TribunJabar/
Home »

Fiksi

» Cerpen

Cerita Pendek Guntur Alam

Sepasang Bocah yang Menanam Kenangan di Pekarangan Belakang

MARI menanam pohon kenangan, ajakmu, sebelum banjir merah menggenangi jalan kompleks depan rumah kita.

Sepasang Bocah yang Menanam Kenangan di Pekarangan Belakang
Ilustrasi Taraju Pohon Kenangan 

POHON KENANGAN

MARI menanam pohon kenangan, ajakmu, sebelum banjir merah menggenangi jalan kompleks depan rumah kita. Lalu, kita menggali lubang dengan jari-jemari kita yang masih mungil. Tanah memenuhi kukumu. Tumben, kau tidak bergidik jijik. Biasanya kau tak suka bermain sampai kotor. Ibuku akan marah, itu alasan yang sering kau ucapkan dan bayangan wajah ibumu yang dingin, bengis, bertaring seperti ibunya Nobita saat marah akan memenuhi benakku.

"Apa yang harus kita tanam?" aku bertanya kembali sambil menikmati bulir-bulir keringat yang mengalir di pipi putihmu. Ingin kuseka, tapi urung. Tanganku belepotan tanah dan aku tak ingin pipi putih bersihmu ternoda. Aku membayangkan ibumu bertengger di pipimu, berkacak pinggang, memegang sapu dan dia siap menyabet jemariku yang akan menyentuh pipimu.

"Pohon kenangan," kau menjawab dengan suara mendesis, seperti udara yang berembus di antara reranting dan daun-daun kuning yang berguguran.

"Pohon kenangan. Seperti apa dia?" aku berpikir sejenak. "Apa dia semacam biji pohon ceri?" aku mengerutkan kening.

Kau terkekeh geli, riang dan renyah. "Bukan. Dia ada di sini," kau menunjuk pelipismu, "dan di sini," lalu dadamu.

Aku menelan ludah.

"Maksudmu kita harus mengubur diri hidup-hidup?" aku bergidik, bulu kudukku meremang. Kau kembali tertawa, lebih nyaring, lebih merdu, lebih syahdu.

"Bodoh!" kau mendorong keningku, aku menyeringai, memamerkan gigi dan senyum tengik.

"Lalu apa?"

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help