Coffee Break

Main Belakang

Ada jalur lain yang yang tidak resmi, yang membuat siswa bisa lolos, yakni jalur "titipan" dan "main belakang".

Main Belakang
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

ADA tiga jalur resmi dalam penerimaan siswa baru di sekolah, terutama SMP dan SMA, yakni jalur seleksi (secara online), jalur prestasi, dan jalur siswa miskin. Beberapa tahun lalu sejumlah sekolah juga menerima siswa baru melalui seleksi tertulis, tapi sekarang tampaknya tidak ada lagi. (Saya lebih menyukai seleksi tertulis karena lebih jujur ketimbang seleksi online berdasarkan NEM. NEM umumnya direkayasa.)

Namun, ada jalur lain yang yang tidak resmi, yang membuat siswa bisa lolos, yakni jalur "titipan" dan "main belakang". Melalui jalur titipan, siswa bisa masuk sekolah yang dituju dengan perantaraan orang kuat atau pihak berpengaruh, misalnya pejabat dinas pendidikan—kepala sekolah yang bersangkutan tidak dapat menolak karena pejabat disdik itu adalah atasan mereka. Melalui jalur "main belakang", siswa bisa lolos asalkan membayar uang masuk yang berlipat- lipat besarnya.

Oh, ya, ada satu lagi jalur penerimaan siswa baru, yakni pindah sekolah. Umumnya, siswa pindah pada semester kedua di kelas satu. Mereka pindah bukan semata-mata karena mengikuti domisili orang tua, melainkan karena memang sengaja pindah ke sekolah yang lebih favorit. Mereka sebelumnya gagal masuk ke sekolah favorit melalui jalur resmi penerimaan siswa baru. Tentu saja proses kepindahan ini akan berlangsung mulus jika (orang tua) siswa menyiapkan sejumlah uang. Berapa? Tergantung sekolah yang dituju.

Tahun lalu, saat mendaftarkan anak saya di sebuah SMA di Bandung, saya mengobrol dengan sesama orang tua yang juga mendaftarkan anaknya. Tentu saja obrolan pun berputar di sekitar penerimaan siswa baru. Waktu itu tengah heboh membeludaknya pendaftar jalur siswa miskin. Wali Kota menginstruksikan agar semua pendaftar yang memiliki surat keterangan tidak mampu diterima di sekolah yang dituju. Saat itu secara mendadak orang-orang menjadi miskin: begitu banyak pendaftar yang berbekal SKTM. Obrolan kemudian sampai juga pada kisaran harga jalur "main belakang". Teman ngobrol saya menyebut nominal antara 25 sampai 50 juta rupiah. Saya hanya bisa bilang "wow", dalam hati, karena angka segitu di luar jangkauan nalar saya, untuk sekadar masuk SMA.

Ungkapan main belakang umumnya bermakna kiasan dan biasanya mengandung norma negatif. Setidaknya ada tiga kelompok pemakaian ungkapan ini. Pertama, meskipun jarang dipakai, perilaku main belakang bermakna perilaku orang bermuka dua, yakni di depan terlihat baik dan sopan, tapi di belakang malah menjelek-jelekkan orang lain. Kedua, bermakna selingkuh. Dalam makna ini, orang yang main belakang melakukan hubungan dengan orang ketiga tanpa diketahui pasangan resminya. Ketiga, bermakna curang dalam urusan yang melibatkan uang. Pelaku melakukan tindakannya diam-diam supaya tidak diketahui orang banyak.

Dalam makna ketiga ini, perbuatan main belakang bisa terjadi di mana saja: kesepakatan antara polisi dan pelanggar lalu lintas, kongkalikong antara pejabat dan pengusaha yang ingin menang tender, kesepahaman antara eksekutif dan yudikatif dalam pembuatan undang-undang, dan sebagainya.

Dalam penerimaan siswa baru, main belakang dilakukan antara pihak sekolah dan pendaftar. Prosesnya berlangsung di ruangan tertutup, misalnya di ruang kepala sekolah, secara empat mata, atau dua pihak, sehingga tidak jelas benar apa yang terjadi dan kesepakatan seperti apa yang sudah berlangsung. Karena memang tidak jelas, orang-orang di luar ruangan itu, baik guru-guru sekolah yang bersangkutan maupun orang-orang di luar sekolah, hanya dapat menduga-duga mengenai kejadian sebenarnya. Karena memang tidak jelas, wajar kalau pihak sekolah tidak akan mengakui adanya tindakan main belakang. Kita hanya dapat "mencium baunya", tanpa bisa melihat "sumber baunya".

Proses main belakang umumnya dianggap menguntungkan kedua pihak yang melakukannya. Dalam penerimaan siswa baru, pihak sekolah untung karena menerima imbalan yang berlipat- lipat. Pihak pendaftar untung karena keinginan masuk sekolah favoritnya terwujud. Namun, dalam apa pun jenis kecurangan, selalu ada pihak yang dirugikan. Di luar ruang kesepakatan antara pihak sekolah dan pihak pendaftar, ada sejumlah calon siswa yang harus tersingkir meskipun memiliki nilai dan prestasi yang lebih tinggi.

Main belakang itu memiliki hubungan darah dengan pungli. Keduanya sama-sama termasuk dalam keluarga korupsi. Karena itu, jika memang ada bukti, sudah seharusnya para pelakunya dikenai sanksi. Bahkan, dalam kasus main belakang di sekolah-sekolah, tidak hanya pelaku langsung, tapi juga pelaku tidak langsung harus dikenai sanksi. Misalnya pejabat disdik yang menitipkan siswa dalam penerimaan siswa baru. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help