Sorot

Honorer

PERMASALAHAN mengenai pengangkatan tenaga honorer ini memang menjadi masalah yang pelik tanpa berkesudahan.

Honorer
DOKUMENTASI TRIBUN JABAR
Dicky Fadiar Djuhud, Wartawan Tribun. (FOTO: TRIBUNNEWS / FX ISMANTO) 

Oleh Dicky Fadiar Djuhud

"APA yang salah dengan penjaga kantin dan tukang fotokopi kalau jadi honorer. Kalau memang dia punya kemampuan, memangnya tidak boleh jadi honorer," ujar seorang teman membuka percakapan.

Iya. Judul headline Tribun Jabar, Selasa (24/1), "Surat Bupati Sumedang Janggal" sempat membuat saya dan beberapa teman di warung kopi memperdebatkannya.

Baca: Heboh! Penjaga Kantin dan Tukang Fotokopi Mendadak Jadi Tenaga Honorer

Namun, beberapa saat kemudian, setelah tuntas membaca keseluruhan dari berita yang sempat membuat geger masyarakat di Kabupaten Sumedang.

Bahkan selama sehari penuh, Selasa kemarin, menempati posisi teratas sebagai berita populer di portal Tribun Jabar. Barulah teman dan beberapa orang lainnya yang ada di warung kopi mengangguk-angguk.

"Pantas saja, ternyata masalahnya bukan penjaga kantin atau tukang fotokopi. Ya, jelas aneh ini. Ada seribu enam ratus lebih honorer yang selama ini terdaftar, tiba-tiba muncul ratusan orang baru. Mestinya yang seribu enam ratus ini yang didahulukan, segera dilegalkan, bukan mengambil ratusan orang baru," kata teman saya itu lagi sambil geleng-geleng kepala.

Sebenarnya, masalah honorer ini kerap terjadi di sejumlah wilayah di tanah air. Khusus di Kabupaten Sumedang, masalah honorer menjadi benang kusut dalam pengadaan pegawai.

Muasalnya, sejak honorer bisa diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS), tiba-tiba jumlah honorer melonjak menjadi 7 ribu-an lebih. Padahal sebelumnya, jumlah tenaga honorer di Sumedang ini hanya ratusan.

Apa yang terjadi di Sumedang, baru letupan kecil. Semoga tidak merembet ke wilayah lain. Tentu, pihak yang bertanggung jawab segera mengambil tindakan agar jangan sampai berlarut-larut.

Terlepas dari kekeliruan ini bermula dari masalah admnistrasi, seyogianya hal-hal seperti ini diantisipasi jauh-jauh hari. Jangan menjadi kebiasaan, 'ribut' dulu baru 'beres-beres' kemudian. Haruskah selalu demikian?

Halaman
12
Penulis: dic
Editor: dic
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help