Penderita HIV/AIDS di Ciamis Terus Meningkat

Dari 284 kasus HIV/AIDS yang terdata di Ciamis sejak tahun 1999 sampai Oktober 2016, sebagian besar terjaring karena kebetulan.

Penderita HIV/AIDS di Ciamis Terus Meningkat
DOKUMENTASI TRIBUN BALI
illustrasi 

CIAMIS, TRIBUNJABAR.CO.ID -- Dari 284 kasus HIV/AIDS yang terdata di Ciamis sejak tahun 1999 sampai Oktober 2016, sebagian besar terjaring karena kebetulan. Hanya segelintir yang diketahui status HIV/AIDS nya atas kesadaran sendiri penderita.

“Sebagian besar terdata karena kebetulan. Misalnya terjaring ketika penderita berobat ke dokter atau dirawat di rumah sakit dengan kondisi penyakitnya sudah parah. Ketika dianjurkan ditest kondisi HIV/AIDS ternyata positip, dan biasanya kondisinya sudah sangat parah. Atau terjaring dari kegiatan sero survey,” ujar Pelaksana Harian Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Ciamis Abah Agus Marcusi kepada Tribun usai upacara peringatan HUT Korpri, HUT PGRI, Hari Guru dan Hari AIDS di Lapangan Lokasana Ciamis, Selasa (29/11/2016).

Menurut Abah Agus hanya segelintir penderita yang mau mengikuti voluntary conseling test (VCT) tentang status HIV/AIDS-nya. “Padahal di Ciamis sudah banyak puskesmas yang bisa melayani VCT. Berikut ada 10 kecamatan yang sudah mempunyai kelompok WPA(Warga Peduli AIDS) yang siap membantu pengidap HIV/AIDS dan siap menjamin kerahasian identitas penderita,” katanya.

Rendahnya tingkat kesadaran masyarakat tersebut katanya merupakan salah satu kendala penanggulangan HIV/AIDS di Ciamis. “Dengan rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri, jumlah kasus HIV/AIDS tetap akan menjadi fenomena gunung es. Sedikit yang terungkap dan sangat banyak yang tidak terungkap. Dan penularan HIV/AIDS jalan terus tanpa dapat dicegah,” ujar Abah Agus.

Rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan dirinya terutama dari kalangan berisiko tinggi menurut Abah Agus merupakan bentuk ketidak siapan masyarakat untuk mengetahui kalau-kalau dirinya benar-benar mengidap HIV/AIDS.”Mungkin karena belum siap secara mental, takut kena dan karena takut mendapat stigma (dikucilkan) masyarakat. Ada yang sampai marah-marah kepada dokter, ketika dokter memberitau kalau dirinya positip mengidap HIV/AIDS setelah diperiksa. Disini memang diperlukan peran relawan,LSM, tim KPA, petugas kesehatan dan berbagai lapisan masyarakat.Baru segelintir yang penuh kesadaran dan siap menghadapi kenyataan. Bahkan sampai melakukan testimony atas HIV/AIDS yang dideritanya ,” katanya.

Data dari Dinkes Ciamis menurut Abah Agus, sejak tahun 1999 sampai Oktober 2016, jumlah penderita HIV/AIDS di Ciamis sebanyak 284 orang yang terdiri dari 168 pengidap HIV dan 116 penderita AIDS. Dan selama tahun 2016 sampai bulanSeptember terdata sebanyak 25 orang penderita HIV/AIDS yang terdiri dari 9 orang pelaku heteroseksual,15 orang dari kalangan laki-laki suka laki-laki (homo) dan 1 orang karena tranplantasi organ tubuh.

”Itu kasus yang terdata, sementara yang tidak diketahui diyakini lebihbanyak.Namanya juga fenomena gunung es. Banyak penderita yang merasa dirinya sehat, tetap bergaul secara normal.Tapi tanpa disadari yang bersangkutan dengan leluasa menularkan HIV/AIDS,” ujar Abah Agus.

Di Ciamis katanya jumlah populasi kunci yang menjadi sasaran penanggulangan penularan HIV/AIDS masing-masing PSK langsung (315 orang), PSK tak langsung (197 orang), LSL (1.400 orang), WBP (219 orang), waria(56 orang), pelanggan PSK (846 orang) dan penasun (pengguna jarum suntik) (31 orang).(sta)

Ikuti kami di
Penulis: sta
Editor: fam
Sumber: Tribun Jabar
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help