TribunJabar/

Headline Tribun Jabar

Kami Bingung Pulang ke Mana

Tiga korban meninggal ditemukan pada hari kedua masa tanggap darurat bencana di Kabupaten Garut

Kami Bingung Pulang ke Mana
DOKUMENTASI/TRIBUN JABAR
Headline Tribun Jabar edisi Jumat 23 September 2016. 

GARUT, TRIBUNJABAR.CO.ID - Tiga korban meninggal ditemukan pada hari kedua masa tanggap darurat bencana di Kabupaten Garut, Kamis (22/9). Tambahan ini membuat jumlah korban meninggal menjadi 26 orang dan masih mungkin bertambah karena, hingga semalam, 23 orang masih dinyatakan hilang.

Sebagian besar Tarogong Kidul dan Garut Kota, kemarin, masih dipenuhi lumpur. Sampah bercampur batu, kayu, dan puing-puing bangunan berserakan dan menggunduk di sepanjang jalan.

Di Kampung Cimacan, Desa Haurpanggung, Kecamatan Tarogong Kidul, lokasi yang paling parah terkena banjir, warga sibuk membersihkan rumah. Namun, sulitnya pasokan air bersih menjadi kendala. Bantuan air belum terdistribusikan secara merata.

Ela Indarsah (50), warga RW 13, Kampung Cimacan, mengatakan bantuan air dikirim menggunakan tong- tong besar. "Yang di sini belum kebagian. Kebanyakan yang daerah depan dulu," ujarnya saat ditemui di rumahnya yang masih dipenuhi lumpur, kemarin.

Ela mengatakan, semua barang di dalam rumah mereka ludes tak tersisa. "Padahal, jarak dari rumah kami ke bantaran sungai lumayan jauh, sekitar 50 meter," ujarnya.

Karena semua perabotannya hilang, bantuan-bantuan makanan yang kebanyakan masih mentah, seperti mi instan, masih ia biarkan dalam kantong keresek. "Mau masak pakai apa coba. Makan juga baru sekali waktu pagi saja," katanya.

Hal senada dikatakan Ade Nanah (40), tetangga Ela. Selain sudah tak lagi memiliki perabotan, janda beranak satu ini pun sudah tak memiliki uang sepeser pun. Uang terakhir yang ia miliki Rp 380 ribu hilang saat banjir menerjang.

"Asalnya uang itu untuk modal usaha. Sekarang modal sudah tak punya. Mau makan saja nunggu bantuan. Baju juga baru bisa ganti setelah ada yang ngasih," ujar Ade.

Meski begitu, Ela dan Nenah masih beruntung karena sepulang dari mengungsi, rumah mereka masih berada di tempatnya. Hal berbeda dialami Wiwi (50), warga Kampung Lapang Paris, Desa Sukajaya, Tarogong Kidul. Kemarin, rumahnya sudah rata dengan tanah.

Saat banjir menerjang, kata Wiwi, ia dan keluarganya tengah berkumpul. "Saya sempat terbawa arus, tapi bisa selamat setelah pegang pohon. Untung ketika itu bantuan bisa segera datang," kata Wiwi.

Air menerjang rumahnya hingga bagian genting. Semua anggota keluarganya juga selamat. "Kami hanya bingung ke mana harus pulang karena sudah tak memiliki tempat tinggal," ujarnya.

Tak hanya Wiwi, puluhan keluarga banjir bandang Selasa juga . . . (wij/cis)

Apa yang dilakukan warga korban banjir bandang di Garut pasca bencana? Bagaimana pula langkah aparat setempat? Baca selengkapnya di Tribun Jabar edisi cetak hari ini, Jumat (23/9/2016). Ikuti pula berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help