Coffee Break

Pungli

Meski populer mulai sekitar 1977, boleh jadi istilah pungli sudah muncul pada tahun-tahun atau dekade sebelumnya.

Pungli
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

PUNGLI bukanlah istilah baru. Saya sudah mendengarnya sejak tahun 1970-an, tepatnya dipopulerkan pada 1977, ketika pemerintah Orde Baru berupaya memberantas pungli melalui Operasi Tertib yang dipimpin Pangkopkamtib (waktu itu) Sudomo.

Berkat internet, saya menemukan arsip berita lama ini:

SENIN, 5 SEPTEMBER 1977. Hari ini Presiden mengeluarkan instruksi No. 9 Tahun 1977, tentang Operasi Tertib. Diinstruksikan kepada para menteri Kabinet Pembangunan II, para pimpinan lembaga pemerintahan non-departemen, para pimpinan Sekretariat Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, dan Kepala Staf Kopkamtib, untuk meningkatkan pelaksanaan pengawasan dan penertiban ke dalam tubuh aparatur di dalam lingkungannya secara terus- menerus dan menyeluruh. Kedua, mengambil tindakan administratif dan tindakan hukum terhadap mereka yang melakukan perbuatan dan tindakan yang melanggar peraturan yang berlaku atau bertentangan dengan kebijaksanaan pemerintah yang ada. Instruksi ini dikeluarkan sebagai usaha untuk menghilangkan praktek-praktek yang dilakukan oknum-oknum dalam aparatur pemerintah/seperti pungutan liar, dan untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna aparatur pemerintah.

Saya sudah di SMP waktu itu dan sempat membaca sebuah puisi remaja di sebuah surat kabar. Saya masih ingat judulnya "Pahlawan Pungli". Isinya semacam pujian terhadap Sudomo yang, oleh si penulis puisi, dianggap pahlawan karena memberantas pungli. Waktu itu saya geli karena judul dan isinya tidak selaras. Kalau memang isinya pujian, judul yang tepat mestinya "Pahlawan Pemberantas Pungli".

Tapi belakangan saya berpikir, jangan-jangan si penulis puisi benar dengan menyebut Sudomo sebagai "Pahlawan Pungli". Sebab, jangan-jangan... ah, tidak.

Meski populer mulai sekitar 1977, boleh jadi istilah pungli sudah muncul pada tahun-tahun atau dekade sebelumnya. Tepatnya kapan, entahlah. Demikian lamanya dipakai masyarakat, kini istilah pungli sudah terasa bukan akronim lagi, seperti sejumlah kata lain yang juga sudah terasa sebagai kata tunggal, semisal tilang dan rudal. Orang tak lagi, atau sangat jarang, menyebut kepanjangannya: pungutan liar. KBBI juga sudah memasukkan pungli sebagai lema tersendiri, disertai turunannya berupa kata kerja memungli, yang diuraikan sebagai "meminta sesuatu (uang dan sebagainya) kepada seseorang (lembaga, perusahaan, dan sebagainya) tanpa menurut peraturan yang lazim".

Ada juga yang mengaitkan istilah pungli dengan kosakata bahasa Cina. Li dalam bahasa Cina berarti keuntungan, sedangkan pung berarti persembahan. Jadi, pung li berarti "mempersembahkan keuntungan". Apakah benar ada keterkaitan antara pungli dan pung li? Jika benar ada, pencipta istilah pungli ini cerdas. Setidaknya, pengertian pungli dan pung li ternyata nyambung.

Di sisi lain, sebagai sebuah perilaku, sangat mungkin pungli bahkan sudah berusia jauh lebih tua. Jauh sebelum era kemerdekaan, ketika Nusantara masih dikuasai berbagai kerajaan, tindakan pungli disebut-sebut sudah terjadi. Dalam penarikan pajak dari rakyat, misalnya, kerajaan memberikan otonomi khusus bagi para patih, menteri, atau pejabat yang bertugas memungut pajak. Di situlah terjadi pungutan-pungutan di luar pungutan resmi.

Perlu ditelusuri lebih jauh apakah Opstib di era Orde Baru berhasil atau tidak. Yang pasti, sebagai istilah, pungli lama-kelamaan tersilap oleh istilah lain yang gaungnya lebih besar: korupsi. Mungkin karena nominalnya lebih besar. Padahal, pungli hanya salah satu jenis korupsi. Apakah itu disebabkan makin hilangnya praktik pungli atau bukan, sekali lagi, perlu riset lebih jauh. Namun saya punya dugaan lain: makin tersilapnya istilah pungli terjadi karena makin lama pungli makin tidak terasa sebagai sebuah kejahatan. Kondisi ini tentu lebih berbahaya.

Anda pernah, baik atas inisiatif sendiri maupun diminta, memberikan "uang bensin" ketika membuat KTP, SIM, atau dokumen apa pun? Anda pernah memberikan sejumlah uang setelah terlibat tawar-menawar ketika disemprit polisi karena tidak memakai helm? Mungkin Anda ikhlas melakukannya karena, jika tidak memberi, urusannya akan lebih panjang dan ribet.

Itulah contoh pungli kecil-kecilan. Sementara itu, pungli yang lebih besar berlangsung di berbagai tempat: jembatan timbang, dinas-dinas, lembaga pendidikan, dan seabrek tempat lain.

Dan kini, hampir 40 tahun sejak masa Opstib, istilah pungli mengemuka lagi, dipicu oleh instruksi Presiden Jokowi.

Ah, mampukah Jokowi memberantas pungli? Soeharto saja, yang jenderal bintang lima, gagal. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help