TribunJabar/

Coffee Break

Sang Mantan

Tapi saya tidak ingin menulis tentang mantan pacar atau yang semacam itu. Ungkapan mantan pacar biasanya mengandung cerita yang bikin kita baper.

Sang Mantan
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

KATA mantan berasal dari kata manten dalam bahasa Sunda. Sejak kecil saya mengenal kata ini untuk menyebut orang yang pernah menjadi kepala desa. Pak Manten, begitulah dulu kami menyebutnya. Belakangan, anehnya, ketika kata mantan sudah populer dalam bahasa Indonesia, orang yang pernah menjadi kepala desa malahan dipanggil Pak Mantan. Apakah ini salah satu pertanda bahasa Sunda makin ditinggalkan?

Mantan mengandung makna bekas. Dulu, sebelum kata mantan ini populer, pemakai bahasa Indonesia umumnya memakai kata bekas: bekas bupati, bekas gubernur, bekas presiden. Mungkin kata bekas terkesan "kasar", seakan-akan, seperti barang, seorang bekas pejabat sudah apkir alias tidak terpakai lagi. Padahal, karena bukan benda, bekas pejabat pun ingin tetap bermanfaat bagi orang lain.

Sayangnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia terkesan hanya memberikan batasan yang sempit: bekas (pemangku jabatan, kedudukan, dan sebagainya), seraya memberikan contoh dalam kalimat "Ia mantan gubernur yang sekarang aktif dalam organisasi sosial". Kamus ini tidak memberikan contoh kata mantan dalam arti lain. Padahal, kata ini sangat umum dipakai dalam ungkapan mantan pacar, mantan istri/suami, mantan mertua, dan sebagainya. Eh, iya, mungkin makna yang belakangan ini tercakup dalam "dan sebagainya".

Tapi saya tidak ingin menulis tentang mantan pacar atau yang semacam itu. Ungkapan mantan pacar biasanya mengandung cerita yang bikin kita baper. Saya hanya ingin menulis soal mantan pejabat, lebih spesifik lagi mantan presiden.

Sudah ada enam mantan presiden di Indonesia: Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam versi lain ada dua lagi mantan presiden, yakni Syafruddin Prawiranegara dan Assaat, yang menjabat di era revolusi kemerdekaan.

Presiden adalah jabatan tertinggi di sebuah negeri. Lantas, menjadi apa seseorang yang sudah tidak lagi menjadi presiden? Satu pilihan yang terhormat, setidaknya menurut tradisi Jawa, adalah menjadi resi atau pendeta. Tradisi Jawa mengenal ungkapan lengser keprabon madheg pandhito, yang tempo hari sempat populer ketika Soeharto lengser dari kursi kepresidenan. Lengser keprabon berarti mengundurkan diri secara sukarela dari kedudukan prabu atau raja. Madheg pandhito bermakna orang tua yang bijaksana, tinggal di sebuah pertapaan, dan selalu bersedia memberikan nasihat kepada siapa pun yang membutuhkan.

Raja memang pusat segala kekuasaan. Tapi seorang resi memiliki otonomi penuh di wilayah pertapaannya, merdeka, tak dapat dicampurtangani raja. Bahkan, untuk urusan moral, ia panutan bagi sang raja.

Dalam jagat pewayangan, contoh raja yang kemudian menjadi resi adalah Abiyasa. Ia putra pasangan Parasara dan Durgandini. Ia menjadi raja Hastina karena Bisma, yang sebenarnya paling berhak, sudah bersumpah tidak akan menjadi raja. Setelah tiba saatnya, Abiyasa turun takhta digantikan Pandu sebagai raja selanjutnya. Ia kembali menjadi pendeta di Pertapaan Ratawu di Pegunungan Saptaarga. Abiyasa merupakan pendeta agung yang sangat dihormati. Tidak hanya keluarga Hastina yang menjadikannya tempat meminta nasihat, tapi juga raja-raja dari negeri lain.

Para mantan presiden Republik Indonesia, terutama yang berasal dari Jawa, mestinya memahami nilai-nilai dunia pewayangan dan bisa mengikuti keteladanan Abiyasa. Tentu saja tidak harus menjadi seorang resi. Posisi yang terhormat bagi mereka adalah apa yang kita kenal sebagai "guru bangsa", seorang yang bisa dijadikan pedoman atau teladan dalam hidup berbangsa.

Setelah lengser pada 1967, hidup Soekarno masih diliputi misteri. Ia sakit-sakitan sampai wafat pada 1970. Mungkin karena dilengserkan, Soeharto juga menjalani masa senjanya dalam kesunyian. Kedua mantan presiden ini jarang disebut sebagai guru bangsa. Mantan presiden yang kerap disebut sebagai guru bangsa justru Gus Dur. Sampai wafatnya, ia tetap menjadi teladan hidup berbangsa. Sejauh ini, Megawati tampaknya belum berperan sebagai guru bangsa. Yang kini pantas menjadi guru bangsa justru Habibie. Ia tetap dihormati dan layak menjadi teladan.

Bagaimana dengan SBY? Di antara enam mantan presiden RI, SBY-lah yang paling sering memberikan pendapat atau pernyataan, baik diminta maupun tidak. Ia berkali-kali mengadakan jumpa pers, menulis artikel di media massa, dan menulis di Twitter. Namun, alih-alih menjadi panutan, kecuali oleh pengikut setianya, pendapat-pendapatnya justru banyak ditanggapi dengan pembulian.

Ah, Pak Beye, jadilah seperti Resi Abiyasa, jangan menjadi seperti Resi Dorna. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help