TribunJabar/
Home »

Fiksi

» Cerpen

Cerpen Apendi

Meretas Malam

Sedikit sekali pembunuh di dunia ini yang memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan detektifnya dan dapat mengamati cara kerjanya.

Meretas Malam
Ilustrasi Meretas Malam 

BAGI seorang pembunuh, dapat mengamati cara kerja detektif ketika sedang menyelidiki kematian yang merupakan hasil karyanya adalah suatu kepuasan terbesar yang tak dapat digantikan oleh apa pun juga. Sebuah apresiasi yang dinanti-nantikan manakala si detektif berdecak kagum sekaligus kesal karena tidak menemukan sebuah petunjuk pun. Sedikit sekali pembunuh di dunia ini yang memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan detektifnya dan dapat mengamati cara kerjanya.

Oke, oke, perumpamaan tersebut mungkin terlalu dibesar-besarkan, tapi kurang lebih begitulah perasaanku malam ini. Seperti biasanya, setiap malam aku nongkrong di kafe ini untuk meretas malam—sebuah istilah yang kucuri dari sebuah judul buku karena cocok dengan pekerjaanku sebagai seorang penulis.

Aku tipe penulis yang hanya dapat bekerja pada malam hari ketika semua orang telah tertidur. Aku butuh ketenangan, privasi, dan energi malam yang pekat dan misterius. Di sisi lain, aku butuh sosialiasi. Aku butuh diyakinkan bahwa malam ini—setiap malam—ada orang-orang dengan tipe yang sama seperti diriku yang masih terjaga menanti fajar. Mengorbankan tidur untuk mengerjakan urusan yang dianggap penting dan berarti baginya.

Karena itu, hampir setiap malam semenjak buku pertamaku terbit, aku berada di kafe ini untuk menulis dan mengamati lalu lalang pengunjung serta kesibukan mereka sendiri-sendiri. Ada anak kuliahan dan pekerja kantor yang datang bersama teman atau pacarnya. Ada juga anak-anak muda yang datang sendiri sambil menenteng laptopnya. Beberapa dari mereka mungkin mempunyai bisnis rintisan sendiri, sebagian yang lainnya mungkin juga pekerja kreatif yang sama seperti diriku.

Kebanyakan dari mereka pulang sebelum matahari terbit. Tapi ada juga yang bertahan sampai pagi ketika orang-orang normal lainnya berangkat kerja. Di antara mereka ada seorang gamer yang menarik perhatianku. Entah bagaimana caranya, pemuda berusia dua puluh tahunan itu selalu bisa mendapatkan meja di pojokan yang strategis untuk menyendiri.

Dia selalu datang sebelum aku datang dan pulang setelah aku pulang. Mejanya pun penuh dengan pesanan makanan dan minuman. Pengunjung lain mungkin berpikir bahwa uang orang tuanyalah yang membayar semua makanan dan minuman itu. Tapi aku tahu dari game RPG yang dimainkannya bahwa pendapatannya dari jualan gold dan item telah cukup stabil untuk eksis berada di sini setiap malam. Sementara aku harus berhemat dengan memesan segelas capuccino dan dua buah donat—yang harus bertahan sampai pagi.

Jelas hal ini membuatku iri. Jika bisa mendapatkan uang dengan mudah dari bermain game, untuk apa aku repot-repot menulis? Buku pertamaku telah terbit selama delapan bulan. Royalti semester pertama cukup lumayan meskipun jauh dari yang kuharapkan. Kini, buku itu mulai susah ditemukan di toko buku karena tergeser buku-buku baru lainnya. Aku tahu bahwa royalti semester berikutnya akan menurun drastis, tapi aku masih keukeuh berada di sini setiap malam untuk menulis dan mencari inspirasi.

Dapat dibilang aku terinspirasi oleh gamer itu, dan sejujurnya aku sedang menulis novel tentang dunia game. Judul sementaranya adalah Malam Tanpa Akhir. Ceritanya tentang dua orang gamer yang menekuni game yang sama tapi berbeda nasib yang sangat jauh. Yang satu mati muda, yang lainnya sukses secara finansial dan menjadi gamer profesional. Perbedaan di antara mereka hanyalah faktor lingkungan yang mendukung dan yang menghambat.

Mungkin setelah novel itu terbit, aku dapat memberikan satu buah bukuku kepada gamer itu dan berkata, "Buku ini terinspirasi olehmu!"—dan siapa tahu malam berikutnya di sini, aku akan menemukannya membaca bukuku! Sedangkan aku akan melepas lelah sejenak untuk bermain game.

**

Halaman
1234
Editor: her
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help