Cerpen Sungging Raga

Dermaga Malaga, Sepanjang Angin Masih Berembus

Suara empasan ombak ke batang-batang kayu yang menghitam di bibir pantai, seperti suara yang datang dari masa lalu.

Dermaga Malaga, Sepanjang Angin Masih Berembus
Ilustrasi Dermaga Malaga, Sepanjang Angin Masih Berembus 

Di dermaga Malaga, Slania,
sepanjang angin masih berembus,
semestinya kita tak putus asa.

Suara empasan ombak ke batang-batang kayu yang menghitam di bibir pantai, seperti suara yang datang dari masa lalu. Sebuah pelabuhan yang letih, suatu sore. Beberapa kapal tengah bersandar, angin mengembus kencang dari arah laut, memulangkan kawanan burung camar. Dari Sevilla, Cordoba, sampai Granada, di manakah tempat untuk bangsa Mur yang terluka? Tatkala mereka dipukul mundur sampai ke Malaga, dipaksa kembali menyeberang ke Benua Afrika.

Sore itu adalah perpisahan, laut menyaksikan kepulangan yang besar. Sebuah akhir dari sejarah panjang bangsa Mur di Andalusia.

Dan di antara hiruk-pikuk itulah, tampak fragmen sepasang kekasih yang berpisah di hamparan cahaya matahari senja. Ketika kapal terakhir hampir berangkat, seorang gadis masih saja percaya tentang kepergian yang sementara.

"Apa kau benar-benar akan kembali?"

Slania, gadis berkulit putih salju dan bermata pualam, menyerahkan hatinya kepada Yazid ibnu Hadim, pemuda Mur yang dikenalnya pertama kali di Kedai Senja.

"Aku akan kembali, dan akan mencintaimu seperti seseorang yang tak pernah pergi."

Slania tersenyum. Adakah cinta yang tidak membuat seseorang pergi? Padahal semua ini cuma perkara kapan dan bagaimana mereka dipisahkan. Slania tak mengerti, tapi lelaki itu memeluknya. Sore yang terbaca. Sejarah belumlah kering ketika orang-orang mulai memenuhi dek kapal. Laki-laki dan perempuan, dewasa dan anak-anak. Ada yang tertatih dengan banyak bekas luka. Para lelaki yang diperban kepalanya, juga yang dipapah berjalannya. Di antara mereka mungkin ada Syeikh Hamid Benengeli yang pernah menceritakan kisah Don Quixote kepada Cervantes. Namun kini perang telah mengakhiri segala riwayat. Setelah benteng Al Hambra runtuh, bangsa Mur, bersama Sultan Boabdil, diusir oleh gabungan tentara Leon, Aragon, dan Castilla yang dipimpin oleh Raja Ferdinand II.

Berduyun-duyun manusia, anak-anak kecil yang digendong dan dituntun, menuju kapal. Para kuli terus menangkap buntalan barang-barang yang dilemparkan dari bawah.

"Cepatlah, sebelum mereka menghabisi sisa-sisa dari kita!" teriak seorang lelaki dari puncak tiang tertinggi kapal. Tak lama kemudian tali-tali dan jangkar mulai ditarik.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved