Sorot

Mewaspadai Gorila Muncul Gajah

NOVEMBER akhir tahun 2016, media sosial dikejutkan dengan kehadiran tembakau sintetis Cap Gorila yang dijual secara online.

Mewaspadai Gorila Muncul Gajah
TRIBUN JABAR
Ferri Amiril, Wartawan Tribun 

Oleh: Ferri Amiril, Wartawan Tribun Jabar

NOVEMBER akhir tahun 2016, media sosial dikejutkan dengan kehadiran tembakau sintetis Cap Gorila yang dijual secara online. Pengedar dan pemakainya saat itu masih terbatas sehingga tak banyak orang yang tahu. Saat itu ada beberapa pengedar yang diamankan karena terbukti mendapatkan tembakau gorila untuk dikonsumsi dan diedarkan.

Selama akhir tahun menjelang pergantian tahun, ada beberapa pihak yang meneliti kehadiran tembakau gorila. Awal tahun ada beberapa fakta yang menyebutkan bahwa tembakau Cap Gorila bisa sebabkan tremor, zat tersebut bisa membuat pengguna berhalusinasi seperti ditimpa gorila.

Lalu apa efek yang bisa ditimbulkan. Menurut penuturan yang dituangkan ke dalam berita, efek dari penggunaan rokok jenis baru ini bisa membuat seseorang seperti ditimpa seekor gorila besar.

Memang tembakau itu bukanlah jenis narkotika yang bisa menyebabkan pemakai menjadi kecanduan.

Melihat perkembangan yang terjadi di masyarakat, Kementerian Kesehatan merevisi perubahan penggolongan narkotika melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No 2 Tahun 2017. Beberapa narkoba jenis baru masuk dalam permenkes yang ditandatangani Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek, pada 5 Januari 2017.

Salah satunya, tembakau Gorila yang mengandung zat AB-CHMINACA. Kandungan tersebut membuat tembakau yang membuat penggunannya disebut-sebut merasa tertimpa gorila itu masuk dalam golongan I.

Di Bandung, awal tahun ini kepolisian langsung bergerak menyelidiki peredaran tembakau gorila.

Ancaman hukuman pengedar maupun pengguna narkoba yang disebut-sebut ganja sintetis itu cukup berat. Pengguna dan pengedarnya bisa dipenjara paling lama 12 tahun.

Seperti di kota lain, polisi mendapatkan fakta bahwa penjualan tembakau gorila dilakukan secara online dan tidak dilakukan terbuka seperti menjual rokok biasa.

Sebelum marak dan mencuat ke permukaan, polisi di Bandung pernah menemukan pengguna tembakai yang dicampur zat kimia tersebut. Menjelang Februari, polisi mencatat peredaran tembakau gorila berkurang setelah Kementerian Kesehatan memasukkannya ke dalam jenis narkoba baru.

Setelah tembakau sintetis gorila ramai diperbincangkan, jagat maya kembali dikejutkan dengan kehadiran tembakau sintetis baru bernama gajah-gajah. Kemarin, polisi merilis kasus narkoba barang buktinya tembakau gajah. Tembakau tersebut diketahui sebagai narkoba golongan satu. Dari keterangan tembakau ini memiliki kekuatan lebih dari tembakau sintetis gorila.

Dari keterangan, kedua tembakau ini marak di kalangan muda dan remaja. Pengedar yang diamankan pihak kepolisian karena kedapatan mengedarkan tembakau gajah, berusia 22 tahun. Kepada polisi ia mengaku mengonsumsi tembakau gajah selama tiga bulan. Penuturannya efek dari tembakau sintetis gajah ini bisa membuat halusinasi dan sampai tak sadarkan diri.

Kaum muda dan remaja menjadi sasaran dari pengedar kedua tembakau sintetis mengerikan ini. Kewaspadaan tingkat tinggi bagi generasi muda. (*)

Naskah ini juga bisa Anda baca di koran Tribun Jabar edisi Jumat (3/2/2017).

Penulis: fam
Editor: ddh
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help