TribunJabar/
Home »

Bisnis

» Makro

Harga Cabai Makin Pedas, Tembus Rp 160 Ribu Per Kilo, Lebih Mahal dari Daging Sapi

Diharapkan yang menanam bulan Desember, sudah bisa panen akhir Februari ini. Kalau yang tanam Januari, bisa dipanen nanti Maret, jadi bisa kontinyu da

Harga Cabai Makin Pedas, Tembus Rp 160 Ribu Per Kilo, Lebih Mahal dari Daging Sapi
TRIBUN JABAR/RAGIL WISNU SAPUTRA
Pedagang sayuran di Pasar Resik Jatinangor, Engkus Citra Kusmana (45) tengah memperlihatkan cabai rawit merah di lapak daganggnya yang kini harganya menembus Rp. 140 ribu per kilogram, Jumat (3/2). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Fatimah

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Harga cabai rawit di tingkat eceran pada Selasa (7/2) mencapai angka fantastis yakni Rp 160.000 per kilogram. Bahkan  harganya jauh lebih mahal dibanding harga daging sapi yang mencapai Rp 120.000 per kg.

Kenaikan harga diduga pedagang karena langkanya barang di pasar. Meski harga cabai kembali naik bahkan mencapai angka fantastis, Bulog Divre III Jawa Barat belum akan melakukan operasi pasar (OP), namun Bulog siap bila diminta menggelar OP cabai.

Siti Saodah , salah satu pedagang eceran di Ujung Berung mengatakan, baru pada hari Selasa (7/2) harga cabai rawit mencapai Rp 160.000 perkilogramnya. Harga cabai rawit kembali naik diduga karena stok mulai berkurang. " Di Pasar Ujung Berung, Pasar Gede Bage, ngga banyak penjual yang jual cabai. Katanya barang sedang langka. Mungkin ini yang buat harga cabai rawit naik lagi," katanya.

Selai cabai rawit, katanya, harga cabai rawit hijau juga naik lagi dari sebelumnya di kisaran Rp 60.000 hingga Rp 70.000 per kilogram, pada Selasa (7/2) mencapai Rp 90.000 hingga Rp 100.000 per kilogram."Kalau barangnya masih bagus , harganya (cabai rawit hijau) bisa 100 ribu sekilo," katanya.

Kenaikan harga cabai juga dibenarkan Sukardi, pedagang eceran lainnya. Harga cabai saat ini mencapai angka yang paling tinggi. Ia mengaku tidak tahu penyebab kenaikan harga komoditas ini. Namun diakuinya cukup sulit mendapat cabai rawit di pasar. "Biasanya cukup banyak yang jual cabai rawit. Sekarang jarang, bisa dibilang susah. Cuma beberapa saja yang masih jual, " katanya.

Meski harga cabai rawit kembali naik, Bulog Divre III Jawa Barat belum akan melakukan OP. Meski begitu, Kepala Bulog Divre III Jawa Barat, Abdul Muis S Ali mengatakan pihaknya siap bila diminta melakukan OP cabai. Saat ini daerah penghasil cabai memang belum semua memasuki masa panen. Pihaknya melihat kenaikan harga cabai khususnya cabai rawit merupakan kondisi situasional. Diyakini harga cabai akan kembali normal saat panen.

"Salah satu tugas Bulog ikut menjaga kestabilan harga. Kita monitor terus harga cabai. Kalau memang ada panen, kita serap hasil panen, dan bisa dilakukan operasi pasar agar harga stabil," katanya ditemui disela acara di Jalan Surapati, Selasa (7/2).

Kondisi ini diakuinya harus diantispasi untuk bulan-bulan berikutnya. Masa tanam cabai yang biasnya setiap tiga bulan bisa disiasati dengan penanaman yang tidak harus serentak agar tidak ada masa kosong yang memicu kelangkaan stok. "Diharapkan yang menanam bulan Desember, sudah bisa panen akhir Februari ini. Kalau yang tanam Januari, bisa dipanen nanti Maret, jadi bisa kontinyu dan stok tetap terjaga," katanya.

Dari survei Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat di lima pasar di Kota Bandung, harga cabai pada pekan ini juga kembali naik. Harga cabai rawit naik 10,14% dari Rp 138.000 menjadi Rp 152.000/kg, dan cabai rawit hijau naik 18,99% menjadi Rp 94.000 dari Rp 79.000/kg. (tif)

Penulis: Siti Fatimah
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help