TribunJabar/
Home »

Fiksi

» Cerpen

Cerpen Hari N Muhamad

Nyi Euis

Kukira Emak hanya menakut-nakutiku karena suka pergi ke sawah malam-malam untuk menangkap belut.

Nyi Euis
Ilustrasi Nyi Euis 

REMBULAN sedang dalam bentuk yang sempurna. Siang seolah melompat sebagian ke malam ini untuk mengusir separuh kegelapan. Angin berjalan pelan, daun pisang sedikit bergoyang, dan suara kodok menyempurnakan suasana malam yang khas di pesawahan. Besok keluargaku panen, dan aku bertugas menjaga sawah. Ini gara-gara di desaku sedang ada komplotan yang suka mencuri padi ketika hendak panen.

Aku tidak takut kepada komplotan pencuri padi. Kalau mereka datang, aku hanya perlu mengeluarkan jurus silatku. Tapi, cerita tentang Nyi Euis yang entah mitos atau benar-benar nyata membuat bulu kudukku berdiri. Konon katanya, Nyi Euis akan muncul bila musim panen tiba. Dulu Emak pernah menceritakannya kepadaku sebelum tidur.

"Bila musim panen telah tiba, kamu jangan pergi ke sawah malam-malam," tutur emak sambil mengusap kepalaku yang sedang tiduran di pahanya.

"Kenapa, Mak? Kan seru nangkap belut malam-malam."

"Ada Nyi Euis." Mataku yang polos menagih ucapan Emak selanjutnya. "Nanti kamu akan diajak bermain ke suatu tempat, dan tak akan bisa kembali lagi."

Kukira Emak hanya menakut-nakutiku karena suka pergi ke sawah malam-malam untuk menangkap belut. Tapi, pemikiranku segera berubah ketika cerita Emak terbawa mimpi. Dalam mimpi itu, aku diam-diam ke luar rumah saat Emak dan Abah sedang tidur. Seperti biasa, Acep dan Sodikin sudah menunggu di depan rumah. Aku sering melakukan hal itu. Saking seringnya aku jadi lupa entah berapa kali Emak memarahiku karena pergi tanpa bilang-bilang. Kemudian, aku dan dua temanku segera berjalan ke sawah. Kebetulan waktu itu musim panen, tapi aku tidak menghiraukan cerita sekaligus peringatan dari Emak. Aku tetap dalam pendirianku: bahwa Emak hanya menakut-nakutiku

Ada kegiatan yang dilakukan oleh para pemuda dan ditiru oleh anak-anak kecil seperti kami waktu itu. Namanya ngobor. Peralatan yang dibawa obor, golok, dan kantong plastik. Kami hanya tinggal menyusuri pematang sawah dan bila ada belut yang berkeliaran atau keluar dari lubangnya, maka salah satu dari kami akan langsung menebasnya dengan golok, lalu belut itu diambil dan dimasukkan ke kantong plastik.

"Apa kalian pernah mendengar cerita tentang Nyi Euis?" tanyaku.

"Kurasa itu hanya cerita karangan," jawab Acep.

"Emakku juga sudah dua kali menceritakan itu," jawab Sodikin menyusul.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help