TribunJabar/

Hari Pertama Sekolah

Asep Warlan : Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah Bukan Hanya Sampai Gerbang

“Ada tiga hal yang harus dilakukan pada hari pertama mengantar ini,” kata Asep.

Asep Warlan : Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah Bukan Hanya Sampai Gerbang
DOKUMENTASI/TRIBUN JABAR
ILUSTRASI: HARI PERTAMA -- Sejumlah siswa keas 1 bernyanyi bersama saat masuk sekoilah hari pertama di SDN Rancamanyar III, Jalan Cilebak, Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Senin (14/7/2014). (FOTO: TRIBUN JABAR / GANI KURNIAWAN) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar Teuku Muh Guci S

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID – Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi menerbitkan surat edaran tentang izin bagi pegawa negeri sipil (PNS) untuk mengantar anaknya di hari pertama sekolah. Surat edaran itu menindaklanjuti surat edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang meminta orang tua mengantar anaknya di hari pertama sekolah.

Pengamat Hukum dan Tata Negara Universitas Parahyangan (Unpar), Asep Warlan, menilai positif adanya kedua surat edaran tersebut. Menurutnya, surat edaran tentang orang tua mengantar anak di hari pertama sekolah itu memberikan dampak psikologis yang baik untuk anak didik yang baru saja masuk ke lingkungan baru.

“Secara psikologis anak itu sering takut-takut kalau hari pertama sekolah karena masuk ke suasana baru. Suasana baru itu belum tentu nyaman bagi setiap anak didik,” kata Asep kepada Tribun di Jalan Taman Sari, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Jumat (15/7/2016).

Kendati begitu, Asep menyebut, pengertian mengantar anak di hari pertama itu jangan diartikan hanya mengantar sampai depan gerbang sekolah. Menurutnya, orang tua juga harus melakukan interaksi kepada gurunya ketika mengantar anak di hari pertama sekolah.

“Ada tiga hal yang harus dilakukan pada hari pertama mengantar ini,” kata Asep.

Pertama, kata Asep, orang tua harus membangun komitmen dengan sekolah mengenai tanggungjawab pendidikan terhadap anak. Kedua, lanjutnya, orang tua dan sekolah harus bekerjasama untuk membangun orientasi yang jelas terhadap pendidikan anak. Sebab masing-masing memiliki tanggungjawab terhadap pendidikan anak.

Terakhir, kata dia, orang tua dan sekolah harus ada menerima konsekuensi ketika anak mengikuti pendidikan di sekolah. Konsekuensi bagi orang tua itu tidak hanya soal biaya, melainkan juga membantu sekolah untuk mendidik anaknya.

“Jadi orang tua tidak hanya menitipkan anaknya saja untuk belajar di sekolah. Sebab anak didik itu lebih banyak waktunya di rumah dan lingkungan ketimbang di sekolah,” kata Asep. (cis)

Penulis: cis
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help