Cerpen Luhur Satya Pambudi

Rumah Percikan Api Neraka

Dahulu, penghuninya yang merupakan sepasang suami-istri kerap terdengar berselisih paham.

Rumah Percikan Api Neraka
Ilustrasi Rumah Percikan Api Neraka 

APAKAH mungkin rumah itu sebenarnya mengandung percikan api neraka? Dahulu, penghuninya yang merupakan sepasang suami-istri kerap terdengar berselisih paham. Bukan hal asing bagi tetangga terdekat menyimak perdebatan para penghuni rumah yang tak jarang dihiasi dengan caci maki dan saling hina.

Musabab perselisihan adalah hal-hal sederhana yang biasa terjadi dalam rumah tangga sesiapa, tapi suara keras mereka berdua nyatanya menimbulkan kehebohan tersendiri. Seberapa risih dan tidak nyamannya perasaan tetangga sejatinya, namun tiada seorang pun yang bersedia menjadi penengah atau juru damai. Terdapat keengganan yang sewajarnya mengingat sepasang suami-istri tersebut sudah lanjut usia. Lagi pula, keributan mereka biasanya tidak berlangsung lama, mungkin jika dijumlahkan sekitar satu-dua jam belaka saban harinya. Sesekali sunyi menghampiri ketika sang suami seharian pergi atau manakala para penghuninya tengah terlelap di waktu malam.

Riuh rendah yang berasal dari rumah itu lambat laun menjadi bagian keseharian di kompleks perumahan tersebut. Apalagi baik sang suami maupun sang istri, pada dasarnya masing-masing memiliki hubungan yang relatif karib dengan tetangga sekitar. Anehnya, tidak demikian tatkala mereka berdua belaka di dalam rumah sendiri. Entah cinta serupa apakah yang mampu menjadikan keduanya betah hidup bersama, bahkan hingga puluhan tahun kemudian.

Sang suami jatuh sakit pada suatu masa dan sempat diopname sekitar sepekan lamanya. Namun ketika ia pulang ke rumahnya, adu mulut dengan sang istri kembali membahana. Kondisi kesehatan sang suami lama-lama kian menurun dan ia tak ingin lagi beranjak dari rumahnya. Sehabis sempat terbaring tanpa daya di atas dipan untuk sekian pekan, sang suami pun tutup usia pada sebuah petang. Rumah itu pun sesaat sempat senyap. Tak terdengar lagi nada-nada emosional dari dua manusia lanjut usia. Tetapi hal itu tak berlangsung lama. Sang istri yang menjadi janda dan tinggal seorang diri kerap terdengar marah-marah tak jelas, entah tertuju kepada siapa. Ketika perempuan tua itu sedang santai dan tetangga bertanya kepadanya, ia menjawab bahwa ada suara seseorang yang selalu membuatnya naik pitam. Suara itu, katanya, berasal dari sudut selatan sebelah atas kamar tidurnya. Pada kenyataannya, tiada seorang pun yang tinggal di rumah itu kecuali perempuan tua yang kian lemah kondisi raganya.

Hidup sebatang kara tanpa teman dan kerabat mengundang rasa iba dari tetangga sekitar. Ketua RT setempat mengajak warganya bergotong royong membantu merawat sang nenek. Saban pertemuan rutin warga diadakan, senantiasa disediakan kotak amal yang hasil urunannya dikhususkan untuk menjaga kelangsungan hidup seseorang yang tak punya sesiapa itu. Tiada warga yang keberatan dengan kebijakan tersebut. Bahkan ada seorang warga yang bersedia melayani keseharian perempuan tua itu saban harinya dan ia memperoleh imbalan sekadarnya. Ia pula yang menyediakan makanan dan membelikan keperluan lainnya dengan biaya hasil urunan warga atau jika kebetulan ada bantuan dari para dermawan. Tetangga lainnya sering pula membagi masakannya sebagai sarapan atau makan siang sang nenek.

Sempat sekali waktu terjadi kehebohan ketika perempuan tua itu keluar dari rumahnya dan mendesak masuk ke salah satu rumah tetangganya sembari menggumamkan hal yang tak jelas.

"Saya harus ambil durian di dalam rumah itu. Durian itu milik saya!" teriaknya.

Pemilik rumah yang digedor-gedor pintunya tentu saja panik di dalam rumahnya. Ia hanya bersama anak bungsu perempuannya, sementara suami dan anak sulungnya sedang pergi. Beruntunglah, tetangga lainnya yang mendengar kehebohan tersebut berbondong-bondong segera datang. Seorang warga yang terampil berbicara berhasil meredakan kemarahan sang nenek dan membawanya kembali ke rumahnya dengan tenang.

Sampai kira-kira tiga tahun kemudian, perempuan tua itu menutup mata selamanya pada suatu malam. Siang menjelang kepergiannya sudah terdapat sejumlah pertanda tertentu sehingga Ketua RT meminta warga untuk bersiap siaga. Mereka menjadi yang paling sibuk mengurus jenazahnya hingga dikebumikan, kendati ada sebuah lembaga sosial yang lantas turun tangan membantu prosesnya.

**

Halaman
12
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved