Cerpen Risda Nur Widia

Berburu Tuhan

SELAMA seribu tahun ratusan pemburu itu melangkah; menyisiri setiap kota, negeri, hingga ceruk bumi paling terpencil.

Berburu Tuhan
Ilustrasi Berburu Tuhan 

SELAMA seribu tahun ratusan pemburu itu melangkah; menyisiri setiap kota, negeri, hingga ceruk bumi paling terpencil. Mereka mendatangi tempat-tempat dengan satu harapan yang terjaga; sebuah impian yang tidak boleh pupus. Mereka terus menghidupkan semangat dengan berbagai cara. Termasuk dengan dongeng atau cerita-cerita yang mereka sumpalkan ke telinga anak-cucu. Kisah-kisah penuh petuah atas kemenangan sebagai seorang pemburu terus mereka sodorkan agar semangat tak luntur dalam perjalanan panjang—selama seribu tahun—mencari buruan yang selalu gagal ditangkap.

Perjalanan yang mereka lakukan ini memang menguras tenaga. Namun mereka adalah pemburu andal. Tidak ada satu pun hewan yang dapat lolos dari tangkapan. Hewan paling buas semua tunduk di bawah kaki mereka. Dan karena begitu andalnya sebagai seorang pemburu, mereka merasa sampai tidak ada lagi yang dapat membendung keinginan mereka menjadi seorang penguasa di bumi. Namun seluruh kejayaan di masa lalu itu hanyalah melankoli. Kini para pemburu merasa dirinya hampir gagal.

Memang kebahagian sebagai seorang penguasa dunia bagi mereka belum lengkap sebelum menuntasakan hasrat untuk membunuh buruan itu. Dalam waktu demikian panjang—seribu tahun—mereka menjadi gelandang yang kesepian. Mereka hidup dalam relung sunyi pencarian. Mereka tersesaat pada nafsu dan obsesi yang tak masuk akal: berburu keabadian.

**

KISAH ini dimulai seribu tahun lalu dengan keserakahan. Juga tentang obsesi untuk memburu kemustahilan. Mereka adalah para pemburu terkuat dan tamak. Begitu kuat dan tamaknya sampai tidak ada lagi yang dapat mereka buru. Semua makhluk takluk di hadapan mereka. Tidak ada lawan yang sepadan dengan mereka. Hewan paling kuat, seperti singa, buaya, badak, hingga kudanil, tidak dapat membendung kekuatan mereka sebagai pemburu. Bahkan bila dibandingkan dengan mahkluk kecil, macam katak, kelinci, burung, kadal, atau kecoa; hanya mencium aroma tubuh mereka, hewan-hewan itu sudah lari atau mati di tempat: ketakutan.

Akan tetapi, hidup di atas rantai kekuasaan yang tertinggi tidak selamanya menyenangkan. Hidup menjadi hampa ketika segalanya dapat diraih dan ditaklukkan. Hidup menjadi sunyi tanpa hasrat. Dan demikian yang terjadi. Hidup mereka menjadi monoton dan membosankan karena segala bisa ditaklukkan. Menanggulangi hal itu, sebisa mungkin mereka terus mengusahakan agar garis keturuan andal sebagai pemburu tidak luntur. Tidak tergoyahkan. Dan kehormatan seorang pemburu adalah berburu.

"Tidak ada lagi yang bisa kita buru, Bapa," seorang perdana menteri mengeluh. "Semuanya sudah kita taklukkan!"

"Lantas sekarang bagaimana kondisi kelompok kita?"

"Mereka semua terlihat pucat dan lesi. Banyak yang sakit karena sudah lama tidak membunuh, Bapa!"

"Kita harus mencari solusi!" Sang Raja tertegun. "Kumpulkan semua perdana menteri dan kita adakan rapat!"

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved