Cerpen Eko Triono

Ia Memutuskan untuk Melawan Raden

IA memutuskan untuk melawan Raden, justru ketika bulan memasuki fasenya yang paling gelap di Lembah Nilam, pedalaman Aceh Barat.

Ia Memutuskan untuk Melawan Raden
Ilustrasi Ia Memutuskan untuk Melawan Raden 

IA memutuskan untuk melawan Raden, justru ketika bulan memasuki fasenya yang paling gelap di Lembah Nilam, pedalaman Aceh Barat.

Ia, lelaki tua yang memakai tiga puluh dua gigi palsu setelah periksa ke dokter di Meulaboh, sore ini sedang meruncingi dua batang bambu sepanjang lembing. Ia menampilkan harga diri dalam kaus sewarna apel sisa gigitan dan sarung hitam yang disukai nyamuk.

Tetangganya lewat dari penyulingan nilam. Tanya dan curiga dia waktu dengar lelaki tua membaca surah al-Fatihah, meniup-niup ke air di gelas bening, kemudian membasuh- basuhkannya ke bambu runcing. Buat apa? Menusuk jantung Raden, kata lelaki tua.

Mustahil satu lawan satu. Bisa-bisa justru lelaki tua yang mati.

"Aku boleh saja tua, tapi Allah tidak pernah tua," kata lelaki tua.

Ia mengambil bambu runcing; menuliskan Ayat Kursi di tubuh bambu dengan ujung jari yang ia celup pada air sisa dalam gelas. Tentu, huruf-huruf Arab itu menguap cepat, menetes hilang. Tinggal hijau bambu yang berlugut, yang seakan bersiap bergelut dengan maut.

Tetangganya berkata agar dia berpikir tentang cucu dan istrinya.

Mereka sedang ke Bungotebo, Jambi, ke tempat keluarga di sana, kata lelaki tua. Jadi, lelaki tua merasa bebas melakukan yang dinginkan; bebas dari kecerewetan, dan pencegahan mereka.

"Tapi apa, ya, harus satu lawan satu, lelaki tua, apa harus begitu?"

Si tetangga mulai kesal, sebab kalau sampai nanti ada apa-apa dengan lelaki tua, tentu tetangga yang dipertanyakan.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved