TribunJabar/

sorot

''Siap''

APA yang terlintas saat kita mendengar kata "siap"? Mengutip dari kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), siap memiliki arti sudah disediakan

''Siap''
TRIBUNNEWS / FX ISMANTO
Dicky Fadiar Djuhud, Wartawan Tribun 

APA yang terlintas saat kita mendengar kata "siap"? Mengutip dari kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), siap memiliki arti sudah disediakan (tinggal memakai atau menggunakan saja atau sudah sedia). Bukan tanpa alasan penulis menjadikan kata "siap" menjadi judul kali ini. Seorang teman kerja, dengan mantap mengatakan kata "siap" kepada penulis. "Kang, kita harus siap!" Bukan sekali dua, teman yang satu ini mengucapkannya dalam pertemuan singkat hari itu.

Awalnya, penulis tak mengindahkan apa yang dikemukakan teman ini. Namun, dalam perbincangan singkat yang semula hanya bermaksud bertegur sapa, malah jadi keterusan dan menjurus serius. Penulis penasaran dengan apa yang dikemukakan oleh seorang teman dalam obrolan santai antarteman yang dilakukan di ujung tangga sebelum memulai bekerja.

Betapa kaget penulis, ternyata di balik kata "siap" mengandung makna lain. Bukan sekadar seperti apa yang diartikan dalam kamus KBBI, di awal tadi. Lebih dari itu. Bahkan, bisa jadi sidang pembaca pun akan tertarik, lalu mencoba memikirkan dan syukur-syukur mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Siap yang dimaksud teman penulis memiliki makna, huruf "s" artinya sabar, "i" artinya ikhlas, "a" artinya amanah, dan "p" punya makna pimpinan. Jadi, kurang lebih bila diartikan kata "siap" ini memiliki makna kita harus sabar dan ikhlas dalam menjalankan amanah yang diberikan oleh pimpinan.

Pimpinan yang mana? Ya, yang mana saja, sesuaikan dengan posisi masing- masing. Di rumah, tentu yang jadi pimpinan adalah suami sebagai kepala keluarga. Meski secara harfiah, status kepala keluarga, dalam keluarga inti yang menganut sistem patrilineal, dipegang oleh ayah (suami), dan sebaliknya pada keluarga yang menganut sistem matrilineal status ini dipegang oleh ibu (istri). Namun, dalam agama yang menjadi keyakinan penulis, kepala keluarga itu sudah dijelaskan dalam Alquran, surat An-Nisa, yang terjemahannya sebagai berikut, "kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.

Karena Allah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka".

Sederhana apa yang terlontar dari obrolan ringan dengan seorang teman, Selasa (7/2/2017) pagi. Kalau ditelaah, mungkin tidak ada yang istimewa memang dalam kata maupun arti dari "siap" ini. Sama. Maksudnya, kalau Anda merasa tidak ada yang istimewa dari kata "siap" serta makna di balik kata tersebut, sama seperti ketika penulis mendengar pertama kali. Namun, seyogianya sebagai seorang pegawai yang memiliki pimpinan, tentu hal ini seolah menjadi suatu pencerahan tersendiri. Khususnya bagi penulis.

Ya. Di tengah rutinitas pekerjaan yang dari hari ke hari dan dari itu ke itu, tentu ungkapan sederhana dari seorang teman secara tak langsung menegur dan menyadarkan akan keadaan di sekitar penulis. Menyusul baru-baru ini ramai pemberitaan para pejabat yang masuk bui gara- gara tidak "siap". Coba saja kalau para pejabat ini "siap", tentu akan selamat dunia akhirat. Tidak terkecuali kegaduhan yang tengah terjadi yang melibatkan tokoh agama. Seandainya para pihak yang tengah bergaduh ini "siap", rakyat tidak akan menjadi ikut gaduh dampak dari konstelasi politik tingkat tinggi dari orang-orang yang memiliki kepentingan di negeri ini. Entah untuk kepentingan siapa. Alih-alih, semua yang tengah bergaduh dan melakukan kegaduhan mengatasnamakan rakyat.

Penulis cuma bisa tanya, rakyat yang mana? Sudah bukan rahasia lagi, yang bikin gaduh siapa, yang kena dampak kegaduhan siapa. Lalu, apakah mereka yang bikin gaduh ini sudah "siap"? Itu!(*)

Penulis: Dicky Fadiar Djuhud
Editor: Ferri Amiril Mukminin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help