Hari Jadi LVRI ke 60

Kisah Perempuan Veteran Asal Jabar: Maut Selalu Mengintai dalam Tugasnya Sebagai Mata-mata

Wanita yang tinggal di Jalan Rakata nomor 79 RT 1/1, Kelurahan Merdeka, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung ini masih . . .

Kisah Perempuan Veteran Asal Jabar: Maut Selalu Mengintai dalam Tugasnya Sebagai Mata-mata
TRIBUN JABAR/TEUKU MUH GUCI S
Siti Fatimah (85), veteran yang pernah menjadi mata-mata di Monumen Perjuangan, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Selasa (10/1/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar Teuku Muh Guci S

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID – Namanya Siti Fatimah (85). Dia wanita yang termasuk veterang perang pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Wanita kelahiran Kabupaten Kuningan ini menjadi salah satu peserta yang hadir dalam perayaan hari jadi Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) ke-60 di Monumen Perjuangan (Monju), Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Selasa (10/1/2017).

Wanita yang tinggal di Jalan Rakata nomor 79 RT 1/1, Kelurahan Merdeka, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung ini masih terlihat
sehat di usianya tersebut. Ia masih berjalan dengan tegak ketika pulang dari perayaan hari jadi LVRI.

Tak hanya sehat, Siti pun masih mengingat bagaimana perjuangannya ketika mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari rongrongan Belanda yang ingin kembali menjajah. Wanita dengan 10 anak itu pernah berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kabupaten Kuningan.

Namun perjuangan yang dilakukannya bukan sebagai tenaga medis seperti veteran wanita pada umumnya atau ikut berperang di medan perang. Anak dari pasangan Almarhum Ahmad Bagja dengan Uni Mulyani itu pernah menjadi spion atau mata-mata tentara gerilya pada 1947. Waktu itu Siti masih berusia belasan tahun ketika bertugas sebagai mata-mata tentara gerilya yang ada di perbatasan Kabupaten Kuningan atau tepatnya di Kecamatan Ciwaru.

“Waktu itu saya usianya masih 15 tahun,” kata Siti ketika berbincang dengan Tribun di Monju.

Gadis asal Kampung Ciwaru, Desa Lebakherang, Kecamatan Ciwaru itu memiliki tugas yang berat selama menjadi mata-mata. Tanpa latihan ataupun persiapan, ia memiliki tugas penting untuk mempertahankan kemerdekaan. “Jadi waktu itu langsung praktik aja, tidak pakai latihan segala,” kata Siti.

Selain harus memantau kekuatan tentara Belanda, Siti juga bertugas sebagai pembawa pesan dari tentara gerilya ke pejuang yang ada di
pusat pemerintahan Kabupaten Kuningan waktu itu.

“Kalau ada tugas, saya harus pulang dan pergi Kecamatan Ciwaru ke pusat kota. Kadang-kadang saya juga harus bawa bekal atau alat-alat medis,” kata Siti.

Tugasnya tersebut memang penuh risiko. Beberapa pejuang yang juga bertugas sebagai mata-mata harus berhadapan dengan maut ketika ditangkap tentara Belanda. Ia mengingat betul dua rekannya yang sesama pejuang kemerdekaan, yaitu Hudaya dan Jumat, tewas diberodong senjata otomatis penjajah.

Halaman
12
Penulis: cis
Editor: ddh
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help