TribunJabar/

Kuliner Bandung

Nikmatnya Menyantap Roti Serikaya Sambil Ngopi di Kafe Bernuansa Kolonial

Di tengah menjamurnya kafe-kafe modern, kedai bernuansa kolonial di Bandung hingga kini tetap eksis.

Nikmatnya Menyantap Roti Serikaya Sambil Ngopi di Kafe Bernuansa Kolonial
ISA RIAN FADILAH
Roti serikaya di Warung Kopi Purnama, Kota Bandung. 

Laporan Isa Rian Fadilah

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - MENIKMATI suasana tempo dulu sambil menyeruput kopi ditemani roti tentu meninggalkan kesan tersendiri. Di tengah menjamurnya kafe-kafe modern, kedai bernuansa kolonial di Bandung hingga kini tetap eksis. Ada kalanya masyarakat lanjut usia ingin rehat sejenak dari ingar-bingar kehidupan dan bernostalgia dengan mengunjungi kedai-kedai lama.

Sebaliknya, tak sedikit kalangan muda pun tertarik dengan ketenangan suasana dan kesederhanaan hidangan yang melekat pada kedai lama.

Salah satu kedai kopi lama di Bandung adalah Warung Kopi Purnama. Lantainya yang kuning, kursi kayu, pintu kayu yang menjulang, langit-langit ruangan yang tinggi, foto-foto hitam putih tentang suasana Bandung terpasang di dinding, musik lawas, dan beragam sajiannya seperti kopi, roti serikaya, dan roti pindekaas, menyimpan memori yang mendalam.

Sejak beroperasi pada 1930, kedai tersebut telah menyajikan roti serikaya yang rasa dan tampilannya hingga saat ini tak berubah. Dari generasi ke generasi, pengelolanya dibekali kemampuan membuat roti dan serikaya. Generasi terdahulu selalu melatih generasi berikutnya bagaimana membuat roti dan serikaya tersebut. Hal ini dilakukan supaya pelanggan tetap bisa menikmati roti serikaya yang sama dari waktu ke waktu.

Pemilik generasi keempat, Aldi Renaldi Yonas (28) mengaku belajar langsung. Ia pun membuat adonan dari telur, santan, gula aren hingga menjadi selai serikaya yang sangat lembut dan lezat. Kini, ia turun langsung membuat roti serikaya untuk pelanggan.

"Mengaduk telur, santan, dan gula arennya enggak boleh cepat-cepat. Diaduk dengan kecepatan konstan, sambil api menyala," ujarnya, saat ditemui di kedai tersebut Jalan Alkateri Bandung.

Ia menuturkan, pembuatan selai serikaya tersebut memakan waktu enam sampai delapan jam. Sedangkan pengadukan adonan dilakukan empat jam. Adonan akan mengalami karamelisasi setelah halus dan berwarna cokelat gelap. Selai serikaya ia buat dua hari sekali.
Roti pun diproduksi sendiri. Rotinya lebih tebal dari roti tawar biasa, bertekstur empuk dan lembut seperti kapas.

Roti sengaja dibuat tebal untuk mengimbangi manisnya selai serikaya. Jika roti tipis, rasa serikaya akan terlalu dominan sehingga tidak terasa mantap.

Roti selai serikaya bisa disajikan dalam keadaan dikukus atau dibakar. Sensasi lembutnya roti akan didapat pada roti kukus. Namun, jika menginginkan aroma, roti bakar bisa menjadi pilihan tepat.

Halaman
12
Penulis: Isa Rian Fadilah
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help