Coffee Break

Arab vs Cina

SEBELUM Anda membaca lebih lanjut, saya sampaikan terlebih dulu bahwa saya tidak bermaksud rasialis dan membuat tulisan berbau SARA.

Arab vs Cina
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

SEBELUM Anda membaca lebih lanjut, saya sampaikan terlebih dulu bahwa saya tidak bermaksud rasialis dan membuat tulisan berbau SARA. Percayalah, apa yang saya tulis berikut ini didasarkan pada anekdot belaka. Tulisan ini bertitik tolak dari anggapan bahwa tiap bangsa, juga tiap suku bangsa, memiliki ciri fisik dan perilaku tertentu, yang tentu saja tidak sepenuhnya benar. Misalnya anggapan bahwa orang Sunda sulit membedakan ucapan f dan p. Jelas itu pitnah.

Jadi, setelah membaca tulisan ini nanti, Anda boleh tertawa, tersenyum, mengernyitkan dahi, atau dingin-dingin saja. Tak apa. Yang penting tidak tersinggung dan marah.

Ketika saya masih kuliah, seorang teman mengajukan sebuah pertanyaan teka-teki. Orang Sunda menyebutnya tatarucingan. Untuk mengisi waktu di antara jam kuliah, kami memang kadang saling bertukar teka-teki. Tujuannya untuk menyegarkan lagi pikiran kami melalui jawaban tatarucingan yang lucu tapi juga masuk akal. Maksudnya, masuk akal dalam bingkai tatarucingan.

Begini pertanyaan teman saya: mengapa orang Arab umumnya berkumis dan berjanggut tebal, sedangkan orang Cina hanya memiliki kumis sedikit di tepi kedua bibirnya? Ada yang menjawab bahwa orang Arab umumnya Islam dan dalam Islam disunahkan memelihara janggut. Namun teman saya menggeleng. Ketika kami tak ada yang bisa menjawab, si teman yang mengajukan tatarucingan itu menjawab sendiri. Begini katanya:

Alkisah, pada zaman dahulu kala, digelar lomba untuk memperebutkan cairan penumbuh bulu, yang diikuti berbagai bangsa di dunia: Arab, Cina, Melayu, kulit hitam, bule, Indian, dan lain- lain. Saat itu semua bangsa di dunia tidak ada yang memiliki bulu yang lebat. Semua peserta berbaris di garis awal. Cairan penumbuh bulu itu sendiri diwadahi sebuah bejana dan diletakkan di jarak tertentu. Ketika aba-aba berbunyi, semua peserta langsung berlari cepat mengeluarkan seluruh kekuatan masing-masing. Singkat cerita, orang Arab berhasil sampai paling awal, lalu melumurkan cairan penumbuh bulu di tangan, kaki, dada, bawah hidung, dagu, dan pipinya. Setelah itu berdatangan peserta lain. Rupanya, orang Cina datang paling belakang. Ketika ia datang, cairan itu sudah nyaris habis. Ia hanya bisa mengoleskan sisa cairan itu masing-masing satu olesan di kanan dan kiri ujung bibirnya. Ya, itu sebabnya orang Arab berbulu lebat, sedangkan orang Cina berkumis tipis seadanya.

Ah, jangan dimasukkan ke hati. Kita tahu sekarang bahwa Cina adalah salah satu negeri paling hebat di dunia dalam berbagai cabang olahraga.

Ada kisah lain mengenai persaingan Arab dan Cina, yang saya dapat dari sebuah situs internet. Syahdan, ada dua sahabat Cina dan Arab yang kebingungan karena usaha dagang mereka bangkrut. Mereka sepakat sama-sama membuka pelayanan kesehatan. Si Cina menjadi sinshe dan si Arab menjadi tabib. Setelah seminggu praktik, si sinse kebanjiran pasien, sedangkan si tabib sepi pasien. Si tabib pun memutar otak untuk melawan si sinse.

Si tabib kemudian mengeluarkan jurus dengan memasang pengumuman di depan ruang praktiknya: "Jika tidak sembuh, uang kembali tiga kali lipat". Taktik itu manjur. Pasien berdatangan ke si tabib. Giliran si sinse sewot, lalu mencari akal. "Owe akan berpura-pura sakit dan tidak sembuh," pikirnya, lalu ia mendatangi si tabib. "Tolonglah owe. Owe mati rasa, tidak bisa lagi merasakan makanan yang ditelan." Si tabib kemudian menyuruh asistennya mengambil obat nomor 14. Obat itu diberikan kepada si sinse, yang langsung mengunyah sebelum menelan obat nomor 14 itu. Si sinse protes. "Ini bukan obat! Ini tai ayam!" Si tabib menyahut, "Ente betul, itu tai ayam. Berarti ente sudah sembuh dan tidak mati rasa lagi."

Si sinse pulang dengan kesal karena kalah akal. Ia mencari akal lagi untuk mengalahkan si tabib sekaligus mendapat uang si tabib. Kali ini si sinse pura-pura sakit lupa yang sangat kronis. Katanya, "Tabib, owe sakit lupa parah sekali. Owe lupa semua peristiwa dan memori owe. Tolonglah." Si tabib kembali menyuruh asistennya, "Bawa kemari obat nomor 14." Si sinse kontan terperanjat, "Haiyaaaa, owe tidak mau lagi makan tai ayaaam!" Si tabib tersenyum, "Alhamdulillah, berarti ente sudah sembuh. Daya ingat ente sudah kembali." Si sinse pun pulang sambil menggerutu.

Nah, kemarin seorang teman menulis status di FB-nya begini: "Pilkada Jakarta belum selesai, ya? Kok masih ribut-ribut? Ah, ya, ya, ternyata memang belum selesai. Malah sekarang jadi makin seru. Cina lawan Arab. Jadi teringat awak film-film Benyamin S. Babah Ho Liang lawan Wan Abud. Ente pilih siape?"

Sekali lagi, status teman saya ini pun hanya candaan. Kita berharap siapa pun yang menang akan berjuang demi warga Jakarta. Lagi pula, ingatlah, baik Cina maupun Arab sama-sama memberikan pengaruh besar kepada budaya Betawi masa kini. (*)

Penulis: her
Editor: her
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help