Success Story

Alis Tiorini, Belajar dari Kegagalan

SEMPAT gagal menjalankan usaha, Alis Tiorini tak putus asa begitu saja. Ia mencari bisnis lain untuk dijalani.

Alis Tiorini, Belajar dari Kegagalan
TRIBUN JABAR
Alis Tiorini

SEMPAT gagal menjalankan usaha, Alis Tiorini tak putus asa begitu saja. Ia mencari bisnis lain untuk dijalani. Agar lebih fokus, Alis pun memutuskan berhenti bekerja.

Tahun 2011, Alis membuka usaha pembuatan sepatu. Sambil bekerja di perusahaan properti, Alis menerima pesanan sepatu.

"Usaha ini cuma dua tahun. Mungkin karena kurang fokus dan pasarnya enggak dapet," kata Alis kepada Tribun, Selasa (9/8) siang.

Meski pernah merasakan gagal, Alis tak kapok. Tahun 2014, ia kembali memilih terjun ke dunia bisnis. Kali ini, Alis berbisnis pembuatan tas.

Ia mengatakan, bisnis harus terus dicoba. Jadi walau sempat tak berhasil, Alis tak putus asa begitu saja.

Apalagi, Alis menyukai desain. "Saya dulu kuliah di jurusan arsitek, jadi suka dan hobi desain. Kerja di developer kan lebih teknis, bisnis awalnya untuk menyalurkan hobi," ucap Alis.

Produk tas itu diberi merek Dinary. Ia membuat berbagai macam tas wanita dari bahan katun lokal dan impor, batik dan kulit impor serta lokal. Untuk memperluas pasar, Alis juga menerima pesanan tas.

Agar lebih fokus menjalankan usaha tas ini, Alis berhenti bekerja sejak bulan Februari tahun ini. "Sekarang saya total bisnis," ujar Alis.

Menggunakan bahan-bahan berkualitas dan berbagai macam motif, produk Dinary sukses menarik hati konsumen.

Semula, mereka hanya membuat dua sampai tiga tas per bulan. Kini, kapasitas produksi Dinary mencapai 80 hingga 100 tas per bulan. Dalam dua tahun ini, Dinary telah mengeluarkan lebih dari 50 model tas.

Halaman
12
Penulis: Taufik Ismail
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help