Success Story

Amelia Tasya Riyadi, Maksimalkan Potensi dan Jaringan Pertemanan

Kecintaan dan kepeduliannya terhadap lingkungan sejak kecil ternyata menjadi motivasi tersendiri baginya untuk menjadi duta wisata Kabupaten Bekasi.

Amelia Tasya Riyadi, Maksimalkan Potensi dan Jaringan Pertemanan
TRIBUN JABAR
Amelia Tasya Riyadi

KALAULAH boleh meminjam kata dari penulis buku Thomas Hardy, sepertinya sesuai dengan Amelia Tasya Riyadi (21). Kecintaan dan kepeduliannya terhadap lingkungan sejak kecil ternyata menjadi motivasi tersendiri baginya untuk menjadi duta wisata Kabupaten Bekasi sehingga bisa ikut serta secara langsung dalam upaya menjaga lingkungan dan kebudayaan Indonesia.

"Motivasi awal tertarik menjadi duta wisata ini sebenarnya sudah sejak dulu suka miris melihat orang yang tak mencintai lingkungan, apalagi buang sampah sembarangan. Akhirnya berpikir bagaimana cara untuk ikut bersuara dan ikut andil mengatasinya," kata Amelia, melalui sambungan telepon, Jumat (5/8).

Mahasiswi jurusan hukum Universitas Padjadjaran ini sudah hampir satu tahun mendapat tanggung jawab yang besar sebagai duta wisata Kabupaten Bekasi setelah berhasil menjadi juara satu pada pemilihan Abang dan Mpok Bekasi pada Sepertember tahun lalu. Sekarang ia sedang mempersiapkan diri karena menjadi wakil dari Kabupaten Bekasi di Ajang Mojang Jajaka Jawa Barat pada November mendatang.

Tak sedikit tugas yang harus diembannya hingga sekarang. Salah satu yang paling penting menurut dia adalah menjaga dan menyebarkan budaya dan wisata, khususnya di Kabupaten Bekasi. Menurut Amelia, tak jarang ia ikut mengampanyekan untuk menjaga lingkungan dan budaya ini hingga ke luar Pulau Jawa.

"Aku pernah sampai ke Manado. Saat itu pemerintah Kota Manado mengadakan acara tahunan pameran budaya dan wisata. Kebetulan aku jadi pembuka acara dengan membawakan tari Ronggeng Blantek seorang diri," ujarnya.

Perempuan yang pernah menyabet penghargaan sebagai Jaksa Penuntut Umum terbaik di Moot Court Competition 2015 ini mengungkapkan, sebelum terpilih menjadi Mpok Kabupaten Bekasi, dia tak memiliki kemampuan menari sama sekali. Akan tetapi, setelah itu dia belajar dengan giat karena itu merupakan salah satu hal yang harus dia kuasai dan merupakan bagian untuk melestarikan budaya yang ada. Pementasan tari ronggeng di Medan pun merupakan pengalaman paling mengesankan baginya.

"Pada saat menari Ronggeng Blantek di Medan, itu adalah momen yang gak bisa dilupakan. Aku menari sendirian dan disaksikan oleh banyak orang penting," ujar Amelia.

Banyak hal yang didapat Amelia selama menjadi duta wisata. Hal yang paling dia rasakan adalah mempunyai banyak teman dam relasi yang tentu saja memudahkan Amelia ke depannya. Selain itu, dia banyak mendapat kesempatan bertemu dengan orang-orang penting yang sulit ditemui oleh orang seusianya.

"Aku dulu pernah berkunjung ke sebuah sekolah di Muara Gembong. Tempat dan orang di sana masih kental dengan nuansa tradisionalnya. Aku disambut udah kaya pejabat di sana," katanya.

Namun ternyata di balik semua itu, bukan hal mudah untuk mendapatkan posisinya sekarang. Pada saat proses pemilihannya dulu, ia harus mengalahkan hampir 800 peserta. Selain itu, untuk menjadi duta wisata terdapat beberapa keterampilan yang harus dikuasai, seperti kemampuan public speaking, menari, nyanyi, hingga menjadi master of ceremony.

"Waktu itu yang daftar untuk jadi Abang dan Mpok Kabupaten Bekasi total 800 orang, dan yang lolos jadi finalis hanya 40 orang," kata Amelia.

Menariknya, selain menjadi duta wisata dan mahasiswa aktif, dia juga sudah mulai merambah ke dunia usaha. Amelia saat ini sudah membuka usaha barunya, yaitu coffee shop yang diberi nama Sunnyside Coffe, yang dirintis bersama temannya di wilayah Antapani, Bandung.

"Awalnya terpikirkan untuk buka usaha coffee shop ini karena aku suka masak dan kebetulan teman aku suka kopi. Jadi kami putuskan untuk buka usaha ini," kata Amelia.

Uniknya, sebagian besar pegawai yang ada di coffee shop miliknya adalah mahasiswa. Hal ini menurutnya agar usahanya berkah juga bagi orang lain khususnya bagi mahasiswa yang sedang membutuhkan uang tambahan. Tak tanggung-tanggung omzet yang dihasilkan dari coffee shop ini per bulan bisa mencapai Rp 40 juta.

"Sebagian besar memang pegawai di Sunny Side ini mahasiswa. Itung-itung memberikan rezeki juga kepada orang lain khususnya mahasiswa yang membutuhkan uang jajan tambahan. Berkah juga buat orang lain," katanya. (tj5)

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help