Melihat Asri dan ''Perawannya'' Curug Batu Lempar

RASA lelah setelah berjalan selama satu jam terbayarkan begitu tiba di curug Batu Lempar

Melihat Asri dan ''Perawannya'' Curug Batu Lempar
tribunjabar/dian nugraha ramdani
Curug Batu Lempar 

TRIBUNJABAR.CO.ID -- RASA lelah setelah berjalan selama satu jam terbayarkan begitu tiba di curug Batu Lempar. Keringat yang mengucur dan suhu tubuh yang panas karena berjalan kaki perlahan menghilang berganti rasa dingin udara hutan.

Ya, curug atau air terjun di kawasan perkebunan Gedeh, sebuah perkebunan teh milik PTPN VIII di Kecamatan Cugenang itu menjadi sorga tersembunyi bagi penikmat petualangan. Untuk mencapai curug tersebut, perlu banyak bertanya ke warga setempat. Pasalnya, tidak ada petunjuk jalan yang terpasang menuju tempat tersebut.

Jika memulai perjalanan dari pusat kota Cianjur, cukup menumpang angkot bercat merah muda jurusan Cianjur- Mangunkerta. Ongkosnya Rp 6 ribu.

Angkot akan berhenti di pasar Desa Mangunkerta. Dari Pasar ini, perjalanan masih jauh. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, tenaga akan habis sebelum sampai di curug. Kendaraan yang bisa ditumpangi adalah ojek. Dengan ongkos Rp 10 ribu, ojek akan mengantar hingga gerbang perkebunan Gedeh, di Kampung Tenjolaut, Desa Nyalindung, Kecamatan Cugenang.

Dari gerbang ini, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati hamparan kebun teh yang memanjakan mata. Selain akan melewati sebuah tempat pengolahan teh yang sudah berdiri sejak tahun 1927, dari tempat dengan ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut ini, mata bisa menyaksikan hamparan permukiman penduduk di perkotaan Cianjur.

Di pertengahan, jalan setapak akan membawa petualang keluar dari perkebunan teh. Jalan ini lumayan terjal dan sempit. Di kanan jalan adalah jurang, dan di kirinya tebing yang ditumbuhi rerumputan. Perlu kehati-hatian saat berjalan, sebab tanah sedikit cadas yang jarang dilewati orang itu berlumut dan licin.

Di beberapa titik, mata air keluar sembarangan membasahi jalan. Tanah menjadi basah dan berlumpur. Badan pun harus sering-sering membungkuk saat berjalan, sebab ranting-ranting kering belukar merumbai ke jalan.

Dari jarak 30 meter sebelum tiba di curug, gemuruh air sudah terdengar. Begitu langkah terhenti, embun air jernih yang menghantam batu dari ketinggian 15 meter itu langsung menerpa badan. Sejuk langsung terasa di kawasan kaki Gunung Gede-Pangrango itu.

"Saya pribumi. Sudah tiga kali ke tempat ini. Kalau lagi libur dari pesantren, saya datang untuk makan-makan di curug ini," ujar Anas (22), warga Kampung Hargem, Desa Nyalindung, Kecamatan Cugenang, di curug Batu Lempar.

Anas membawa serta tujuh orang temannya ke tempat itu. Mereka berasal dari sejumlah daerah seperti Karawang, Bekasi, Bogor dan Tanggerang.

Muhyi (22) warga Bogor mengaku senang bisa datang ke curug tersebut. Baginya, petualangan itu menjadi pengalaman pertama yang berkesan.

"Kalau nanti ada yang mau menjadikan tempat ini sebagai tempat wisata, tolong dijaga kealamiannya. Jangan buang sampah sembarangan, sayang curug ini masih asri," ujarnya di tempat yang sama.

Ace (30) warga setempat menuturkan, curug Batu Lempar sering dikunjungi pada akhir pekan, seprti pada hari Sabtu atau Minggu. Menurutnya, pengunjung biasanya rombongan siswa sekolah atau anggota pramuka.

"Biasanya ramai. Kadang lima sampai enam angkot yang dicarter. Sekali carter dari Cianjur sampai Gedeh biasanya bayar Rp 150 ribu," ujar sopir angkot Cianjur- Mangunkerta itu di Mangunkerta. (ram)

Ikuti kami di
Penulis: ram
Editor: fam
Sumber: Tribun Jabar
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help