TribunJabar/

Pertunjukan Teater

Lewat Pemain dari Dua Negara - Cahaya Memintas Malam Gebrak Dunia Teater, Tiket Pun Ludes

"Deudeuh teuing, Kang Jamarun . . . ". Lirik lagu tersebut beberapa kali dilantunkan para pemain . . .

Lewat Pemain dari Dua Negara - Cahaya Memintas Malam Gebrak Dunia Teater, Tiket Pun Ludes
TRIBUN JABAR/TAUFIK ISMAIL
Para pemain Cahaya Memintas Malam setelah tampil dalan gladi bersih di Gedung Kebudayaan UPI, Senin (13/2/2017) malam. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Taufik Ismail

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - "Deudeuh teuing, Kang Jamarun . . . ". Lirik lagu tersebut beberapa kali dilantunkan para pemain Cahaya Memintas Malam.

Melibatkan pemain teater dari dua negara, Cahaya Memintas Malam menggelar gladi bersih pada Senin (13/2/2017) malam.

Para pemain teater dari dua negara itu bakal tampil dalam pentas sebenarnya di Gedung Kebudayaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Selasa dan Rabu (14-15/2).

Mereka yang tergabung dalam La Trobe Student Theatre and Film, Mainteater Bandung, dan Teater Lakon mengangkat tajuk The Light Within A Night - Cahaya Memintas Malam, di bawah arahan sutradara Sahlan Mujtaba dan Bob Pavlich.

Sahlan mengatakan, kerjasama antara mereka telah terjalin sejak 20 tahun silam. Dua tahun lalu, mereka berkolaborasi dan kini kembali bermain bersama.

Kali ini, mereka mengangkat cerita rakyat Sunda, kisah Jamarun seorang petani miskin yang dituduh membunuh. Tanpa bukti dan pembelaan, Jamarun akhirnya dihukum gantung. Sesaat setelah digantung, ribuan burung dan kupu-kupu mengepung langit sehingga suasana menjadi gelap.

"Awalnya ada pertanyaan, ini perlu cerita enggak? Karena sebelumnya hanya bercerita tentang pandangan para pemain tentang negara masing-masing dan ada cerita mengenai para pemainnya," kata Sahlan kepada wartawan.

Mereka kemudian menyepakati jika butuh cerita agar apa yang ditampilkan lebih kuat. Mereka lalu memilih sebuah cerita rakyat asal Cianjur, Jamarun.

"Tadinya mau dua cerita, satu dari Indonesia dan satu dari Melbourne. Tapi akhirnya satu saja. Saya orang Jabar, jadi memilih cerita rakyat Sunda. Ceritanya punya karakter," ucap Sahlan.

Ia menambahkan, dalam cerita rakyat Sunda, biasanya seseorang yang mati akan hidup lagi. Menurut Sahlan, Jamarun lebih metaforik, karena hidupnya kembali melalui wangi-wangian.

"Sengaja juga dipilih cerita ini karena cerita Jamarun sudah mulai dilupakan," ujarnya.

Manajer Proyek Herliana Sinaga mengatakan, selain di Bandung mereka juga akan tampil di Bali yakni di Bentara Budaya Bali pada tanggal 18 dan 19 Februari.

Kemudian, di bulan Maret yaitu tanggal 6 hingga 8 Maret mereka tampil di Menzies Theatre, La Trobe University Bundoora, Melbourne-Australia. Lalu tanggal 15 hinggal 19 Maret giliran La Mama Courthouse, As Part of Asia TOPA yang menjadi tempat mereka unjuk gigi.

Khusus untuk di Bandung gelaran tanggal Selasa dan Rabu malam tiketnya sudah sold out. "Karenanya kami membuka ekstra show," katanya. Ekstra show bakal dihelat Rabu siang. (tis)

Penulis: tis
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help