Apun Gencay Menjelma di Panggung

Pesona Hanna Si Bunga Desa Berujung Maut

Ia mampu mengungkapkan perasaan . . . dalam waktu kurang lebih 45 menit. Ada adegan erotis yang dibalut sentuhan halus sang sutradara.

Pesona Hanna Si Bunga Desa Berujung Maut
TRIBUN JABAR/CECEP BURDANSYAH
AKSI HANNA - Hanna Rosiana tengah beraksi memerankan tokoh Apun Gencay, tokoh cerita pendek karya sastrawan Yus Rusyana, dalam rangkaian acara Sawidak Gurat Karya Yus Rusyana, di gedung BPU Kampus UPI, Jalan Setiabudi, Bandung, Kamis (6/10/2016). 

Oleh: Cecep Burdansyah

Tampil berturut-turut selama dua hari, Kamis (6/10) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Jumat (7/10) di Universitas Padjadjaran (Unpad), akting Hanna Rosiana (25) yang memerankan tokoh Apun Gencay mampu membuat publik yang hadir terpesona. Ia mampu mengungkapkan perasaan kamelang (perasaan waswas), asih (kasmaran), kanyaah (kasih sayang), pati (pembunuhan dan bunuh diri) dalam waktu kurang lebih 45 menit. Ada adegan erotis yang dibalut sentuhan halus sang sutradara.

APUN Gencay, tokoh carita pondok (cerpen) berjudul "Apun Gencay" karya Yus Rusyana, yang dikenal publik sastra Sunda sebagai cerita paling dramatik, akhirnya diangkat ke atas panggung dalam bentuk monolog. Apun Gencay ditulis pada 1963, kemudian terbit dalam kumpulan carpon berjudul Jajatén Ninggang Papastén. Buku tersebut diganjar hadiah sastra Sunda Rancagé oleh Ajip Rosidi pada 1989 dan merupakan hadiah sastra Rancagé yang pertama.

Apun Gencay adalah sosok perempuan Desa Cikembar berparas cantik, bertubuh molek, berkulit mulus, dan berambut panjang berombak. Sebagai bunga desa, tak heran banyak pemuda yang ngahelaran (menggoda). Namun hatinya teguh tertambat pada seorang pemuda Cipamingkis, yang berjanji akan meminangnya sehabis panen.

Keteguhan akhirnya runtuh ketika Dalem (Bupati) Cianjur mengutus abdi dalem untuk menjadikan Apun sebagai istri muda. Kehendak Dalem sungguh di luar dugaan dan di luar kuasa seorang mojang desa. Dalam tatanan sosial saat itu yang sangat feodal, tak ada yang bisa menghalangi keinginan menak (ningrat). Apun sendiri tak menduga kalau ternyata selama ini ada menak berstatus dalem menginginkan dirinya. Antara bangga dan tak berdaya campur aduk.

Dari sinilah konflik mengalir. Bagi Apun, pemuda Cipamingkis tetap menjadi pujaannya, mengingat kesetiaan dan kasih sayangnya. Di kediaman Dalem, yang awalnya waswas, lambat laun tumbuh perasaan cinta terhadap Dalem. Perasaan ini muncul karena sang Dalem ternyata memberikan perhatian yang tulus terhadap Apun, bahkan diperlakukan sama dengan istri pertamanya. Batin Apun terus tergelincir dalam dilema berkepanjangan, terbelit asmara dan kasih sayang di antara dua laki-laki yang pada akhirnya sama-sama ia sayangi.

Sebagai pemeran tungal dalam monolog Apun Gencay, Hanna Rosiana mampu menunjukkan kualitas akting terbaiknya sebagai aktris teater. Selama kurang lebih 45 menit, aktris kelahiran Tasikmalaya ini mengolah perubahan emosi dengan apik, dari gembira, cemas, rindu, pasrah, iklhas dalam pengabdian sebagai istri dalem, serta akhirnya menjadi wanita tegar bergairah yang mampu menghilangkan batas antara menak dan cacah (jelata), menjelma antara laki-laki dan perempuaan yang sama-sama memiliki hasrat purba. Semua adegan dan ekspresi disuguhkan oleh gerak tubuh dan percakapan Hanna seorang diri yang dibalut kostum berwarna cerah.

Perubahan suasana emosi yang beragam ini merupakan medan yang sulit ketika harus diperankan seorang diri di atas panggung. Ungkapan verbal dan bahasa tubuhnya dituntut menghadirkan logika perubahan emosi yang sinambung agar cerita bisa sampai kepada penonton. Hanna mampu memenuhi tantangan tersebut. Kemampuan itu lebih terlihat pada suasana tragis ketika Dalem yang sudah disayanginya itu dibunuh oleh sang kekasih yang juga dicintainya. Di ujung cerita, setelah kekasihnya dibunuh oleh para abdi dalem, kekuatan ekspresi Hanna mampu menggiring imajinasi penonton ke dalam kemurungan yang mencekam saat Apun mengakhiri hidupnya.

Kemampuan Hanna memang lebih bertumpu pada gerak tubuh daripada vokalnya yang masih lemah. Pada adegan pembuka, Apun muncul di atas jampana, dibalut apok warna hijau tegas, sinjang ungu, dan kemben abu. Keceriaan Apun hadir lewat gerak tubuh yang lembut. Saat bergeser ke kamar, Apun hadir dalam suasana penuh gairah melalui gerakan erotik yang halus. Bahasa tubuh dalam adegan ini paling memukau karena diwarnai gerak kelambu putih yang dimainkan Hanna, apalagi kostum kebaya dan sinjang merah kontras dengan kelambu putih.

Penciptaan gerakan tubuh ini berkat polesan sutradara Asep Supriatna yang mempunyai jam terbang tinggi sebagai sutradara, terutama mempunyai pengalaman mengangkat karya sastra Sunda ke atas panggung. Selain Apun Gencay, ia pernah memanggungkan carpon karya Karna Yudibrata berjudul "Buah Limus Murag Ku Angin" dan carpon karya Yous Hamdan bertitel "Geus Surup Bulan Purnama".

Pesona Apun Gencay di panggung juga ditopang oleh artistik polesan penata artistik yang pernah meraih Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI), Budi Riyanto, yang dibantu oleh Apip Catrix serta tim penata musik yang dikawal Boby Getih alias Ridwan Saidi.

Monolog Apun Gencay memang disiapkan untuk menyambut ulang tahun sastrawan Sunda yang sekaligus sebagai pendidik dan ilmuwan bahasa di UPI, Yus Rusyana, yang dikemas dalam acara Sawidak Gurat Karya Yus Rusyana pada Kamis (6/10). Keesokan harinya, monolog ini diminta tampil dalam acara penutupan Pasanggiri Monolog Basa Sunda yang diselenggarakan oleh Paguyuban Mahasiswa Sastra Sunda (Pamass) Unpad, di Pusat Studi Bahasa Jepang, Unpad, Jumat (7/10). (*)

Naskah ini juga dimuat di Tribun Jabar edisi cetak, Minggu (9/10/2016). Ikuti pula berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Penulis: cep
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved