecuali ojek. Jadi siapapun yang akan mengunjungi, berziarah atau berwisata ke Kampung Kuta pilihannya adalah gunakan kendaran pribadi atau mobil carteran.(sta)

Penulis: sta
Editor: fam
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help