Coffee Break

Sang Habib

Tentu saja tidak berarti saya membayangkan Rizieq Shihab akan masuk rumah sakit jiwa. Tidak sama sekali. Lagi pula, dia bukan mantan calon rahib.

Sang Habib
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

MEMBAYANGKAN Habib Muhammad Rizieq Shihab pada hari-hari terakhir ini, entah mengapa, saya teringat pada deskripsi pembuka novel Merahnya Merah karya Iwan Simatupang: "Sebelum revolusi, dia calon rahib. Selama revolusi, dia komandan kompi. Di akhir revolusi, dia algojo pemancung kepala pengkhianat-pengkhianat tertangkap. Sesudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa."

Tentu saja tidak berarti saya membayangkan Rizieq Shihab akan masuk rumah sakit jiwa. Tidak sama sekali. Lagi pula, dia bukan mantan calon rahib. Saya hanya ingin mengatakan betapa cepatnya perubahan nasib sang Habib. Sebulan-dua bulan lalu namanya melejit sebagai ulama paling berpengaruh di negeri ini. Ia dihormati ratusan ribu—ia sendiri mengklaim tujuh juta—peserta "aksi damai 212". Oleh para pengagumnya, ia dianggap mewakili pemimpin umat Islam Indonesia—sampai-sampai digelari "imam besar umat Islam Indonesia", bahkan ada yang menyebutnya "Umar bin Khattab masa kini". Namun, dalam sepekan terakhir, ia menghadapi sejumlah laporan penistaan.

Sulit memang mendefinisikan siapa sebenarnya Habib Rizieq Shihab. Apakah ia benar-benar mewakili gambaran seorang ulama Islam? Tapi bukankah ulama Islam mestinya selalu berbicara santun dan membawa kedamaian?

Satu hal, saya selalu mengagumi orang-orang muda yang mencatat prestasi hebat. Soekarno dan Soeharto menjadi presiden pada usia yang hampir sama, 45 tahun. BJ Habibie menjadi menteri pada usia 42 tahun. Jokowi menjadi wali kota Solo, Ahmad Heryawan menjadi gubernur Jabar, Dedi Mulyadi menjadi bupati Purwakarta, dan sebagainya, pada usia yang rata-rata masih muda.

Saya juga di satu sisi mengagumi Rizieq, yang pada 17 Agustus 1998, saat berusia 33 tahun, mendirikan Front Pembela Islam. Rizieq lahir di Jakarta, 24 Agustus 1965, dari pasangan Habib Husein bin Muhammad Shihab dan Syarifah Sidah Alatas. Ayahnya meninggal saat ia berumur 11 bulan. Sejak berumur empat tahun, ia rajin mengaji di masjid-masjid. Ibunya, yang sekaligus berperan sebagai bapak dan bekerja sebagai penjahit pakaian serta perias pengantin, sangat memperhatikan pendidikan Rizieq dan satu anaknya yang lain.

Lulus SMA, Rizieq meneruskan studinya di Universitas Raja Saud, Arab Saudi, yang diselesaikan empat tahun dengan predikat cum-laude. Rizieq juga pernah kuliah untuk mengambil S2 di Malaysia, tetapi hanya setahun.

FPI mulai dikenal saat terjadi Peristiwa Ketapang, Jakarta, 22 November 1998, ketika sekitar 200 anggota FPI bentrok dengan ratusan preman. Bentrokan bernuansa SARA itu mengakibatkan beberapa rumah warga dan rumah ibadah terbakar serta menewaskan sejumlah orang.

Pada 30 Oktober 2008 Rizieq divonis 1,5 tahun penjara karena dinyatakan bersalah dalam kaitan dengan penyerangan terhadap massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) pada Insiden Monas, 1 Juni 2008. Pada 20 April 2003, Rizieq ditahan karena dianggap menghina Polri lewat dialog di SCTV dan Trans TV. Ia sempat dibawa kabur pendukungnya, tapi akhirnya divonis 7 bulan penjara oleh majelis hakim PN Jakarta Pusat pada 29 Juli 2003. Pada 13 November 2015, ia juga menjadi sorotan saat berceramah di Purwakarta memelesetkan kata sampurasun menjadi campur racun. Padahal, dalam bahasa Sunda, sampurasun bisa diartikan sebagai salam hormat dan doa.

Toh, semua catatan itu tidak melunturkan karismanya sehingga ia berhasil menjadi magnet "aksi 411" dan "aksi 212".

Mungkin dari situlah sang Habib merasa posisinya sebagai ulama dan sebagai tokoh negeri ini makin kuat. Ia pun tambah agresif mengkritik pihak-pihak lain yang dianggap tidak sejalan dengan ajarannya.

Dan, mungkin, ia tidak menyangka akan mendapat serangan balik beruntun. Ia dilaporkan AMS karena kasus "campur racun". Ia dilaporkan Sukmawati atas kasus penghinaan Pancasila karena mengatakan "Pancasila Soekarno ketuhanan ada di pantat, sedangkan Pancasila Piagam Jakarta ketuhanan ada di kepala." Ia dilaporkan PMKRI karena menyinggung umat Kristen, "Kalau Tuhan beranak, bidannya siapa?" Ia dilaporkan Solidaritas Merah Putih dan Jaringan Intelektual Anti Fitnah atas kasus "palu arit" di uang rupiah yang diterbitkan BI. Ia juga dilaporkan karena mengatakan "Di Jakarta Kapolda mengancam akan mendorong Gubernur BI untuk melaporkan Habib Rizieq. Pangkat jenderal otak hansip."

Kita masih menunggu bagaimana kelanjutan kisah sang Habib.

Tapi tentu saya tidak berharap ia akan mengalami nasib seperti Gregor Samsa dalam novel pendek Metamorfosis karya Franz Kafka: "Suatu pagi, ketika Gregor Samsa bangun dari mimpi buruknya, ia menemukan dirinya sudah berubah menjadi serangga." (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved