Cerpen Beni Setia

Karnaparwa

KARNA memejamkan matanya. Dan pelan menelan ludah setelah tertunduk di hadapan Kunti.

Karnaparwa
Ilustrasi Karnaparwa 

KARNA memejamkan matanya. Dan pelan menelan ludah setelah tertunduk di hadapan Kunti. Yang diam-diam, pelan tanpa bersuara, menyelinap memasuki tenda perang miliknya, di dalam persiapan Mahabarata yang perkasa. Tanpa mengubah posisi duduknya ia menengok ke samping, mencoba menantap ke ketiadaan dan kesunyian yang tidak pernah bisa disingkirkan, kesendirian tanpa ada yang bisa diharapka, yang selalu mendatanginya setiap ia termenung.

Pelan merasakan kesunyian malam—meski dipenuhi oleh ketegangan akan nasib diri di hari esok, desau angin pada julangan-julangan tenda, kibar kain bendera, dan derap kaki dan kentongan peronda yang menjauh karena harus selalu berkeliling. Dan kemudian ketiadaan, seakan-akan hidup itu berakhir ketika dipikirkan—baginya, lebih buruk lagi, saat ia harus menerima apa yang dikatakan sebagai penilaian orang lain—dan ketika tidak memikirkannya—dengan tidur, mabuk—maka tidak ada apa-apa lagi. Menggejala saja, makan-tidur, melulu ngomong sebelum kehilangan teman berbicara, lantas berhenti berbicara dengan siapa pun dan melulu berbisik pada dari sendiri.

Tapi mendadak Kunti muncul

**

ITU, mungkin, hidup yang normal, pikir Karna, dan bukan terdiam dan melulu mendengarkan teks penilaian yang disampaikan terbuka atau cuma dibisikkan di antara mereka, sehingga (ia) selalu tahu diri. Menjadi si yang tidak bisa menjadi apa-apa, selain si yang mundur setengah langkah dan menunggu diberi kesempatan buat tampil. Lantas bagaimana kalau ia bukan apa-apa, dan tak bisa berbuat apa-apa. Melulu orang biasa dan terpaksa dikepinggirkan sebagai si yang harus mengalah pada orang biasa. Selalu subordinan meski di hadapan pecundang meski itu medioker.

Bertahun, sejak ditemukan hanyut—dihanyutkan—di kali, dipelihara serta melulu hidup sebagai fokus cemooh. Ya, sebagai anak angkat si orang kecil, ya sebagai si bayi yang dibuang meski tidak disiapkan untuk mati tenggelam ketika hanyut. Meski kotak pembuangannya dirancang tak akan terguling, naungan selimut yang hangat, serta entah ada berapa bahaya pada jarak antara titik pembuangan serta penemuan—serta apakah ada yang diam-diam mengamatiya—sebelum ia normal menjadi manusia. Membesar dan melulu dicemoohkan. Melulu dipinggirkan serta otomatis terpinggirkan, sebelum sesuatu yang penting dalam persaingan mereka dengan Pandawa, serta tiba-tiba ia diterima di antara mereka sebagai si yang bisa dipetandingkan dengan Arjuna dan para Pandawa lainnya. Diagungkan serta dimuliakan sebagai yang pantas terlebih dulu dikorbankan—mutlak soldadu, yang diosol-osol dan diadu-adu. Ia adalah gaco dalam permainan gambar umbul. Ia kesatria profesional—bagian Kurawa, tapi bukan Kurawa—buat menyeimbangkan peta kekuatan Kurawa-Pandawa, dan karena itu—segala anugerah kemuliaan dan kesenangan itu—membuat menjadi pion yang harus bertempur dengan Pandawa pada langkah awal pembukaan permainan catur, agar Pandawa itu kalah dan Kurawa tak perlu melakukan apa-apa. Dan bila ia yang kalah, mati?

Dan tadi Kunti, ibu Pandawa, menyelinap dan minta bicara.

**

ORANG itu suka bergunjing dan memperhebat kesalahan orang lain, kata Kunti, sehingga ia tidak bisa melakukan apa-apa ketika keluarga mengetahuinya hamil karena bercinta dan dirahasiakan melahirkan. Kemudian semua sepakat agar bayi itu dihanyutkan, diberikan pada arus nasib untuk mesimuarakannya pada titik takdir—meski ada orang yang terus mengawal penghiliran itu, bahkan terus mengawasinya ketika ia kini dianggap bagian utama Kurawa—karena ia dan keluarga punya nama baik dan citra utama. Dan mereka terus memasok seluruh kebutuhannya ketika dipelihara oleh ayah angkatnya—meski mereka tidak pernah berdaya melawan semua omongan dan penilain masyarakat. Mereka berupaya, tapi terpaksa pasif di hadapan omongan orang.

Dan hal itu yang menyebabkan arus nasib menempatkannya pada takdir ironik: harus berhadapan dengan adik-adik, untuk saling membunuh demi kejayaan Kurawa atau Pandawa, tanpa memedulikan siapa yang akan jadi korban. Kunti terisak. Karna perlahan menelan duka. Ia tahu, dalam beberapa segi justru Kuntilah yang akan jadi korban utama, siapa pun yang akan memenangkan Mahabarata itu—Kurawa atau Pandawa. Tapi Karna mengerti, sudah terlalu banyak ia menelan budi. Kemuliaan. Identitas—sehingga ia bisa tegak sebagai yang dimuliakan, meski semua itu pasti dengan bantuan rahasia dari pihak kalangan Kunti dan ayahnya yang tidak pernah ada dikabarkan siapa—mungkin sebelum perang dia akan menemuinya, mengakui sebagai ayah dan menyebutnya sebagai anak, sekali dalam seumur hidupnya. Mungkin.

Halaman
12
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved