TribunJabar/

Coffee Break

Selamat Tinggal 16 Selamat Datang 17

Rasanya belum lama saya menulis kolom ini dengan judul "Pergantian Tahun". Ternyata itu setahun lalu. Sekarang saya menulis dengan tema yang serupa.

Selamat Tinggal 16 Selamat Datang 17
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

GOOD Bye 73, Hello 74. Itulah kalimat yang pernah saya baca di majalah Aktuil nan legendaris, kalimat sederhana bahasa Inggris pertama yang saya baca, yang kemudian selalu muncul di kepala saya begitu datang pergantian tahun. Sudah lebih dari empat dasawarsa, ternyata. Tentu saja, kita makin bertambah usia, sekaligus berkuranglah jatah usia kita.

Rasanya belum lama saya menulis kolom ini dengan judul "Pergantian Tahun". Ternyata itu setahun lalu. Sekarang saya menulis dengan tema yang serupa. Selalu begitu, selalu merasa waktu cepat berlalu, melesat-lesat seperti peluru.

Seperti tahun-tahun lalu, saya melewati malam tahun baru 2017 di kantor. Harian tempat saya bekerja tetap terbit pada hari pertama 2017 dan saya kebetulan tidak libur. Tapi di luar kewajiban kantor, saya memang tidak suka hadir di pesta yang dihadiri ribuan, puluhan ribu, atau apalagi ratusan ribu orang. Mirip dengan lantunan Ebiet G. Ade dalam salah satu lagunya, "Saya selalu kesepian di tengah keramaian."

Kalaupun saya masih terjaga pada detik ke-0 pergantian tahun dan petasan serta kembang api merobek udara dan melukisi langit malam, saya cukup menikmatinya dari kejauhan, seraya kadang bergumam dalam hati, "Andai saja uang untuk membakar petasan dan kembang api itu dipakai untuk beramal...." Dalam banyak momen malam tahun baru, saya tidur sebelum pukul 00 dan saya tidak pernah menyesal melewatkan detik-detik perubahan tahun. Bagi saya, malam tahun baru itu sama saja dengan malam-malam yang lain. Yang berbeda hanya, besoknya, saya menulis angka tahun yang berbeda dengan hari sebelumnya.

Namun, bagi banyak orang lain, malam pergantian tahun tadi malam bisa jadi lebih istimewa dan mungkin lebih meriah karena bersamaan dengan malam Minggu pada pekan panjang. Kata anak muda jadul, malam Minggu adalah malam panjang, maka malam Minggu sekaligus malam tahun baru lebih panjang lagi. Lebih-lebih jika hujan tidak turun. Hari-hari di bulan Desember kemarin ternyata tidak selalu turun hujan sebagaimana "seharusnya" musim penghujan.

Apa pun yang kita lakukan, malam pergantian tahun adalah momen ketika kita mestinya menoleh sejenak ke belakang dan menatap mantap ke depan. Kita menoleh untuk becermin di kaca waktu yang telah kita lalui guna menilai diri: apakah yang sudah kita perbuat selama setahun terakhir? Apa saja karya kita? Apakah kita sudah bermanfaat bagi orang lain? Kalau selama 2016 catatan kita sama dengan 2015, tentu kita termasuk orang yang rugi. Apalagi kalau catatan itu lebih buruk.

Terlampau banyak peristiwa tahun lalu yang kini sudah menjadi kenangan. Anda mungkin baru saja lulus kuliah, atau menjadi pengantin baru, atau menerbitkan novel, atau memperoleh cucu pertama. Semua itu sudah menjadi kenangan indah dan Anda tak akan melupakannya. Mungkin juga Anda terlibat sengit dalam perseteruan di dunia maya, terseret dalam hiruk-pikuk saling caci di media sosial.

Yang terakhir ini memang sangat mewarnai hari demi hari sepanjang 2016. Dibanding tahun- tahun sebelumnya, polarisasi di dunia maya tahun lalu makin menggila. Orang bilang itu lanjutan polarisasi pilpres dua tahun sebelumnya. Ada benarnya. Dan polarisasi itu makin tegas menjelang pilkada 2017, terutama yang paling menyita waktu, emosi, dan tenaga: pilgub DKI, khususnya lagi karena Ahok menjadi petahana. Konflik politik bergeser ke arah sentimen agama. Masalah Jakarta tapi juga menyeret warga seluruh Indonesia.

Sentimen agama ini kemudian memunculkan sejumlah orang yang mendadak menjadi selebritas dunia maya. Salah satunya Buni Yani, yang konon master lulusan Amerika, dosen, dan jurnalis, yang mengaku "lupa" tidak mencantumkan kata pakai dalam transkrip pidato Ahok, yang memicu isu penistaan agama, ulama, dan Alquran. Atas ulahnya, Buni Yani belakangan ditetapkan menjadi tersangka. Tapi lucunya, oleh pihak tertentu, ia diberi gelar aneh: "pahlawan Islam media sosial". Entah pahlawan macam apa. Di sisi lain, heboh isu penistaan agama ini menjadi panggung baru bagi sejumlah ustaz. Mereka tampil menjadi hero baru—atau baru-tapi-lama.

Ke depan, kita mesti menatap mantap dengan bergumpal-gumpal harapan. Kita tidak boleh kecil harapan, apalagi putus asa. Tiap orang pasti memiliki harapan sendiri. Sebagian orang menuliskan resolusi tertentu, baik secara tertulis maupun dalam batin. Saya pun tentu punya target meski tidak usah saya tulis di sini.

Yang pasti, secara lebih luas, harapan saya di tahun 2017 adalah meredanya konflik dan caci- maki di antara sesama anak bangsa.

Bagaimana dengan Anda? (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help