Cerpen Dadang Ari Murtono

Lelaki Tua dan Lelaki Tua dan Laut

PADA hari kedelapan wafat istrinya, ia menyadari bahwa pada hari-harinya setelah ini, kesepian yang mengerikan telah membentang

Lelaki Tua dan Lelaki Tua dan Laut
Ilustrasi Lelaki Tua dan Lelaki Tua dan Laut 

PADA hari kedelapan wafat istrinya, ia menyadari bahwa pada hari-harinya setelah ini, kesepian yang mengerikan telah membentang, bernafsu meringkusnya dalam siksaan yang lebih menyakitkan dari hukuman picis. Itu adalah hari ketika tiga anaknya berkata bahwa sudah saatnya mereka pulang ke rumah masing-masing. "Kami harus kerja," kata mereka. Sebuah kalimat klise yang ia takutkan. Tak ada satu pun yang menawarinya untuk ikut. Dan ia menyadari sepenuhnya bahwa memang begitulah yang selalu terjadi pada orang tua yang telah berumur tujuh puluhan. Sebagian anak mengirim orang tuanya ke panti jompo dan sebagian yang lain meninggalkan orang tuanya begitu saja di rumah masa kecil mereka, tempat mereka dilahirkan, tumbuh, menghabiskan masa kecil yang menyenangkan, dan belajar untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi mereka sendiri.

"Aku akan kesepian," ia berujar lirih.

"Sudah kami bilang, belilah ponsel. Bapak bisa menghubungi kami kapan pun," jawab anak tertuanya seraya mengabaikan fakta bahwa bapaknya adalah seorang yang sama sekali buta huruf, juga buta angka.

Ia, lelaki tua itu, lahir dan tumbuh besar di perkampungan nelayan di pesisir Madura. Orang tuanya—seperti laiknya kaum nelayan Madura—adalah pekerja keras yang menghabiskan bukan hanya siang harinya, melainkan juga malam dan sepanjang waktunya, untuk bekerja mengurusi ikan-ikan. Setelah menangkap ikan di laut, pekerjaan tidak lantas selesai begitu saja. Selalu ada yang harus dikerjakan. Membelek dan mengambil jeroan ikan lalu mengeringkan dan menabur garam agar ikan itu menjadi ikan asin dengan kualitas tinggi, misalnya, atau menambal jaring, atau menyumbat bocoran perahu.

Ia akrab dengan itu semua, bahkan sejak ia masih belajar merangkak. Namun meski setiap orang bekerja keras, kemiskinan seolah tak pernah mau beranjak dari sana, seolah ada kutukan dari zaman purba yang terbawa-bawa, dan akan terus terbawa-bawa hingga tiba hari kiamat. Dan orang-orang bekerja lebih keras lagi. Mereka melibatkan anak-anak dan meluputkan program pendidikan sembilan tahun yang dikampanyekan pemerintah dengan bersemangat.

Banyak orang di kampungnya bercerita tentang Surabaya, sebuah kota di mana uang bisa gampang dicari. Ia lalu tumbuh dengan imajinasi menyenangkan tentang kota yang sesungguhnya tidak terlalu jauh itu. Sebuah kota yang hanya dibatasi sebuah selat sempit dengan pulau pertiwinya. Maka begitulah, pada umur lima belas, ia memutuskan mengikuti jejak tetangganya untuk mengadu nasib di Surabaya. Dan segera terbukti bahwa di kota itulah peruntungannya berubah. Tidak semua orang berhasil di Surabaya, tapi jelas ia tidak termasuk dalam golongan itu. Kesusahan hanya menimpanya pada bulan-bulan awal. Dengan bekal yang ia bawa dari kampung, ia membuka lapak kecil di pasar Keputran, pasar sayur paling besar di Jawa Timur. Awalnya, untuk mengirit, ia tidur di lapak itu juga, berbagi tempat dengan tikus dan tumpukan sampah serta bau menyengat sayuran busuk. Namun setengah tahun kemudian, sebagai hasil dari kerja keras dan sifat kikirnya, ia telah mampu mengontrak rumah petak berdinding tripleks sekaligus melebarkan lapak sayurnya.

Ia memang buta huruf, juga buta angka, tapi kenyataan itu tidak membuatnya abai pada nilai uang. Ia telah mengembangkan teknik mengenal nilai uang dengan mengingat gambar dan warna. Dan tak ada masalah sama sekali mengenai hal itu.

Menjelang umur dua puluh lima, ia telah memiliki reputasi sebagai salah satu dari tiga belas pedagang tersukses di Keputran. Dan itu disempurnakan dengan kehadiran seorang istri yang cantik, putri seorang penjual sayur yang tidak sesukses dirinya.

Istri itu telah meninggal kini. Anak tertuanya bekerja di sebuah pengeboran minyak di Cepu, anak keduanya guru di Semarang, dan anak ketiganya mengelola tiga kelab malam di Jakarta. Sesaat setelah anak tertuanya menyarankan agar ia membeli ponsel, anak kedua dan ketiganya secara nyaris bersamaan menawarkan membelikannya ponsel.

Terdorong oleh kesedihan, ia mengangguk.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved