TribunJabar/

SOROT

Antihoaks

Gerakan yang harus dikuti dengan tindakan untuk memerbaiki etika dalam pergaulan di dunia maya, menyebarkan konten positif

Antihoaks
dokumentasi
Kisdiantoro

Oleh Kisdiantoro
Wartawan Tribun Jabar

MENGERIKAN. Demikian komentar banyak orang tetang berita yang berseliweran di media, terutama di media online yang penyebarannya begitu mudah. Tinggal klik, berita tersebar di beragam platform media online, tak terkeculai media sosial.

Mengerikan karena banyak berita berisi berita bohong atau hoaks yang mengalir deras, dengan tujuan menghasut dan membentuk imej negatif terhadap suatu objek, bisa orang, kelompok, lembaga, dan lain sebagainya. Bagi mereka yang kalah dengan hasrat untuk menuai pujian sebagai orang pertama yang mengetahui berita, langsung membagikan kepada orang lain. Padahal, ia sendiri hanya membaca sepenggal, bahkan mungkin itu hanya di bagian judulnya, tanpa memahami isinya.

Masyarakat yang percaya dengan isi berita tersebut, maka akan berpersepsi sama dengan produsen berita. Maka, berhasillah sang produsen berita hoaks meracuni masyarakat. Lalu, berubahlah perangainya menjadi orang jahat dan terlibat dalam kegaduhan dengan melontarkan beragam kecaman, cacian, hinaan, dan kata kotor di media online, bisa blog, situs berita, atau jejaring sosial facebook, twitter, atau instagram.

Ada sebagain orang yang berusaha meluruskan, memberi penjelasan bahwa berita tersebut adalah bohong dan tidak berdasar. Namun, usaha itu akan sia-sia karena kebohongan yang menjadi viral akan dipahami sebagai kebenaran. Kasihan sekali, orang atau lembaga yang menjadi objek serangan berita hoaks.

Para pelaku penebar berita bohong bisa jadi tak percaya bahwa perbuatan hina itu adalah dosa besar. Buktinya, mereka pernah membuat berita bohong yang sangat keji, mengabarkan presiden ketiga BJ Habibie wafat. Jika tak segera mendapatkan konfirmasi pihak keluarga, berita meninggalnya Habibie bisa dipercaya masyarakat. Untungnya, pihak keluarga cepat memberikan tanggapan bahwa Habibie dalam keadaan sehat. Tak lama setelah itu, ketua MUI Kota Bandung, Miftah Faridl, juga pernah dikabarkan meninggal dunia. Padahal beliau sedang berobat ke Singapura dan hingga kini masih sehat. Sangat keji bukan?

Entah sudah berapa puluh ribu berita hoaks tersebar di dunia maya, bahkan menyusup ke ruang- ruang privat, melalui saluran BBM, Whatsapp, atau e-mail. Sejak November 2016 hingga sekarang saja sudah ada 1.164 berita hoaks. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mencatat, berita- berita itu sebagian besar bermuatan SARA dan kerap mengadu domba.

Pasal UU ITE dan KUHPidana memberikan ancaman yang berat bagi para pembuat berita bohong dan penyebar kebencian. Tapi sepertinya, berita-berita hoaks sepertinya tetap tak terbendung. Terlebih saat berlangsung dan pasca-pilgub DKI Jakarta, yang membuat bangsa Indonesia menjadi terbelah dua, saling caci, merendahkan, dan tak sedikit yang berujung pada pertengkaran fisik.

Menyadari betapa mengerikannya dampak sebaran berita hoaks, Ridwan Kamil dan masyarakat Kota Bandung bertekat memerangi berita bohong dengan mendeklarasikan #BDGHantamHoax, Senin (20/2), di Alun-alun Kota Bandung. Ketua KPI Yuliandre Darwis yang menghadiri acara itu, sepakat untuk memerangi berita hoaks dibutuhkan sebuah gerakan sosial dari masyarakat.

Gerakan yang harus dikuti dengan tindakan untuk memerbaiki etika dalam pergaulan di dunia maya, menyebarkan konten positif, menahan diri untuk tidak segera membagikan berita, menimbang kebenaran berita, dan mebuang jauh niat untuk menghasut atau membuat gaduh jagad maya dan nyata.

Tekad harus kuat! Godaan untuk menyebar berita hoaks akan terus ada. Apalagi ada banyak orang-orang yang memang dibayar untuk melakukan perbuatan jahat itu. Ingat! Bangsa ini dipersatukan dengan perjuangan panjang dengan mengorbankan jiwa dan harta. Maka, sangatlah berdosa jika kita menjadi bagian dari orang-orang yang merusak persatuan karena ikut menyebarkan berita hoaks. (*)

Penulis: dia
Editor: dia
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help