TribunJabar/

SOROT

Mengisap Narkoba

Efek negatif rokok elektrik ini makin kuat dengan temuan narkoba jenis cairan yang ada pada carian untuk rokok elektrik ....

Mengisap Narkoba
dokumentasi
Kisdiantoro

Oleh Kisdiantoro
Wartawan Tribun Jabar

ANAK muda sekarang banyak yang gandrung dengan rokok elektrik. Mereka yang mengonsumsinya, mungkin akan merasa lebih percaya diri dan bergaya, dibandingkan dengan mengisap rokok biasa. Apalagi kini lagi tren.

Rokok elektrik ini berbeda dengan rokok tembakau. Berbeda karena rokok jenis ini tidak menggunakan tembakau untuk menikmati sensasi merokok, melainkan menggunakan cairan yang diisikan ke dalam alat pengisap. Pilihan aromanya pun lebih beragam, ada rasa susu, cokelat, strawberi, melon, melati, buah mangga, pisang, anggur, dan lainnya. Harganya pun beragam. Demikian dengan harga alat penghisapnya. Rata-rata harga pengisap ini kisaran Rp 100.000, dengan 500 kali isapan jika baterai terisi penuh.

Apakah merokok dengan cara ini aman? Sebagain orang berpendapat aman karena bebas nikotin dan tak menimbulkan polusi udara karena kepulan yang nampak seperti asap adalah uap. Tak adanya nikotin tak akan meninggalkan efek kecanduan. Bahkan ada yang berpendapat merokok elektrik bisa membantu seseorang berhenti dari merokok tembakau.

Namun, pendapat ini mendapatkan sanggahan kepala medis American Lung Association, Norman Edelman, seperti dikutip dari laman alodokter.com. Ia mengatakan bahwa pernyataan rokok elektrik lebih aman belum cukup valid karena efek jangka panjang rokok elektrik belum diuji secara klinis. World Health Organization (WHO) sepertinya sependapat. Lembaga kesehatan dunia ini malah mengeluarkan rilis laporan berisi anjuran untuk tidak menggunakan rokok elektrik di dalam ruangan karena rokok jenis ini mengeluarkan racun seperti rokok biasa. Memang tak mengeluarkan asap, tapi uap rokok elektrik mengandung zat kimia berbahaya dan bisa mengotori udara.

Efek negatif rokok elektrik ini makin kuat dengan temuan narkoba jenis cairan yang ada pada carian untuk rokok elektrik, yakni blue safir atau snow white. Badan Narkotika Nasional (BNN), termasuk BNN Kota Bandung pun kini mengawasi ketat peredaran cairan rokok elektrik ini, baik yang beredar melalui penjualan langsung di toko-toko maupaun peredaran secara online.

Kepala BNN Kota Bandung, Yeni Siti Saodah, menyebut di dalam carian itu terkandung zat kimia 4-CMC atau sering disebut sebagai Chloromethcathinone. Zat kimia jenis ini tak berbeda dengan narkoba jenis sabu-sabu sehingga sangat berbahaya bagi para penggunanya.

Pengguna carian dalam rokok elektrik akan mendapatkan efek semangat berlipat, badan terasa enak. Namun, energi yang berlebihan ini bisa mengakibatkan nyawa penggunanya melayang.
Lalu, apakah kita akan membiarkan anak-anak muda kita terlihat trendi tapi sebenarnya kesehatanya digerogoti? Tentu saja tidak. Anak-anak muda yang akan mewarisi bumi pertiwi harus kuat fisik dan mentalnya. Mereka harus waspada dan cepat sadar bahwa apa yang mereka konsumsi tidak sehat. Para orangtua pun berkewajiban untuk mengingatkan.

Dalam konsep beragama, seuatu yang merusak tubuh setelah Tuhan menciptakan bentuk manusia secara sempurna, maka terlarang. Jika hal itu dilakukan dengan kesadaran, maka itu merupakan bentuk keingkaran terhadap kebaikan Tuhan, dan mereka tergolong manusia yang tak bersyukur. Umumnya, mereka yang tak bersyukur akan jauh dari Tuhannya. Dan mereka yang jauh dari Tuhan masuk dalam perangkap setan. Maka, hidupnya pun berpotensi menjadi tidak teratur.

Maka, kebijakan Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek, yang memasukkan zat kimia cairan rokok elektrik berisi narkoba, ke dalam Permenkes No 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkoba, benar. Dengan demikian, aparat penegak hukum bisa menindak tegas para pengedar dan mencegah peredarannya. Semoga kita selamat dari jerat narkoba. Amin. (*)

Penulis: Kisdiantoro
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help