Cerpen Otang K Baddy

Sebuah Nama

LELAKI itu seperti bekerja berat, semisal tengah memecah batu kali. Keringatnya bercucuran.

Sebuah Nama
Ilustrasi Sebuah Nama 

LELAKI itu seperti bekerja berat, semisal tengah memecah batu kali. Keringatnya bercucuran. Padahal apa yang tengah dilakukanya itu disebut pekerjaan biasa pun kurang pas. Apalagi jika harus memerlukan tenaga ekstra kuat. Tak perlu sampai harus bercucur keringat. Secara umum kesannya santai, cuma menulis nama. Nama sendiri. Tapi setelah lebih dua jam ia tak juga mampu menuliskan namanya itu. "Aneh," desisnya. Rasanya ia belum pikun. Uban saja belum terlalu menyembul. Gigi masih utuh kendati bentuknya agak memanjang, ujung-ujungnya meruncing seperti gigi tikus. Begitu pun soal usia, baru menjelang kepala enam. Jadi, tak sepatutnya pikun. Tapi kenapa hanya untuk sekadar menulis namanya sendiri ia tak becus?

"Bagaimana sudah, Pak?" tanya lelaki yang terduduk di balik meja depan lelaki itu.

"Maaf, sedikit ada yang keliru,'' lelaki itu segera mengambil karet penghapus. Kemudian ia tulis kembali namanya. Malah untuk yang ini sengaja ditulisnya dengan pelan dan teliti. Seraya mata mengeja, rangkaian huruf demi huruf ditulisnya dengan apik. Tapi ketika selesai ditulis yang muncul di blanko itu bukan namanya. Yang muncul malah kata "Penjilat".

Bah, sepertinya ada yang tidak beres, keluh batinnya payah. Keringat dingin tak hentinya membasahi tubuh serta merembes ke bajunya yang putih. Bahkan pakaian yang pernah jadi kesukaannya itu saking basahnya terkesan seperti kumal.

"Bagaimana Pak, sudah?" lelaki tadi kembali bertanya.

"Waduh, ada sedikit huruf tertukar."

"Oh iya, tak apa. Tenang saja, mungkin prinsip Bapak tak grasa-grusu. Alon-alon asal kelakon. Memang nulis nama harus benar, tertukar atau salah sedikit bisa fatal akibatnya. Misal ingin menulis nama Toto, tapi yang tertulis jadi Tato. Atau hendak menulis nama Yadi ditulisnya Yanti, ini pun nanti malah dikira wanita, ha-ha!" lelaki petugas kantor itu mencoba berkelakar.

Berkelakar? Auw, itu cuma dalam batas penyampaian kata semata. Kalau saja punya hati, mestinya ia mau koreksi diri. Terlebih tentang kesalahan menulis nama atau angka-angka sebelumnya saat ia pernah bekerja di suatu intansi. Terlebih saat memanipulasi data sumbangan untuk rakyat miskin, program BLT, bantuan rumah, hingga masalah raskin. Kendati tak sampai miliar, dari program BLT saja ia telah meraup "laba hitam" menggiurkan dengan cara titip banyak nama. Semisal nama-nama yang tak layak dapat sumbangan ia masukkan dengan sistem bagi 50 persen. Juga dari beberapa material atas bantuan rumah serta penerima raskin yang datanya ia gelembungkan. Nulis nama-nama, mengutak-katik angka, rumus gelembung ke atas gembos ke bawah, telah mewarnai kepiawaiannya yang seakan dinamis. Tapi kini ia tak ubahnya lebih bodoh dari anak TK. Untuk sekedar menulis satu nama, yakni namanya sendiri, benar-benar tak bisa.

Waktu sudah hampir tiga jam, mungkin tinggal beberapa menit lagi waktunya habis. Tapi lelaki itu belum juga mampu menulis namanya. Berkali-kali ia gagal. Setiap hendak menuliskan namanya yang benar sesuai dengan yang tertera di KTP, tapi selalu muncul nama "Penjilat". Kalau begini, apakah aku benar-benar telah gila? pekiknya resah.

Kendati begitu, ia masih yakin, bahkan seyakin-yakinnya, bahwa ia bukan seekor binatang seperti tikus atau anjing. Fakta itu telah ia buktikan saat paginya mematut wajah di cermin. Ia benar- benar manusia pada umumnya. Jadi, tidak seperti hewan pengerat atau penjilat. Bahkan dari segi tampilan terbilang rapi serta jauh dari kesan orang jahat. Sebagaimana umumnya hidup dengan agama yang mayoritas, ia pun tak ketinggalan telah melaksanakan ibadah haji ke tanah suci. Jadi, mau apa lagi? Bukankah semua jelaga hidup telah terbungkus rapi?

Halaman
12
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved