Coffee Break

Sang Muazin Bangsa

Lalu tiba-tiba, terutama di media sosial, nama Buya Syafii diberi cap buruk: "kafir", "laknat", "musuh dan pengkhianat Islam" ...

Sang Muazin Bangsa
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

BUYA berasal dari kata bahasa Arab, yang artinya bapak. Tapi di negeri ini buya (atau abuya) adalah gelar yang dilekatkan kepada kiai atau ulama besar. Baik buya, kiai, maupun ulama umumnya dilekatkan oleh pihak lain. Jarang sekali, dan tidak elok, predikat seperti itu dibikin oleh diri sendiri. Orang bergelar haji, profesor, dan doktor banyak di negeri ini, tapi orang yang pantas dipanggil buya mungkin bisa dihitung dengan jari.

Boleh jadi nama pertama yang akan muncul di kepala kita jika mendengar kata buya adalah Profesor HAMKA (ada juga yang menulis Hamka). Ulama bernama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah itu memang sangat dikenal dengan nama Buya Hamka. Lelaki kelahiran Sumatra Barat pada 17 Februari 1908 itu melewatkan waktunya sebagai wartawan, sastrawan, dan pengajar. Sembilan puluh lebih karya ia tulis, termasuk yang fenomenal Tafsir Al-Azhar. Buya Hamka adalah orang besar dan ia pantas menjadi pahlawan nasional.

Sementara itu, salah satu abuya yang paling terkenal adalah Abuya Dimyati, seorang ulama asal Banten yang lahir sekitar tahun 1925. Nama lengkapnya Dimyati bin Syaikh Muhammad Amin, seorang tokoh karismatik dari Pondok Pesantren Cidahu, Pandeglang, yang dikenal sebagai "ulama yang sangat bersahaja, selalu menjauhi keduniawian, wirangi (hati-hati dalam bicara, konsisten dalam perkataan dan perbuatan), ahli sedekah, puasa, makan seperlunya, ala kadarnya seperti dicontohkan Nabi, humanis, penuh kasih sesama umat manusia. "Thariqah aing mah ngaji (jalan saya adalah mengaji)," katanya. Saking pentingnya mengaji dan belajar, Abuya Dimyati pernah berkata, "Jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain atau karena umur." Pesan ini sering diulang-ulang, seolah-olah Abuya ingin memberikan tekanan khusus: jangan sampai mengaji ditinggal meskipun dunia runtuh seribu kali! Apalagi demi sekadar hajatan partai.

Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif juga akrab disapa dengan buya: Buya Syafii. Pria kelahiran Sijunjung, Sumatra Barat, 31 Mei 1935, ini dikenal sebagai ulama, ilmuwan, dan pendidik. Ia pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP), pendiri Maarif Institute, dan dikenal sebagai seorang tokoh yang mempunyai komitmen kebangsaan yang tinggi. Sikapnya yang plural, kritis, dan bersahaja memosisikannya sebagai "Bapak Bangsa".

Sebuah buku biografi intelektual Buya Syafii diberi judul Muazin Bangsa dari Makkah Darat. Secara harfiah, menurut buku tersebut, muazin adalah sang pengingat. Ia berseru-seru tiada lelah mengingatkan banyak orang untuk menunaikan salat dan menggapai kebahagiaan. Seorang muazin konsisten menyerukan nilai-nilai moralitas dan kebajikan serta mengingatkan orang-orang untuk terhindar dari perilaku-perilaku munkar (buruk).

Lalu tiba-tiba, terutama di media sosial, nama Buya Syafii diberi cap buruk: "kafir", "laknat", "musuh dan pengkhianat Islam", "bukan lagi buya tapi buaya", dan seabrek lagi predikat negatif oleh mereka yang mengaku diri sebagai pembela Islam. "Buaya Maarif itu sedang cari makan dengan cara itu, biarkan aja, biar azab menghampirinya," tulis satu akun di media sosial.

Musababnya, ia menyatakan pendapatnya, baik melalui artikel di surat kabar maupun ucapan langsung di televisi, yang menilai Ahok tidak menista Islam. "Sekiranya saya telah membaca secara utuh pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu yang menghebohkan itu, dalam fatwa itu jelas dituduhkan bahwa Ahok telah menghina al-Quran dan menghina ulama sehingga harus diproses secara hukum, semua berdasarkan fatwa MUI yang tidak teliti itu, semestinya MUI sebagai lembaga menjaga martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggung jawab, fatwa atau pandangan agama itu benar, sahih, jelas atau sama seperti apa yang disampaikan ahli agama, jadi jangan percaya sama orang...."

Kecaman datang tidak hanya dari akun-akun tak dikenal, tapi juga dari tokoh-tokoh ternama. "Ada beberapa hal yang saya minta klarifikasi dari Buya. Sebab, tulisan Buya sangat tendensius dan menyakiti perasaan para pengurus MUI, termasuk saya pribadi," kata Prof. Dr. K.H. Didin Hafidhuddin, guru besar Ilmu Agama Islam IPB.

Seperti biasa, ada yang anti, ada pula yang pro. "Sedih saya melihat Buya Sjafii Maarif diberlakukan seperti ini. Beliau setahu saya orang yang tidak gila kuasa. Ditawari macam- macam, beliau tak mau.... Jika almarhum Buya HAMKA masih hidup, saya yakin, beliau akan sangat resah dengan cara-cara tidak beradab yang digerakkan untuk memusuhi Buya Sjafii Maarif," tulis Indra J. Piliang di akun Twitter-nya.

Negeri ini terus-menerus terbelah. Pilpres, Pilgub DKI, Ahok, demonstrasi 4 November, Buya Syafii, dan entah apa lagi.

Tampaknya kita makin sulit menerima perbedaan, padahal perbedaan, termasuk perbedaan pemikiran, adalah rahmat. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help