TribunJabar/
Home »

Fiksi

» Cerpen

Cerpen A Warits Rovi

Huruf-Huruf yang Menetas Jalan ke Surga

Ia duduk membisu, pikirannya teringat pada kata-kata istrinya dalam sebuah percakapan singkat beberapa menit sebelum ia berangkat.

Huruf-Huruf yang Menetas Jalan ke Surga
Ilustrasi Huruf-Huruf yang Menetas Jalan ke Surga 

HAMID tiba di meja kerjanya. Ia duduk membisu, pikirannya teringat pada kata-kata istrinya dalam sebuah percakapan singkat beberapa menit sebelum ia berangkat.

"Kesehatan saya belum pulih, Mas. Saya masih harus berobat lagi dan anak kita masih butuh susu. Tapi Mas Hamid tidak punya uang. Ini bagaimana, Mas? Sebaiknya Mas Hamid mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan."

"Saya ke madrasah bukan untuk mencari duit, Sayang. Saya ikhlas mengabdi. Kalaupun ada honor, itu bukan tujuan, Sayang."

"Mas Hamid pergi untuk mengabdi, tapi di rumah meninggalkan kewajiban."

"He-he. Sabar, demi surga, Sayang."

Percakapan itu kini membuat pikiran Hamid sedikit ruwet. Sejenak ia menoleh ke arah jendela bercat hijau, yang gordennya tersingkap tali pita kuning yang diikat ke engsel, bingkai kayunya sebagian telah keropos, dan pandangan Hamid menerobos kacanya yang agak mengembun; tembus ke luar. Ke antara rumput dan jalan, melihat baris pohon akasia bercumbu dengan angin, melihat burung-burung di pinggang bukit hijau, hingga di kejauhan. Di titik terjauh, pada garis horizon yang berpintal warna jingga matahari pagi, ia melihat sekelebat anak dan istrinya sedang berjalan pelan di setapak jalan putih, menuju surga.

"Yakinlah, Sayang. Bahwa jalan kita adalah jalan ke surga," gumamnya. Kemurungan yang sedari datang menyelimuti wajahnya mulai berganti senyum. Ia menyalakan komputer, kembali jemarinya memencet tuts, memunculkan huruf-huruf di layar monitor. Huruf yang menetas jalan berliku ke arah surga. Hamid tersenyum.

Sudah enam tahun Hamid menjadi TU di MTs Al-Khair. Gelar sarjana yang ia peroleh tidak digunakan untuk mencari kerja, tapi digunakan untuk mengabdi kepada almamaternya, tempat ia dulu mondok. Awal mula, ketika Hamid baru wisuda, sebelum ia menikah, Kiai—pengasuh pondok pesantren—memintanya membantu mengerjakan tugas-tugas administrasi madrasah. Ia ditempatkan di jenjang madrasah tsanawiyah atau MTs. Saat baru masuk ia menjadi staf TU. Setahun setelah itu akhirnya ia diangkat menjadi kepala TU.

Sebagai kepala TU yang bertugas di madrasah, Hamid tidaklah dengan santai memerintah bawahan untuk mengerjakan tugas. Namun ia juga harus terlibat aktif agar tugas-tugas cepat selesai tepat waktu. Hal itu dilakukan selain untuk memberi keteladanan bagi bawahan sekaligus juga karena di pesantren tidak ada istilah bersantai ria dengan memanfaatkan kekuasaan seorang pimpinan, tetapi semua elemen—termasuk pimpinan—harus aktif bekerja karena hanya dengan sebuah pekerjaan nilai sebuah pengabdian akan diperoleh.

Hamid meyakini pengabdian sebagai tetesan kesucian hati yang mulia dan akan mengental jadi sebuah jalan lapang ke surga. Ketika ingat surga, maka apalah arti kehidupan dunia, seolah tidak penting. Demikian yang ada di pikiran Hamid sehingga ia tetap bersemangat bekerja meski honor yang diperoleh turun tiap dua bulan sekali dengan nominal yang sangat kecil. Keyakinan Hamid itu juga melahirkan keyakinan lain bahwa ketika ia mengabdi maka segala urusan akan ditanggung oleh Allah. Itulah sebabnya ia selalu bersikap santai merespons permintaan istrinya yang hendak berobat karena penyakit kanker. Ia juga merespons biasa saja kepada anaknya yang minta susu.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help