Coffee Break

Kisah Si Dungu

Banyak kita dapati cerita tentang orang dungu. Salah satunya tentang seorang raja yang menyangka mengenakan busana bagus, padahal telanjang.

Kisah Si Dungu
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

ALKISAH, seorang pedagang sukses mempunyai anak yang dungu. Pada suatu hari peti-peti berisi barang-barangnya raib digondol maling. Pedagang itu tertunduk sedih. Orang-orang menghiburnya dan mendoakan agar kekayaannya yang hilang diganti dengan yang lebih baik. Tiba-tiba anaknya datang dan heran melihat banyak orang. "Ada apa ini?" "Seseorang telah mencuri peti-peti bapakmu." Tiba-tiba anak itu tertawa terbahak-bahak, lalu berkata, "Tenang saja, barang-barangnya aman!" Orang-orang heran, menyangka bahwa dialah yang menyembunyikan peti-peti itu. Bergegas mereka memberi tahu bapaknya. Bapaknya berkata kepada anaknya, "Kabarkan kepadaku apa yang kamu ketahui!" Masih tertawa, anak ini menjawab, "Bapak tenang saja! Barang-barang kita aman. Kunci peti-peti itu aku yang pegang!"

Banyak kita dapati cerita tentang orang dungu. Salah satunya tentang seorang raja yang menyangka mengenakan busana bagus, padahal telanjang. Meski mungkin sedikit berbeda maknanya, kisah tentang orang pandir juga kerap kita dengar. Kita malahan mengenal dongeng dengan tokoh Pak Pandir, orang yang digambarkan bodoh tapi jenaka. Dengan nuansa kedunguan yang berbeda-beda, kita juga mengenal cerita si Kabayan, si Lamsijan, Abu Nawas, Forest Gump, dan lain-lain.

Pada kisah lain diceritakan seseorang berkata kepada pelayannya yang dungu, "Keluar dan lihatlah, apakah cuaca sedang cerah atau mendung." Pelayannya keluar, kemudian kembali dan berkata, "Demi Allah, di luar sedang hujan. Aku tidak bisa melihat apakah sekarang mendung atau cerah!"

Kisah lain menceritakan dua orang dungu yang sedang membicarakan menara masjid yang sangat tinggi. Sambil mendongak ke puncak menara, salah satunya berkata, "Alangkah tingginya orang yang membangun menara tersebut!" Temannya menukas, "Diam, dasar dungu! Apakah kamu mengira ada orang setinggi itu di dunia? Menara itu dibangun di atas tanah, baru kemudian dinaikkan!"

Dungu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodoh. Namun bahasa Indonesia sesungguhnya memiliki banyak kata yang bersinonim dengan dungu. Sebut saja ahmak (ahmaq), bagal, bahlul, bambung, bangang, bebal, bego, beloh, benah hati, berat kepala, besar rabu, bingung, bodoh, bongok, dabih, debil, dongok, dungkul, goblok, hamik, hampa, otak udang, pandir, pilon, pongah, sementung, tolol, tumpul otak.

Ada yang bilang bahwa sekarang makin banyak orang dungu. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah, tapi keliru. Sejak dulu sudah banyak orang dungu.

Seperti dikutip dari buku Nabi Isa pun Tak Mampu Sembuhkan karya Musa Kazhim, dalam sebuah riwayat dari Ali bin Musa dituturkan bahwa Nabi Isa a.s. pernah bersabda, "Sungguh aku telah mengobati orang-orang yang sakit, dan aku sembuhkan mereka dengan izin Allah. Aku sembuhkan orang buta dan orang berpenyakit lepra dengan izin Allah. Aku bangunkan orang-orang mati dan aku hidupkan kembali mereka dengan izin Allah. Lalu aku coba mengobati orang ahmaq (dungu), tetapi aku tidak mampu menyembuhkannya!"

Maka Nabi Isa pun ditanya, "Wahai ruh Allah, siapakah orang dungu itu?"

Nabi Isa menjawab, "Yaitu orang yang kagum pada pendapatnya sendiri dan dirinya sendiri; yang memandang semua keunggulan ada padanya dan tidak melihat beban (cacat) dirinya; yang memastikan semua kebenaran untuk dirinya sendiri. Merekalah orang-orang dungu yang tidak ada jalan untuk mengobatinya."

Albert Einstein pernah berkata, "Hanya ada dua hal yang tak terbatas: alam semesta dan kebodohan manusia, dan aku tidak yakin tentang yang pertama." Einstein juga berkata, "Perbedaan antara kebodohan dan kecerdasan adalah bahwa kecerdasan itu ada batasnya." Jelas, sang ilmuwan yakin bahwa kebodohan tidak ada batasnya.

Jika ada pendapat bahwa sekarang makin banyak orang dungu, sebabnya tak lain media sosial makin banyak memberikan ruang ekspresi bagi mereka. Menurut Kang Hasan (Hasanuddin Abdurakhman) di akun FB-nya, kebodohan itu tidak punya strata. "Tingkat pendidikan penyandangnya bisa dari SD hingga doktoral. Ada kenalan saya yang doktor, ngomel soal tenaga kerja Cina. Ngomel tanpa paham soal regulasi ketenagakerjaan.... Makanya kalau nggak paham, mingkem. Orang nggak paham, tapi buka congor, itu orang dungu. Nggak peduli dia bergelar doktor."

"Jadi, kedunguan tidak bisa diobati?" tanya seorang teman. Saya tidak yakin, tapi saya menjawab, "Nabi Isa berkata begitu, maka saya percaya."

Tapi barangkali saya keliru. Maksud saya, Nabi Isa memang tidak bisa mengobati orang dungu. Tapi orang dungu itu mungkin bisa mengobati dirinya sendiri. Bagaimana caranya? Buka mata, buka telinga, buka hati, buka nurani. Teruslah menimba ilmu. (*)

Penulis: her
Editor: her
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help