Cerpen N Mursidi

Aroma Kematian

TEPAT tengah malam, Ustaz Ma'ruf terbangun. Samar-samar, dia merasakan tanah di bawah ranjang seperti retak, seakan bumi diguncang gempa.

Aroma Kematian
Ilustrasi Cerpen Aroma Kematian 

TEPAT tengah malam, Ustaz Ma'ruf terbangun. Samar-samar, dia merasakan tanah di bawah ranjang seperti retak, seakan bumi diguncang gempa. Keringat membasahi dahi dan punggungnya. Apalagi, setelah dia mendengar suara aneh yang tiba-tiba menelusup telinga. Suara ganjil yang terdengar seperti tubrukan dua benda asing yang beradu dan menimbulkan suasana mencekam dan menakutkan.

Sudah terbiasa Ustaz Ma'ruf bangun tengah malam untuk menunaikan salat Tahajud di musala, di sebelah rumahnya, lalu membaca Al-Quran sekitar satu juz. Tapi malam itu, dia merasakan suasana lain, seolah-olah berada di sebuah tempat sempit yang membuatnya sesak napas, tapi dia sadar bahwa dia tidak sedang bermimpi.

Dia turun dari ranjang, bersijingkat menuju jendela. Dari balik gorden, dia mengintip ke arah musala. Berkali-kali, dia memicingkan mata, hampir tak percaya. Keranda di samping musala bergoyang seakan minta diturunkan dari tempatnya. Tak jauh dari tempat keranda itu, kayu pemukul beduk berdiri di atas lantai seperti menari-nari. Sesekali, menimbulkan suara ganjil akibat beradu dengan lantai. Belum pupus keheranan Ustaz Ma'ruf dengan apa yang dia lihat, hidungnya mencium bau aneh yang menguar dari keranda seperti bau bangkai.

Ustaz Ma'ruf menutup hidung, tak kuat menahan bau busuk yang menguar ke segala penjuru. Kira-kira semenit. Lalu keranda itu tak bergoyang. Kayu pemukul beduk tak bergerak. Perlahan aroma tak sedap pun hilang. Ustaz Ma'ruf tercenung, berdiri kaku di balik jendela, tapi tak memiliki firasat apa pun tentang kejadian itu.

Dan malam itu, Ustaz Ma'ruf tak jadi menunaikan salat Tahajud. Dia masuk ke kamar, menarik selimut, kembali tidur.

**

MENJELANG Subuh, Ustaz Ma'ruf masih meringkuk, berselimutkan sarung.

Maimunah heran. Tak pernah ia bangun pada sepertiga malam menjumpai suaminya masih tidur seperti pagi itu. Ia memegang kening suaminya. Dugaannya tidak salah, suaminya sakit. Keningnya panas. Ia enggan membangunkan lelaki yang telah mendampinginya selama lima tahun itu.

Tapi menjelang Subuh, ia mendengar pintu rumahnya diketuk. Setelah membuka pintu, ia menjumpai Saripah berdiri di depan pintu dengan napas tersengal.

"Lelaki saya...," ujar Saripah seperti berat melanjutkan sepatah kalimat yang mengganjal di tenggorokan. Ada sesuatu yang berat untuk dikatakan. "Suami saya... sakaratul maut. Saya ke sini untuk meminta tolong Ustaz datang ke rumah agar mau membimbing suami saya sebelum ajal menjemput."

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved