Coffee Break

Kembali ke Zaman Batu

ENTAH bagaimana mulanya, di negeri ini tiba-tiba bermunculan orang-orang yang bertaklid buta bahwa bumi itu datar.

Kembali ke Zaman Batu
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

ENTAH bagaimana mulanya, di negeri ini tiba-tiba bermunculan orang-orang yang bertaklid buta bahwa bumi itu datar. Pengetahuan kita tak ubahnya seperti kembali ke zaman batu. Setidaknya, zaman prasejarah. Pada sekitar tahun 330 Sebelum Masehi—kira-kira 2050 tahun yang lalu—Aristoteles di Yunani sudah membuktikan bahwa bumi itu bulat. Lalu, kita akan kembali ke zaman sebelum itu? Astaga.

Alkisah, Jumat lalu seorang teman di Jakarta pulang kerja naik ojek online. Di perjalanan, seperti biasa, terjadi percakapan antara tukang ojek dan penumpangnya. Mula-mula tukang ojek mengeluh soal kenaikan tarif STNK, lalu mengkritisi habis kebijakan Jokowi menaikkan harga BBM dan TDL. "Jokowi harus direvolusi!" ucapnya. "Caranya bagaimana?" tanya teman saya. "People power."

Tiba-tiba tukang ojek mengganti topik, "Bapak percaya bahwa bumi ini datar?" Teman saya agak terperangah dengan pertanyaan itu, lalu balik bertanya, "Bapak percaya?" Dan dengan sangat yakin tukang ojek menjawab bahwa bumi ini datar, bahwa bumi yang kita tempati ini adalah suatu bidang datar. "Dalam Alquran tidak ada penjelasan bahwa bumi ini bulat!" katanya. Teman saya mengucap istigfar, kemudian membantah teori bumi datar. Namun si tukang ojek menyergah bahwa teori yang disampaikan teman saya adalah ilmu atau pengetahuan dari dunia Barat (bukan Islam).

Teman saya kemudian mencecar si tukang ojek dengan sejumlah pertanyaan andai bumi itu datar. Si tukang ojek tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Namun ketika teman saya bertanya, "Kalau bumi ini datar, kenapa manusia-manusia yang pernah ke bulan atau luar angkasa tidak pernah mengatakan bahwa bumi itu datar sebagaimana penglihatan mereka dari bulan atau luar angkasa?" tukang ojek itu menjawab, "Karena yang ke bulan itu orang-orang kafir dan komunis!"

Ketika sampai di tujuan, teman saya turun dan berkata tajam, "Pak, kita boleh membenci Jokowi, Ahok, asing, aseng, kafir, komunis, liberal, dan Yahudi, tapi tolong kita jangan jadi goblok seperti Bapak saat ini!" Sebelum tukang ojek itu menyanggah, teman saya berkata lagi, "Apabila Bapak masih cinta sama Islam dan Alquran yang penuh dengan kajian-kajian keilmuan, percayalah bahwa bumi itu bulat!"

Satu hal, si tukang ojek boleh jadi tidak tahu bahwa seorang ilmuwan muslim, Abu Raihan Al-Biruni, yang hidup sekitar 600 tahun sebelum Galileo, yakin bahwa bumi itu bulat, dan bahwa keyakinan bumi datar itu juga datang dari Barat.

Setelah ratusan tahun tenggelam karena bukti makin kuat bahwa bumi memang bulat, hipotesis modern yang mendukung teori bumi datar dicetuskan oleh seorang penemu asal Inggris, Samuel Rowbotham (1816-1884). Pada bukunya yang berjudul Earth Not a Globe, ia menulis bahwa bumi adalah sebuah cakram datar yang berpusat di Kutub Utara dan dikelilingi oleh dinding es Antarktika, sementara matahari dan bulan berjarak sekitar 4.800 km dan kosmos berjarak 5.000 km di atas bumi.

Pada 1956, Samuel Shenton mendirikan International Flat Earth Society—Masyarakat Bumi Datar Internasional. Tatkala tak berapa lama kemudian sebuah satelit mengirimkan foto-foto yang menunjukkan bahwa bumi itu bulat, anggota kelompok ini yakin bahwa "Mudah sekali melihat bahwa foto seperti itu dapat memperdayai mata yang tak terlatih." Organisasi ini juga berpendapat bahwa pendaratan Apollo di bulan adalah palsu.

Perkumpulan ini mencapai 2.000 anggota pada masa puncaknya di bawah kepemimpinan Charles K. Johnson. Mereka harus menghadapi sekian banyak bukti ilmiah dan opini publik yang meyakini bahwa bumi itu bulat. Istilah flat-earther kemudian digunakan untuk menyebut seseorang yang secara keras kepala berpegang pada ide-ide yang didiskreditkan atau ketinggalan zaman.

Dari mana si tukang ojek—dan entah berapa warga lainnya di Indonesia—menerima keyakinan bahwa bumi bulat? Teman saya pengguna ojek itu juga menulis, "Saya merenung betapa dahsyat ceramah-ceramah tentang teori bumi datar yang dikumandangkan di majelis taklim yang diikuti bapak tukang ojek ini dan betapa terbodohinya para pengikutnya." Secara tersirat, teman saya mengatakan para ustazlah yang menyebarkan keyakinan itu. Wallahualam.

Yang pasti, cobalah tengok media sosial pada hari-hari ini. Akan kita dapati banyak sekali postingan dan komentar yang menunjukkan keyakinan yang sama, dengan level fanatisme yang sulit diukur saking tingginya. Dan taklid buta itu mulai bekerja seperti virus yang berbahaya. Seorang teman yang lain bercerita bahwa anaknya, setelah menonton sebuah tayangan di televisi, mulai mempertanyakan bahwa bumi itu bulat.

Ada pertanyaan yang menggelitik kepala saya: mengapa keyakinan bahwa bumi itu datar mendadak muncul belakangan di negeri ini? Apakah ini semacam rekayasa pihak tertentu untuk meracuni otak rakyat Indonesia agar tetap dungu? (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved