TribunJabar/

Sorot

Jalan Tol Atau Jalur Kereta Api

Sayangnya salah satu infrastruktur yang diharapkan jadi solusi kepadatan dan kemacetan lalu lintas antara Kota bandung dan . . .

Jalan Tol Atau Jalur Kereta Api
dok. pribadi / facebook
Adityas AA, Wartawan Tribun Jabar 

Oleh: Adityas AA, Wartawan Tribun Jabar

PULAU Jawa kian padat. Di pulau yang seolah menjadi pusat Indonesia ini, disesaki sekitar 127 juta jiwa dari total sekitar 255 juta penduduk negara kepulauan terbesar di dunia ini. Dari jumlah sekitar 127 juta di pulau Jawa tersebut, provinsi paling padat adalah Jawa Barat yang berpenduduk sekitar 47 juta jiwa.

Dari jumlah 47 juta jiwa tersebut, Bandung Raya yang meliputi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi, berpenduduk sekitar 10 juta jiwa. Kawasan Bandung Raya merupakan tempat berpopulasi terpadat kedua setelah Jakarta.

Dengan penduduk yang padat, maka infrastruktur pendukung transportasi demi kelancaran pergerakan penduduk adalah hal yang mutlak dibangun. Infrastruktur jalan raya dan rel kereta api mutlak diperlukan guna mendukung transportasi massal yang mau tidak mau harus ada.

Sayangnya salah satu infrastruktur yang diharapkan jadi solusi kepadatan dan kemacetan lalu lintas antara Kota bandung dan Kabupaten Bandung, yaitu Tol Soreang-Pasirkota (Soroja) hingga kini belum rampung.

Pembangunan yang berlangsung sejak September 2015, tak kunjung selesai. Awalnya, Tol Soroja ditarget tuntas Juli 2016, kemudian diundur menjadi September 2016, Desember 2016, dan baru-baru ini ditargetkan kembali April 2017. Jika rampung, jalan Tol Soroja ini akan menjadi penghubung Kota Bandung dengan jalan nasional Soreang-Ciwidey-Cianjur Selatan. Karenanya, jalan tol ini akan membuat perekonomian di kawasan selatan Bandung tersebut makin menggeliat.

Sebetulnya pembangunan tol diperlukan untuk suatu wilayah yang kian hari kian padat penduduk dan kendaraan bermotor. Tapi satu pertanyaan menggelitik, mengapa tidak mendahulukan atau memprioritaskan pengaktifan kembali jalur kereta api Bandung-Ciwidey via Soreang yang dibangun kolonial Belanda pada 1923 sepanjang 47,5 km. Bukankah jalurnya sudah ada dan tanah di lintasan tersebut milik PT KAI.

Ini sebenarnya akibat kesalahan kita bersama yang menelantarkan transportasi kereta api dan membiarkan produsen mobil dan motor sebebas-bebasnya menjual ke masyarakat, sehingga masyarakat dapat membeli mobil, motor, atau naik angkutan umum jalan raya. Sementara jalur KA akhirnya mati dan jalur relnya dijejali rumah, ruko, jalan, bahkan dipreteli.

Memang mobil atau motor sekitar 30 atau 40 tahun silam dirasa lebih efektif daripada kereta api yang lambat dan manajemennya berantakan. Namun saat ini, di abad ini, setelah mobil, motor, dan penduduk kian banyak, yang terjadi adalah kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas. Sementara di negeri-negeri lain, termasuk negara tetangga, transportasi massal berbasis rel dirawat dan dikembangkan hingga menjadi solusi kesemrawutan lalu lintas.

Sekitar Oktober 2016 Menteri BUMN, Rini Soemarno, dan PT KAI setuju untuk mengaktifkan kembali jalur kereta api Bandung-Ciwidey yang melintasi Soreang. Rencanan tahun ini reaktivasi jalur KA tersebut dilaksanakan.

Kita berharap dengan segera selesainya jalur KA ini dan juga Tol Soroja, plus kebijakan- kebijakan pemerintah yang berpihak pada transportasi massal terintegrasi, maka pergerakan penduduk di wilayah Bandung Raya yang makin padat ini dapat lebih lancar dan nyaman. (*)

Naskah ini juga bisa Anda baca di koran Tribun Jabar edisi Kamis (2/2/2017).

Penulis: Adityas Annas Azhari
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help