Coffee Break

Gus Mus

Memang, seperti terjadi juga di banyak tempat, termasuk di masyarakat Sunda, kata makian antarsahabat justru menunjukkan keakraban.

Gus Mus
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

KALAU Anda orang Jawa, atau pernah tinggal beberapa lama di tengah masyarakat Jawa, atau sempat bergaul dengan teman-teman dari Jawa, Anda pasti dapat merasakan kasarnya kata makian ndasmu (kepalamu). Apalagi kalau makian itu diucapkan oleh orang yang (jauh) lebih muda dan sama sekali tidak kita kenal.

Memang, seperti terjadi juga di banyak tempat, termasuk di masyarakat Sunda, kata makian antarsahabat justru menunjukkan keakraban. Namun, jika pemakaiannya salah tempat dan situasi, bukan keakraban yang didapat, melainkan penghinaan. Level kekasarannya boleh jadi sedikit di bawah kata makian menggunakan nama binatang, tapi tetap bukan kata yang pantas diucapkan di sembarang situasi.

Orang Sunda mungkin tidak banyak menggunakan anggota tubuh sebagai kata makian. Tapi orang Jawa memakai sejumlah anggota tubuh, antara lain mata, cangkem (mulut), bathuk (kening), rai (wajah), dan dengkul (lutut), ditambah dengan imbuhan mu, sebagai makian yang setara kasarnya. Kata-kata makian itu biasanya diucapkan dalam pertengkaran. Orang yang dimaki secara psikologis akan tersulut marahnya.

Bayangkan suatu saat Anda baru saja memposting sesuatu di media sosial. Lalu ada respons dari orang lain yang tidak Anda kenal berupa pendapat yang berbeda, diakhiri dengan kata makian ndasmu. Bagaimana perasaan Anda? Marah, lalu balas memaki? Memblokir orang itu atau mengadukannya ke polisi? Jika Anda seperti itu, saya yakin Anda tidak sendirian. Bahkan mungkin sebagian besar orang lain akan melakukan hal yang sama. Hanya sebagian kecil, mungkin beberapa gelintir, yang tidak.

Gus Mus salah satu di antaranya.

Beberapa hari lalu Gus Mus, panggilan akrab K.H. Ahmad Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, melalui akun Twitter-nya, @gusmusgusmu, menyampaikan sejumlah poin: 1. Aku dengar kabar di ibu kota akan ada Jum'atan di jalan raya. Mudah2an tidak benar. 2. Kalau benar, wah dalam sejarah Islam sejak zaman Rasulullah SAW baru kali ini ada BID'AH sedemikian besar. Dunia Islam pasti heran. 3. Kalau benar, apakah dalil Quran dan Hadisnya? Apakah Rasulullah SAW, para sahabat, dan tabi'iin pernah melakukannya atau membolehkannya? 4. Kalau benar, apakah salat TAHIYYATAL MASJID diganti salat TAHIYYATAT THARIQ atau TAHIYYATASY SYARI'? 5. Kalau kabar itu benar, kepada saudara2ku muslim yg percaya bahwa aku tdk punya kepentingan politik apa pun, kuhimbau untuk memikirkan hal 6. ini dg pikiran jernih. Setelah itu silakan anda bebas utk melakukan pilihan anda. Aku hanya merasa bertanggungjawab mengasihi saudaraku. 7. In uriidu illal ishlaha mas tatha'tu wama taufiiqii illa biLlahil `Aliyyil `Azhiim.

Seseorang dengan akun @panduwijaya_ menimpali seperti ini: @gusmusgusmu Dulu gk ada aspal gus di padang pasir, wahyu pertama tentang shalat jumat jga saat Rasulullah hijarh ke madinah. Bid'ah Ndasmu!

Akibat perbuatannya, si pemilik akun, Pandu Wijaya, langsung dikecam banyak orang, khususnya warga NU. Mereka menganggap kata-kata itu sangat tidak sopan dan jauh dari adab. Sebagian orang pun berniat melaporkan penghinaan itu kepada polisi.

Bagaimana dengan Gus Mus? Alih-alih marah, kiai yang juga budayawan itu menjadikannya sebagai pembelajaran. "Kalau ada yang menghina atau merendahkanmu, janganlah buru-buru emosi dan marah. Siapa tahu dia memang digerakkan Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa bukan kita yang dijadikan cobaan," ucapnya.

Tidak hanya memaafkan, Gus Mus bahkan meminta supaya Pandu dimaafkan oleh Adhi Karya, tempat Pandu bekerja. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mas Fadjroel. Kesalahannya mungkin hanyalah menggunakan 'bahasa khusus' di tempat umum. Maklum masih muda," tulis Gus Mus di akun Twitter-nya.

Ah, betapa sejuk kata-katanya. Itulah kata-kata yang hanya bisa diucapkan manusia istimewa—dalam ilmu dan akhlak.

Manusia-manusia sekelas Gus Mus-lah yang dibutuhkan negeri ini, di tengah riuh rendah ucapan dan tindakan tak senonoh yang justru dipertunjukkan oleh orang-orang yang semestinya menjadi anutan umat.

Namun, sangat mengherankan, manusia istimewa setaraf Gus Mus—Buya Syafii Maarif, Quraish Shihab, dan lain-lain—masih saja dicurigai, dimaki, dan dilecehkan banyak orang.

Kalau kita masih meragukan kualitas ilmu dan akhlak mereka, siapa lagi yang masih kita percayai? Buni Yani? (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved