Eksotisme dan Mitos Jodoh di Curug Dengdeng

Memang, sedikitnya kendaraan umum yang melewati jalur desa Cikawungading ini menjadi hambatan untuk pergi tanpa kendaraan pribadi

Eksotisme dan Mitos Jodoh di Curug Dengdeng
tribunjabar
Curug Dengdeng, di Cikawungggading 

TASIKMALAYA, TRIBUNJABAR.CO.ID - Siapa yang tidak tergoda damainya pantai Santolo di Garut atau eksotisnya pantai Pangandaran?  Dua pantai yang kini menjadi agenda rutin bagi masyarakat untuk melepas penat menikmati jernihnya air laut dan putihnya pasir-pasir pantai. Namun, apakah ada yang tahu desa nelayan Cikawungading dengan pantai Pamayangnya?

 Jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang. Sudah tujuh jam lebih perjalanan dari Jatinangor, Sumedang menuju Desa Cikawungading yang berada di ujung Kecamatan Cipatujah, Kota Tasikmalaya ini. Jalan berliku serta minimnya penunjuk arah jadi pelengkap desa ini yang jika dilihat dari google maps ada di ujung selatan wilayah Tasikmalaya, dan hanya segaris pula wilayah desanya. Bahkan, gadget tidak menampakkan sinyal sekuat biasanya, tanda wilayah ini mulai jauh dari jangkauan sinyal telepon.

Melanjutkan perjalanan berbekal dengan bertanya setiap beberapa ratus meter di jalan-jalan menuju ke desa Cikawungading, “opat kilo deui, lurus weh engke ketemu loba perahu,” ujar salah satu penduduk, saat menanyakan arah yang sebetulnya sudah lebih dari 200 kilometer perjalanan saat itu seakan menjadi secercah harapan jika tujuan sudah di depan mata. Namun, jauhnya perjalanan memang terbayar saat menginjakkan kaki pertama kali di desa Cikawungading.

 Jalan utama desa Cikawungading memang terawat dengan baik. Tentu saja, ini dikarenakan desa Cikawungading merupakan daerah transit antara Garut dan Pangandaran yang melewati jalur selatan. Selain itu, di kiri dan kanan jalan tidak akan sepi dari plang-plang rumah makan hidangan laut karena mayoritas aktivitas masyarakat desa Cikawungading ini adalah nelayan.

Pantai di desa Cikawungading bukan sekadar pantai wisata, karena lautnya yang berbatasan langsung dengan laut lepas selatan. Namun, arusnya yang deras tetap memberikan ketenangan yang berbeda dengan Gili Trawangan atau Kuta, apalagi ditambah dengan sepinya pengunjung pantai Pamayang membuat betah berlama-lama berada di bibir pantai.

 Memiliki nama pantai Pamayang, tidak salah jika desa Cikawungading disebut sebagai surga tersembunyi di ujung Tasikmalaya. Tidak hanya eksotisme pantai dan lautnya, desa Cikawungading juga menawarkan sajian lainnya yang tidak kalah menarik. Jika sudah terpikat dengan hidangan laut dari para nelayan, jangan lupa masih banyak surga yang belum dikunjungi di seluruh pelosok desa Cikawungading ini.

 Pergi sedikit jauh menuju utara, dibalik rindangnya pepohonan yang menjulang di utara desa yang terdiri dari sembilan kedusunan ini sudah menunggu air terjun dengan sejuta mitosnya. Disebut sebagai curug Dengdeng, air terjun yang terdiri dari beberapa tingkat ini masih belum terjamah banyak manusia karena lokasinya yang cukup jauh dari keramaian.

Mitos yang beredar di curug Dengdeng salah satunya saat mandi atau berendam di curug ini maka akan dilancarkan jodohnya. Selain itu, panorama yang ada di sekitar curug dengdeng inilah yang kadang membuat lupa jika kita masih ada di ujung selatan Tasikmalaya. Jika tertarik menuju curug Dengdeng, bisa meminta warga sekitar untuk mengantarkan agar diberikan jalur alternatif yang lebih mudah.

Selain menikmati pantai dan hidangan lautnya, jangan lupakan untuk sedikit berkunjung ke timur desa Cikawungading. Jika beruntung dan waktunya tepat, maka akan ada penangkaran penyu di sana yang memiliki agenda untuk melepaskan penyu kembali ke habitatnya yang biasanya dilakukan setiap menjelang subuh.

Namun, jika waktunya kurang tepat, tidak ada salahnya untuk mampir ke tempat pelelangan ikan di pinggir pantai Pamayang. Tentu, harga ikan yang dibanderol di sana jauh lebih murah dibandingkan membeli ikan di pasar modern atau tradisional. Satu kilo ikan masih dibanderol sekitar Rp20-50rb dan hanya merogoh kocek kurang dari Rp100 ribu untuk dapat menyantap hidangan laut dengan bumbu khas desa Cikawungading.

Memang, sedikitnya kendaraan umum yang melewati jalur desa Cikawungading ini menjadi hambatan untuk pergi tanpa kendaraan pribadi. Namun, jarak yang jauh, berliku, serta tanpa penerangan yang memadai saat malam hari seakan terbayarkan saat menginjakkan kaki di surga yang tersembunyi di ujung selatan Tasikmalaya ini.(*)

Editor: fam
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help