TribunJabar/

Mendaki Dinginnya Hutan Lumut Latimojong

Sama halnya dengan jalur Desa Karangan, melalui Desa Bone-Bone ini pendakian kalian disambut oleh Hutan Lumut yang sangat dingin

Mendaki Dinginnya Hutan Lumut Latimojong
tribunjabar
Gunung Latimojong, Sulawesi 

Pegunungan Latimojong terletak di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Latimojong memang memiliki beberapa puncak dengan puncak tertinggi Puncak Rantemario. Puncak tertinggi Latimojong itu ada diketinggian 3478mdpl dan merupakan titik tertinggi dari Pulau Sulawesi. Pegunungan Latimojong kaya akan sumber air sehingga pegunungan ini pun menjadi sumber air utama untuk tiga kecamatan di Enrekang.

Hal tersebut pun akan terasa ketika mendaki pegunungan ini. Pendakian ke Latimojong tak akan membuat kalian kehausan. Jalur pendakian konvensional yang umumnya di mulai dari Desa Karangan, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang. Jika melalui jalur ini, kalian akan melewati delapan pos untuk sampai di Triangulasi Rantemario. Jarak antar pos beda-beda tapi tenang saja, dari delapan pos, empat diantaranya dekat dengan sumber air, sehingga kalian dapat mengisi ulang persediaan air.

Triangulasi Rantemario berbentuk sebuah batu persegi panjang yang menjulang vertikal. Batu ini menjadi ikon dari puncak tertingginya. Untuk dapat melihatnya, puncakan-puncakan Latimojong harus lebih dahulu dilalui. Jalanan naik dan turun berkali-kali harus ditempuh mengingat Latimojong bukan hanya sebuah gunung, melainkan pegunungan. Bahkan, jalur melalui Desa Karangan memiliki medan yang cukup ekstrem.

Selain melalui Desa Karangan, masih ada jalur-jalur lain yang dapat ditempuh. Salah satunya melalui Desa Bone-Bone, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang. Desa Bone-Bone sendiri merupakan desa adat yang berada di ketinggian 1300 mdpl. Ketika berada di desa tersebut, tidak diperbolehkan untuk meminum minuman keras dan merokok. Desa ini benar-benar mengutamakan udara yang bersih di daerahnya.

Jalur melalui desa adat itulah yang saya lalui ketika mendaki Pegunungan Latimojong pada kegiatan Temu Wicara Kenal Medan (TWKM) 28 Makassar. TWKM sendiri merupakan pertemuan mahasiswa pecinta alam tingkat universitas dari seluruh Indonesia. Pendakian Pegunungan Latimojong menjadi salah satu pilihan di kegiatan Kenal Medannya. Pendakian ini diikuti kurang lebih 150 mahasiswa dari seluruh nusantara. Pendakian ini berlangsung selama 4 hari 3 malam terhitung mulai dari Desa Bone-Bone hingga Desa Karangan yang menjadi akhir jalurnya.

Sama halnya dengan jalur Desa Karangan, melalui Desa Bone-Bone ini pendakian kalian disambut oleh Hutan Lumut. Hutan tersebut dipenuhi lumut karena udara yang sangat dingin dan suhu yang rendah di ketinggian, kabut yang sering terjadi, sehingga cahaya matahari terhalangi. Namun jangan takut, hutan lumut tersebut sangat indah dan tak dapat ditemui di Pulau Jawa. Jika berjalan di hutan tersebut harus lebih hati-hati, tetapi jatuh di lumut pun tak terasa sakit saking tebalnya tumpukan lumut tersebut.

Jalur Bone-Bone memang lebih jauh jaraknya jika dibandingkan dengan jalur Karangan. Akan tetapi, jalur ini cocok untuk menampung ratusan pendaki sebab medannya yang lebih bersahabat, banyak jalur yang landai, dan jalurnya tidak terlalu menanjak. Pada jalur ini pun, sebelum sampai pada Puncak Rantemario, pendaki akan dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah di puncak sebelum Puncak Rantemario. Puncak tersebut tak bernama, jaraknya satu jam sebelum Puncak Rantemario, tetapi pemandangannya sangat menakjubkan.

Sayangnya, pada pendakian kali ini, matahari terbit atau terbenam bukanlah targetan. Saya dan yang lain hanya harus sampai sebelum tengah hari agar kabut belum menutupi pemandangan yang ada. Saya yang tiba sekitar pukul sebelas pun masih mendapat pemandangan yang membuat hati tak henti mengucap syukur. Puncak Rantemario benar-benar mengagumkan lebih dari apa yang saya liat di foto. Sebelum mendaki saya memang mencari tahu lebih dulu bagaimana keadaan di sana agar termotivasi ketika mendaki.

Triangulasi Rantemario penuh antri para pendaki yang ingin berfoto ceria. Namun, itu bukan satu-satunya yang perlu diabadikan, sekeliling mata memandang, pepohonan yang hijau, awan putih yang terbentang di langit yang cerah pun menjadi kebahagiaan tersendiri ketika berada di puncak tersebut. Suhu dingin dan rasa dingin karena kehujanan pun terbayar.

Selain itu, rasa haru karena berhasil mendaki bersama-sama akan mempererat persaudaraan sesama mahasiswa pecinta alam se-Indonesia. Latimojong dan Puncak Rantemario pun menjadi salah satu kenangan indah bagi saya dan yang lainnya. Kalau bukan karena TWKM, mungkin entah kapan saya mendaki Latimojong. Puncak tertinggi Sulawesi pun ramai penuh diisi manusia yang ingin mengabadikan keberhasilannya berada di sana.

Pendakian ini membutuhkan berbagai persiapan, dari mulai fisik, mental, peralatan, konsumsi, hingga aksesibilitas. Kendaraan yang sulit dan suhu yang rendah akan menjadi tantangan tersendiri. Namun jangan takut kekurangan air, siapkan saja tempat airnya karena pegunungan ini memiliki persediaan air yang banyak untuk setiap pendakinya. (tj1)

Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help