TribunJabar/
Home »

Opini

Buku Pilihan

Mengubah Wilayah Paling Miskin Menjadi Sejahtera

Buku ini menguraikan kisah luar biasa yang menginspirasi dunia dan wajib dibaca oleh mereka yang mendambakan perubahan.

Mengubah Wilayah Paling Miskin Menjadi Sejahtera
Internet
Buku Curse to Blessing

Judul: Curse To Blessing
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, November 2016
Tebal: 249 Halaman
Harga: Rp 69.000

ANDA tahu di mana Bojonegoro? Kalau tidak tahu, boleh jadi Anda tidak sendirian. Bojonegoro memang bukan kota atau kabupaten yang terkenal di Jawa Timur. Kepopulerannya kalah dibanding dengan Surabaya, Malang, Banyuwangi, dan mungkin Jember.

Sejak masa kolonial Belanda, Bojonegoro justru termasyhur karena kemiskinannya. Sampai-sampai C.L.M. Penders, seorang sejarawan Australia, menyebutnya sebagai endemic poverty. Bojonegoro bahkan disebut-sebut sebagai salah satu daerah termiskin dan paling terbelakang di Pulau Jawa. Permasalahan Bojonegoro begitu kompleks, mulai dari kontur tanahnya yang labil hingga banjir dan kekeringan yang silih berganti.

Namun, belum lama ini Bojonegoro mendapat berkah. Tanahnya menyimpan potensi migas yang besar. Sebagian besar wilayah lokasi tambang minyak yang disebut Blok Cepu itu berada di Bojonegoro. Jika tidak diolah dengan baik, berkah itu bisa menjelma musibah. Untunglah, masyarakat Bojonegoro tidak lagi terbuai oleh "konsep anugerah". Kini, pendapatan migas disisihkan untuk dana abadi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Kondisi ini tentunya tidak terjadi dengan tiba-tiba. Ada faktor leadership yang mampu membawa masyarakat pada "konsep perjuangan". Transformasi Bojonegoro lahir dari terobosan- terobosan pimpinannya yang asertif, inovatif, dan berani menantang arus.

Buku ini berisi 13 bab, yang masing-masing diberi judul "Paradox of Plenty", "Bojonegoro's Miracles: Konsep Perjuangan", "Mental Pengusaha ke Pelayan", "Disruptif Birokrasi: Break The Great Wall", "Transformasi Komunal ke Publik: Membasmi Kutu", "Pendekatan Bahasa Masyarakat: Semakin Dekat Semakin Rekat", "No One Left Behind", "Keluar dari Lingkaran Kemiskinan", "Hidup Harmonis dengan Korporasi", "Harmonisasi Antarlini: Team Player", "Mengajak Masuk Korporasi", "Leading with Philosophy", dan "Menampung Air Membangun Pacal: Epilog".

Nah, siapa pemimpin yang boleh dikata berhasil membawa Bojonegoro meningkatkan diri dari daerah paling miskin? Dia tak lain H. Suyoto, Bupati Bojonegoro. "Tidak ada kabupaten yang miskin, yang ada hanyalag kabupaten yang salah urus," kata Suyoto (halaman 123).

Kang Yoto, panggilan akrab sang bupati, tidak hanya mengandalkan migas. Ia bahkan menciptakan semacam blessing in disguise (berkah dalam bencana), yakni mengajak penduduk untuk tidak membenci banjir, bencana yang akrab dengan masyarakat karena lokasinya dekat dengan Bengawan Solo. Muncul ide di masyarakat: budi daya belimbing, tanaman yang dapat tumbuh di tanah yang langganan banjir.

Tentu tidak hanya itu. Dr. Rhenald Kasali, penulis buku ini, menguraikan secara komprehensif berbagai sisi keberhasilan Bojonegoro. Rhenald, dosen Fakultas Ekonomi Uiversitas Indonesia dan Ketua Program Pascasarjana Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi UI yang menghasilkan magister dan doktor dalam ilmu manajemen, tidak perlu diragukan lagi kapasitas intelektualitasnya untuk menggali berbagai sisi keberhasilan Bojonegoro.

Buku ini menguraikan kisah luar biasa yang menginspirasi dunia dan wajib dibaca oleh mereka yang mendambakan perubahan. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help