Cerpen Yetti AKA

Pintu

AKU memandang pintu dan yang kuingat pertama kali adalah Lilu.

Pintu
Ilustrasi Pintu 

AKU memandang pintu dan yang kuingat pertama kali adalah Lilu.

**

AKU pergi meninggalkan pintu itu tanggal 23 Maret, empat belas tahun lalu—dan barangkali, sejak itu, apa-apa yang ada di baliknya telah menjadi bubuk kayu. Suatu waktu, dan itu sudah lama sekali berlalu, aku senang bermain-main dengan bubuk kayu yang bentuknya kecil-kecil (tapi lebih besar dari butiran pasir) dan berwarna kecokelatan. Kubiarkan tubuhku telentang beberapa lama di balik pintu untuk menunggunya berjatuhan. Setelah banyak, aku memungutinya dan kuletakkan di rimbunan rambutku. Bubuk kayu itu hilang di antara helai-helai rambutku yang rapat dan kubayangkan satu hari kelak, serupa telur, bubuk kayu itu akan bermetamorfosis menjadi serangga. Hati-hati, bisa masuk matamu, kata pengasuhku yang bernama Lilu dan itu bukan nama sebenarnya. Aku senang membuat nama baru bagi orang-orang dalam hidupku. Nama yang benar-benar milikku dan hanya aku yang boleh memanggilnya begitu. Namun, satu hari, setiap orang pasti akan merasakan dikhianati. Itulah yang terjadi padaku. Orang-orang mulai ikut memanggil pengasuhku dengan nama Lilu karena mereka menyukai bunyinya. Alasan yang sederhana sekali. Dan menyebalkan (jika mengingatnya, aku ingin marah sekali lagi dan sekali lagi). Aku merajuk. Lilu membujukku dan memberiku kesempatan untuk membuat nama baru baginya. Aku tak pernah menemukan nama baru sampai aku tumbuh besar dan ia tetap bernama Lilu ketika meninggalkan rumah dan pergi dengan seorang pemuda yang sebenarnya tidak terlalu kusukai, tapi kupikir cukup baik hati. Kata Lilu, kau hanya tak menyukai pandangan matanya, bukan? Aku ragu apa memang bagian itu yang benar-benar tak kusukai, tapi demi menenangkan hati Lilu aku mengangguk saja sambil membayangkan sepasang mata lelaki itu sama dengan mata lainnya, jinak dan tak berbahaya. Paling tidak, dia bukan seekor ular, pikirku.

Ada seekor ular bersama anak-anaknya yang bersarang di rumah. Aku pernah melihatnya melata di antara kaki kursi, lalu sembunyi lagi di balik lemari. Kata ibuku, tak ada seekor ular pun di sini. Kata ayahku, apa Lilu sering bercerita tentang ular kepadamu dan kau mulai membayangkan ular itu di mana-mana? (Ayahku mencurigai Lilu karena perempuan itu berasal dari kampung yang dikelilingi hutan dengan ular-ular yang biasa masuk ke rumah untuk mencuri unggas dan orang-orang memburunya untuk dijual ke kota.) Mereka tidak pernah percaya kepadaku. Sampai satu hari kaki kiri kakakku yang paling tua digigit seekor ular dan dilarikan ke rumah sakit dan ayahku mengejar ular itu dan menembaknya dengan senapan burung yang biasa ia pakai berburu ke hutan di hari-hari senggang bersama teman-temannya dan pulang membawa sekantong burung kecil dengan bulu-bulunya yang basah oleh darah. Ular-ular lain ketakutan dan tak pernah muncul lagi setelah itu. Aku menduga mereka pindah ke rumah tetangga kami yang beternak burung puyuh sebab tak lama mulai muncul keluhan tentang peliharaan mereka yang hilang tiba-tiba, tapi mereka tidak tahu persis siapa yang mencurinya. Banyak anak-anak yang tumbuh nakal di sini, kata tetangga itu kepada Lilu yang sedang membersihkan bubuk kayu dari rambutku di teras depan. Lilu berbisik agar aku tak perlu bicara apa pun kepada tetangga itu. Dia memiliki penyakit asma, sambung Lilu, apa kau ingin melihatnya megap-megap di hadapanmu?

Apa semua ular jahat? tanyaku kepada Lilu sambil turut merasakan betapa menderitanya kakakku dan malangnya tetanggaku yang kehilangan burung-burungnya dan bisa sakit asma kalau kuceritakan tentang ular-ular. Aku memang hanya bisa membahas soal ular dengan Lilu. Terutama setelah kejadian kakakku yang hampir celaka itu. Ayah dan ibuku tak ingin aku menyebut kata "ular" di rumah. Kalau aku melakukannya, mereka berjanji akan mengurungku di kamar belakang yang telah lama kosong dan mungkin aku bisa mati ketakutan di sana.

Yang paling jahat itu ular di hati manusia, ujar Lilu. Kadang aku berpikir Lilu itu perempuan suci yang sengaja dikirim ke rumah untuk menyelamatkanku dari pengaruh seorang ayah yang pemarah dan suka berburu binatang tak berdosa dan ibu yang suka mengancam akan memberikan aku kepada bibi yang tidak memiliki seorang anak jika aku tidak menuruti kemauannya yang ditulis begitu panjang dalam buku harapan. Aku cepat melupakan soal ular-ular itu, sebab kata Lilu lebih baik tak usah menyimpan kejadian buruk terlalu lama.

Setiap melihat pintu, aku memang selalu teringat kepada Lilu. Terutama pintu yang lahir dari masa lalu. Maka, kupandangi lagi pintu lama-lama. Apa aku bisa berjalan lebih dekat ke sana dan segera membukanya? Adakah sesuatu yang menungguku di baliknya selain berbagai kenangan dan kejutan-kejutan kecil tentang waktu yang ternyata bisa memakan apa saja?

"Kau kembali?" Seorang perempuan menyembul dari sebuah jendela milik tetanggaku. Aku tak mengenalnya. Bisa jadi ia orang baru. Bisa jadi ia kerabat tetanggaku. Di sini, orang-orang sudah biasa datang dan pergi. Seperti keluarga besarku yang sudah lama sekali meninggalkan rumah ini karena satu alasan dan karena satu alasan juga aku datang lagi hari ini. Ya, aku ingin kembali. Bukan kembali kepada siapa atau orang tertentu, tapi kepada diri sendiri yang sebagian tertinggal di balik pintu itu. Lakukan apa yang ingin kaulakukan, kata Lilu setiap kali aku ragu. Itu awalnya aku mulai menyadari bahwa aku sudah sepantasnya menyukai Lilu. Ia tipikal orang yang tidak akan mundur oleh sedikit keraguan yang menghalangi keinginannya. Kau juga mesti belajar begitu, kata Lilu. Satu hari kau akan besar dan harus belajar memercayai dirimu. Tidak seorang pun yang tahu apa yang paling kauinginkan selain hatimu sendiri.

Lilu memang benar. Aku meraba dadaku. Kurasakan detaknya yang lebih keras dari biasa.

"Masuk saja. Pintu itu sudah lama menunggumu," kata perempuan itu lagi. Aku mengangguk sambil memperhatikan perempuan itu lebih jeli. Rambutnya sudah putih semua. Kulitnya cokelat tua. Tubuh sangat kurus. Mata itu, mata yang tak asing.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved