TribunJabar/
Home »

Fiksi

» Cerpen

Cerpen Endah Sulwesi

Kain-Kain Ibu

Aku tahu persis, kain berwarna merah-biru itu adalah kain kesayangan Ibu. Aku melihat sebersit kerinduan di matanya. Entah rindu kepada siapa.

Kain-Kain Ibu
Ilustrasi Kain-Kain Ibu 

PADA sebuah akhir pekan, aku berkunjung ke rumah Ibu. Waktu aku tiba, Ibu tengah mengelus-elus sehelai kain batik mega mendung. Aku tahu persis, kain berwarna merah-biru itu adalah kain kesayangan Ibu. Aku melihat sebersit kerinduan di matanya. Entah rindu kepada siapa.

"Lagi apa, Bu?" sapaku seraya mencium punggung tangannya.

"Ah, tidak lagi apa-apa," sahutnya. "Hanya tiba-tiba kok Ibu kangen kain-kain Ibu."

Ia kemudian berjalan ke kamarnya membawa kain itu. Aku mengekornya. Kami lalu duduk di tepi ranjang Ibu. Aku jadi teringat masa-masa masih tidur dengan Ayah dan Ibu di ranjang itu. Aku baru tidur di kamar sendiri setelah adikku lahir. Waktu itu umurku sembilan tahun.

"Neng," kata Ibu pelan. Ia kembali mengusap-usap si bang-biron. "Kalau kelak Ibu tak ada umur, Ibu ingin di-rurub pakai kain ini."

Aku terdiam. Mendadak kami dikepung keheningan. Ibu bicara apa, sih?

Tiba-tiba saja aku terkenang masa lalu. Waktu aku dan adik-adikku masih kecil, ibuku selalu berkain kebaya. Tiap hari. Pada tiap kesempatan. Kebayanya kutubaru bunga-bunga dari bahan paris, sifon, atau katun. Kainnya batik. Kebanyakan batik Solo dan Yogya warna sogan dan putih dengan motif-motif tradisional, seperti parang, kawung, truntum, sidamukti. Tapi ada sebuah yang berbeda, yakni kain batik mega mendung bang biron atau merah-biru. Kata Ibu, itu pemberian ibu mertuanya pada hari pernikahan Ibu dan Ayah. Nenek dan kakekku dari pihak Ayah asli Cirebon. Kami menyebut mereka Nini dan Aki Cirebon. Kain mega mendung itu, kata Ibu, hasil batikan Nenek, dibuat khusus sebagai hadiah pernikahan untuk menantu satu-satunya.

Yang kuingat juga, selain berkain kebaya, Ibu selalu bersanggul, kondean, yang dibentuk dari rambutnya sendiri. Bukan sanggul tempelan. Rambut Ibu memang panjang, tebal, dan lebat. Ibu bahkan tidak memerlukan cemara untuk membuat sanggul besar di kepalanya.

Ibu tidak pernah memotong rambutnya sampai sekarang. Ia membiarkan mahkotanya yang indah itu pelan-pelan menipis, memudar, dan memutih seiring pertambahan usia. Dalam kenangan masa kecilku, panjang rambut Ibu mencapai pantat dan tanganku yang kecil tak mampu menggenggamnya. Setiap utasnya tebal, kaku, dan kasar, setingkat di bawah sapu ijuk. Sehari-hari ia menggelungnya begitu saja. Kecuali jika hendak pergi kondangan atau menghadiri acara dharma wanita di kantor Ayah, Ibu akan menyanggul rambutnya dengan gaya formal- tradisional: konde sebesar ban vespa.

Ibu selalu menyanggul sendiri rambutnya. Setelah tergelung rapi, dia memasang tiga tusuk konde dari perak. Masing-masing satu di kiri-kanan dan di tengah. Terakhir, dia akan menutup kondenya dengan hairnet. Tidak, dia tidak pernah memakai hairspray atau menyasak tinggi- tinggi rambutnya seperti para istri pejabat. Untuk urusan rambut, Ibu belum pernah ke salon.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help