Coffee Break

Pilgub (Bukan) Rasa Pilpres

Saya tiba-tiba membayangkan para cagub dan cawagub Jawa Barat pun akan terlibat dalam debat yang setara semaraknya tahun depan.

Pilgub (Bukan) Rasa Pilpres
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

SETELAH menonton debat pertama calon gubernur-calon wakil gubernur DKI Jakarta, Jumat malam lalu, saya tiba-tiba membayangkan para cagub dan cawagub Jawa Barat pun akan terlibat dalam debat yang setara semaraknya tahun depan. Mungkin ada tiga pasangan yang akan bersaing memperebutkan posisi Jabar-1. Boleh saja kita membayangkan Ridwan Kamil, Dedi Mulyadi, dan Netty Prasetyani Heryawan atau Deddy Mizwar akan berkompetisi. Mungkin juga empat pasangan, yakni ditambah satu yang didukung PDI-P—entah siapa. Tidak mungkin PDI-P tidak mengajukan calon, kan?

Saya juga membayangkan debat mereka akan disiarkan langsung oleh sejumlah televisi nasional, dipandu oleh pembawa acara yang cantik dan cerdas. Mereka akan menyampaikan visi dan misi mereka, kemudian saling serang satu sama lain, guna mengangkat diri sendiri di mata calon pemilih. Mungkin, seperti biasa, mereka akan mengumbar janji manis untuk menyejahterakan rakyat: pendidikan dan kesehatan gratis, bla-bla-bla.

Namun, tidak lama kemudian bayangan saya memudar. Pilgub Jabar akan berbeda dengan Pilgub DKI. Meskipun letaknya tetanggaan, Jabar bukanlah DKI. Jabar didominasi warga Sunda, sedangkan DKI seakan merupakan Indonesia mini: terdiri atas bermacam suku dan agama. Pilgub DKI juga disebut-sebut sebagai "pilgub rasa pilpres". Pilpres yang dimaksud terutama Pilpres 2014. Saat itu rakyat Indonesia terbelah dua, menjadi pro-Jokowi dan pro-Prabowo, dengan level persaingan yang sangat panas—membara dan bergolak. Banyak cara digunakan, termasuk cara- cara yang tidak terpuji seperti fitnah, untuk menjatuhkan lawan. Kita tahu, perpecahan itu masih terasa sampai sekarang. Dan membara lagi menjelang Pilgub DKI.

Mengapa bisa demikian? Karena Ahok, sang petahana, dianggap sebagai satu kubu dengan Jokowi, sedangkan Agus dan Anies berada di kubu yang berseberangan. Persaingan Ahok, Agus, dan Anies disebut-sebut sebagai persaingan Megawati, SBY, dan Prabowo. Tanpa ada keputusan Megawati, PDI-P takkan mencalonkan Ahok. SBY jelas menunjuk sang anak sulung. Prabowo pun nyata-nyata berperan penting menunjuk Anies.

Dan, meskipun ada tiga calon, orang akan bisa melihat bahwa persaingan sesungguhnya berlangsung antara pro-Ahok dan anti-Ahok—tidak peduli Agus atau Anies yang menang nanti, yang penting bukan Ahok. Setidaknya gejala itu sangat terasa terutama sejak aksi 411 dan 212. Orang boleh yakin bahwa kedua aksi itu semata-mata membela Islam, tapi tak dapat dimungkiri bahwa aroma politis tercium kuat di seputar aksi-aksi itu.

Nah, mengapa Pilgub Jabar tahun depan tidak akan seseru Pilgub DKI? Karena di antara bakal calon gubernur Jabar tidak ada sosok calon kontroversial yang mirip Ahok—berasal dari minoritas ganda: nonmuslim dan Tionghoa, serta dianggap melakukan penistaan agama. Kita bisa memperkirakan bahwa para calon gubernur Jabar mendatang akan berasal dari kelompok agama yang sama. Demikian juga kesukuannya. Jadi, kecil kemungkinan akan terjadi saling serang berbau SARA. Mungkin akan muncul letupan kecil beraroma SARA, misalnya Dedi Mulyadi yang dianggap tidak benar-benar mewakili Islam karena penampilannya yang Sunda "wiwitan". Barangkali juga akan ada serangan terhadap siapa pun calon dari PDI- P—bagaimanapun, partai ini dianggap tidak mewakili Islam. Namun, tetap level persaingannya masih jauh di bawah level persaingan Pilgub DKI.

Jadi, seperti apa kira-kira debat para cagub Jabar tahun depan? Mungkin seperti ini: lebih banyak canda dan tawa. Maklumlah, orang Sunda, kan, tersohor dengan candaannya. Dan tidak akan banyak stasiun televisi yang menyiarkannya. Tapi bisa juga saya keliru. Biarlah waktu yang kelak akan menjawabnya.

Yang pasti, debat pertama para cagub DKI menyita perhatian banyak warga, tidak hanya warga DKI, tapi rakyat seluruh Indonesia. Media sosial ramai dengan pembahasan, analisis, atau celetukan tentang debat Pilgub DKI.

Agus untuk pertama kalinya tampil di acara debat yang disiarkan televisi. Ia tampil percaya diri, dengan materi yang terkesan sudah hafal di luar kepala. Silvi, pasangannya, tidak kalah pede meski jawabannya sempat dianggap tidak nyambung oleh Anies.

Ahok lebih santun daripada biasanya. Ia juga terkesan enggan menyerang terlalu frontal meskipun ada beberapa kali kesempatan. Jarot sempat salah sebut angka.

Anies lebih menekankan kekuatan kata—seperti sastra. Ia mengutip Bung Karno, "Banyak bekerja dan banyak berkata," bukan sepi ing pamrih rame ing gawe gaya Jawa. Sandi tidak banyak mendapat kesempatan bicara, seperti biasa.

Menurut Anda, siapa yang tampil paling baik?

Saya, sih, pilih Ira Kusno, sang moderator. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved