TribunJabar/
Home »

Opini

Buku Pilihan

Cerpen-Cerpen Segar dan Dinamis Si Burung Merak

Siapa nyana, Rendra ternyata juga pernah menulis sejumlah cerita pendek dan sebagian sudah pernah dikumpulkan dalam buku Ia Sudah Bertualang.

Cerpen-Cerpen Segar dan Dinamis Si Burung Merak
Internet
Buku Pacar Seorang Seniman

Judul: Pacar Seorang Seniman
Pengarang: W.S. Rendra
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Oktober 2016
Tebal: 196 Halaman
Harga: Rp 49.000

W.S. RENDRA itu puisi dan drama. Setidaknya, itulah yang umumnya dipahami khalayak sastra mengenai Si Burung Merak. Ia sudah menerbitkan sekian banyak kumpulan puisi: Ballada Orang-orang Tercinta, Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, Sajak-sajak Sepatu Tua, Mencari Bapak, Perjalanan Bu Aminah, Nyanyian Orang Urakan, dan lain-lain. Begitu pula naskah dramanya: Orang-orang di Tikungan Jalan, Bib Bob Rambate Rate Rata, Selamatan Anak Cucu Sulaiman, Mastodon dan Burung Kondor, dan seterusnya.

Siapa nyana, Rendra ternyata juga pernah menulis sejumlah cerita pendek dan sebagian sudah pernah dikumpulkan dalam buku Ia Sudah Bertualang. Ia menulis cerita pendek pada kurun 1950-an dan 1960-an—setelah itu, ia lebih banyak menulis puisi dan esai.

Kini, tiga belas cerpen terkumpul dalam buku ini, Pacar Seorang Seniman, yang diambil dari salah satu judul cerpennya. Beberapa cerpen diambil dari buku Ia Sudah Bertualang. Sebagian lain diambil dari majalah Kisah dan majalah Sastra.

Ke-13 cerpen itu adalah "Pacar Seorang Seniman", "Ia Punya Leher yang Indah", "Ia Teramat Lembut", "Pertemuan dengan Roh Halus", "Orang-Orang Peronda", "Muka yang Malang", "Ia Masih Kecil", "Sehelai Daun Dalam Angin", "Pohon Kemboja", "Ia Membelai-belai Perutnya", "Gaya Herjan", "Wasya, ah, Wasya", dan "Napas Malam".

Renda lahir tahun 1935, jadi ia menulis cerpen itu pada usia 20-an tahun. Karena itu, cerpen- cerpennya terasa segar, dinamis, bebas, dan hidup. Sebagai seorang pemuda, tema cinta teramat dekat dengan hidupnya. Sebagian besar cerpen di dalam buku ini pun berkisah tentang cinta muda-mudi yang penuh gairah, terkadang nakal, tapi selalu penuh makna. Ada pula cerpen- cerpen yang mengangkat tema keluarga, persahabatan, serta kisah-kisah keseharian lainnya.

Yang pasti, Rendra lebih bercerita tentang manusia. Mungkin ia mengangkat kisah teman- temannya sendiri. Mungkin pula ia menceritakan dirinya sendiri melalui kisah orang lain. "Saya sangat gemar pada gadis-gadis. Sejak di sekolah rendah, sudah biasa saya bercinta-cintaan. Tentunya cinta kanak-kanak. Dan, mungkin bukan salah saya kalau berkali-kali berganti-ganti gadis yang kucintai." (Halaman 30)

Di sisi lain, cerpen-cerpen dalam buku ini bisa pula menjadi semacam rekaman kehidupan pada zamannya, terutama kalangan seniman, dengan latar tempat Kota Yogyakarta. "Pagi ini Maryam akan dilukis pelukis Nadjib, tunangannya sendiri. Ia menumpang kereta andong yang ditarik kuda yang disewa Paman Kirdjo secara berlangganan itu sampai ke Pasar Gede, tempat di mana Paman Kirdjo berdagang kelontong, dari sana ia akan terus berjalan ke Gamelan." (Halaman 15)

Secara keseluruhan, kisah-kisahnya sederhana dan realistis. Nyaris tidak ada yang surealistis—gaya yang masih jarang pada zamannya—termasuk pada cerpen "Pertemuan dengan Roh Halus". Sebagian malah lebih pantas disebut sketsa, bukan cerpen seutuhnya, misalnya "Orang-Orang Peronda". Namun, di balik kesederhanaan itu terdapat kekuatan: Rendra terkesan jujur menulis kisah-kisahnya, apa adanya.

Apa pun, buku ini pantas diapresiasi para penikmat sastra. Mereka yang menyukai gaya cerita tahun 50 dan 60-an akan merasa seperti bernostalgia. Mereka yang lahir di zaman jauh setelahnya bisa melihatnya pula sebagai "catatan sejarah" yang sangat berharga. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help