Cara ke Luar Negeri Selain Dapat Beasiswa

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara bisa keluar negeri tanpa harus dapat beasiswa

Cara ke Luar Negeri Selain Dapat Beasiswa
istimewa
Festival di luar negeri 

Pengalaman menimba ilmu ke luar negeri tentu merupakan pengalaman yang tak terlupakan bagi mahasiswa. Untuk bisa belajar di luar negeri dengan biaya minim, mahasiswa bisa meraih beasiswa studi atau beasiswa pertukaran pelajar.

Namun, ternyata beasiswa bukan satu-satunya jalan bagi mahasiswa untuk dapat menimba ilmu ke luar negeri. Dengan mengikuti konferensi internasional, kompetisi internasional, dan festival internasional, mahasiswa juga bisa ke luar negeri dengan biaya minim. Tentu saja masa kepergian tidak sepanjang jika kita belajar atau mengikuti pertukaran pelajar. Namun, tentu saja pengalaman yang didapat takkan terlupakan.

Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Gracia Adiati (21), mahasiswa Jurnalistik Annisa Winda (21), dan Mahasiswa Manajemen Komunikasi Razny Mahardika (21) bercerita tentang pengalaman mereka. Ketiga mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) ini memiliki pengalaman yang berbeda bertandang ke negeri orang bukan karena beasiswa.

Gracia mengikuti Rural Research and Planning Group (RRPG) pada 15-17 Agustus lalu di Singapura dan Malaysia. RRPG adalah ajang penelitian pengembangan pedesaan bagi mahasiswa. Sistem pelaksanaan RRPG adalah konferensi internasional dengan membahas hasil-hasil penelitian mahasiswa. Beberapa mahasiswa yang penelitiannya lolos seleksi harus mempresentasikan hasil penelitiannya pada konferensi itu, termasuk Gracia. Soal biaya mengikuti acara tersebut, Gracia mendapat bantuan dari pihak kampus meskipun tidak penuh.

“Waktu itu aku masuknya ke perencanaan dan pengembangan wilayah, karena aku ngambilnya yang rada-rada mirip sama komunikasi gitu kan. Terus sehabis presentasi ada diskusi, sekitar dua puluh orang peserta diskusinya,” ujar Grace dalam pesan suara yang dia kirimkan lewat line pada Jumat (9/9). “Aku neliti Kampung Kreatif Dago Pojok yang terkenal sama kesenian dan aktivitas kreatifnya,” lanjut Gracia.

Sementara itu, Winda mengikuti festival budaya Vistula Folk Festival di Plock, Polandia pada 23-28 Agustus. Acara yang diselenggarakan oleh International Council ofOrganizations of Folklore Festivals (CIOFF) dengan tujuan menciptakan perdamaian dunia lewat budaya. Winda mengikuti acara ini bersama empat belas mahasiswa lain bersama Pasir Putih Unpad.

“Kita ikut komunitas ini, terus kita dilatih tiga sampai empat bulan sebelum kita menjalankan misi budaya tersebut ke festival itu,” kata Winda menceritakan proses kepergiannya di Fikom Unpad pada Kamis (8/9). “Untuk tarian itu ada dua tim gitu, dan satu tim menarikan empat. Aku sendiri menarikan tarian Yapong, tari topeng, tipa, dan saman. Satu tim lagi menarikan greget jawara, enggang balian dari Kalimantan, sama saman.”

Dalam rangkaian Vistula Folk Festival, Winda dan tim memeroleh akomodasi dan transport lokal gratis dari CIOFF. Namun, biaya kepergian dari Indonesia ke Polandia ditanggung peserta. Sebetulnya pihak kampus menyediakan bantuan, peserta pun bisa mengajukan proposal sponsor ke perusahaan. Namun, kesibukan latihan persiapan tampil membuat Winda tidak sempat mengurus biaya tambahan.

Terakhir, Razny yang ditemui di lapangan basket Fikom Unpad pada Jumat (9/9). Bersama dua anggota tim lain, Ihza Muzakki (21) dan Khansaa Ziz Fathima (20), Razny pergi ke Busan, Korea Selatan pada 21-29 Agustus lalu. Mereka bertiga tergabung dalam tim Megamendung sebagai perwakilan Indonesia dalam final Busan International Advertising Festival (Adstar) kategori Young Stars. Young Stars sendiri merupakan kompetisi portofolio iklan tingkat internasional terbesar pertama di dunia bagi mahasiswa.

“Megamendung itu Jawa Barat, dan megamendung itu batik special yang memiliki tujuh tingkatan langit,” ujar Razny menceritakan timnya. “Di sana ada 38 tim, kira-kira ada delapan negara. Kebanyakan pesertanya dari Korea, mungkin karena tuan rumah kali, ya,” lanjutnya.

Soal biaya kepergian, Razny dan tim memeroleh bantuan dari kampus dan sponsor. Pihak penyelenggara kompetisi tidak menyediakan biaya apa pun, tetapi tentu saja menawarkan penyediaan akomodasi berbayar.

“Yang paling penting sih rasa ingin tahu. Cari tahu terus info-info apa pun, banyak banget cara ke luar negeri. Kalau emang pengen nggak dalam jangka waktu yang lama, mungkin bisa lewat lomba dan kalau bisa pendaftarannya gratis,” kata Razny, membagikan sedikit tips bagi mahasiswa yang ingin ikut kompetisi ke luar negeri. (tj3)

Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved