TribunJabar/
Home »

Opini

» Podium

Opini

Kunci Sukses Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak

TIDAK ada orang lain yang lebih baik untuk dijadikan tempat "curhat" bagi orang tua terkait perkembangan pendidikan anaknya, kecuali kepada guru

Kunci Sukses Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak
DOKUMENTASI/TRIBUN JABAR
Dedy Herdiana, Wartawan Tribun Jabar. 

Oleh: Dedy Herdiana, Wartawan Tribun Jabar

TRIBUNJABAR.CO.ID --- "Ki Hajar Dewantara sejak 1935 telah mengingatkan bahwa keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat merupakan tri sentra pendidikan. Kemitraan yang baik di antara ketiganya yang dilandasi semangat gotong royong diharapkan dapat mendukung terciptanya ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi," demikian dikatakan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Ir Harris Iskandar PhD dalam sambutannya pada buku Petunjuk Teknis Penguatan Kemitraan Keluarga, Satuan Pendidikan, dan Masyarakat di Sekolah Dasar.

Kemitraan yang baik dalam tri sentra pendidikan tersebut jelas sangat dibutuhkan demi suksenya penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak. Terlebih di era informasi yang sudah tanpa sekat ini, semua informasi mudah diakses melalui jaringan internet, setiap orang tua tentu sudah memiliki caranya sendiri untuk menjaga anaknya agar tidak mengakses informasi yang negatif. Namun semua itu tidak akan maksimal dalam memantau perkembangan pendidikan anak, jika hubungan komunikasi antara orang tua dan sekolah tidak kuat.

Untuk menguatkan kemitraan tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membentuk Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga dibawah Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Direktur Pembinaan Pembinaan Keluarga, Dr Sukiman MPd pada buku tersebut di atas mengatakan kerjasama dan keselarasan antara pendidikan yang dilakukan di satuan pendidikan dan lingkungan keluarga merupakan kunci keberhasilan pendidikan anak-anak mereka. Keberhasilan akan semakin tinggi apabila terjalin pula kemitraan antara sekolah dengan unsur masyarakat pendukung pendidikan seperti komite sekolah, paguyuban orang tua, organisasi profesi pendidik/tenaga kependidikan, dan dewan pendidikan. Keterlibatan ketiga unsur ini diharapkan dapat dimotori oleh penyelenggara satuan pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA/K, dan satuan PNF.

Namun, apakah pesan yang dicetuskan sang Pahlawan Nasional tersebut di atas yang juga dikuatkan dengan peraturan menteri itu akan benar-benar tercapai? Sang pahlawan pendidikan Ki Hajar Dewantara pun seandainya masih hidup pasti akan bersedih, jika melihat pesannya itu hanya jadi sebuah jargon belaka.

Apalagi komite sekolah dan paguyuban orang tua, belakangan ini masih terdengar banyak orang tua yang memutuskan untuk tidak mengaktifkan peran orang tua di sekolah dengan beberapa alasan. Terlebih muncul penilaian semakin dilibatkan, orang tua semakin mengatur sistem kebijakan sekolah dan menjauhkan orang tua yang tidak aktif dengan sekolah. Ada juga yang menimbulkan kekecewaan orang tua yang tidak aktif terhadap keberadaan perkumpulan orang tua karena dianggap ‘menggeser’ visi sekolah. Sementara bagi orang tua yang tergabung dalam paguyuban tersebut sebenarnya hanya ingin berbuat sesuatu untuk sekolah.

Tak bisa dipungkiri, terkadang ada sekolah yang menjadikan perkumpulan orang tua atau POMG (Perkumpulan Orang Tua Murid dan Guru) atau paguyuban orang tua sebagai corong atau ‘bamper’ atas keputusan-keputusannya. Paguyuban orang tua pun yang seharusnya menjadi kepanjangan tangan orang tua lainnya, terkadang ada yang kebablasan menjadi tangan kanan staf sekolahnya. Bahkan ada yang menganggap komite sekolah hanya sebagai stempel untuk pengajuan dan persetujuan anggaran dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Ini jelas akan berdampak buruk dan melenceng jauh dari asa Ki Hajar Dewantara. Maka wajar, jika beberapa waktu lalu sempat terjadi upaya menonaktifkan PMOG di sejumlah sekolah.

Kini, sebaiknya segara diaktifkan kembali dengan semangat dan visi yang benar-benar murni demi perkembangan pendidikan anak yang positif. PMOG diperlukan untuk membentuk kerja sama yang baik, lingkungan yang baik, saling mendukung, serta penting bagi perkembangan anak. Jauhkan niat negatif seperti aktif di POMG agar bisa dekat dengan guru sebagai jalan untuk mengubah kebijakan nilai sang guru atas anak didiknya. Jauhkan pula tujuan aktif di PMOG atau paguyuban untuk mengenal lebih dekat dengan guru agar bisa menjadikan anaknya selalu mendapat nilai tinggi. Jika ini masih terjadi, jelas budaya nepotisme yang akhirnya menjalar pada kolusi dan korupsi secara tidak sadar tengah dibangkitkan kembali dan semakin menjauh pula dari cita-cita reformasi.

Orang tua harus bersikap sesuai dengan porsinya dan guru pun harus tetap profesional. Orang tua yang aktif di kepengurusan PMOG jangan pernah beranggapan bahwa orang tua yang tidak aktif itu tidak peduli akan kemajuan pendidikan di sekolahnya. Begitu pun orang tua yang belum aktif jangan beranggapan PMOG hanya akan menguntungkan para pengurusnya. Agar kedua pihak orang tua ini tidak ada jarak dibutuhkan peran guru yang benar-benar profesional dalam memberikan pendidikan kepada semua anak didiknya. Sebetulnya, tidak ada orang lain yang lebih baik untuk dijadikan tempat "curhat" (mencurahkan hati) bagi orang tua terkait perkembangan pendidikan anaknya, kecuali kepada guru yang mendidik anaknya di sekolah. Setiap pengurus PMOG pun harus mampu merangkul dan mengayomi semua orang tua murid tanpa pandang bulu dan perbedaan strata ekonomi.

Halaman
12
Penulis: Dedy Herdiana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help